Bobby Nasution Vs Akhyar Nasution, Djarot: PDIP Tutup Pintu Dengan PKS dan Demokrat

Teka teki mengenai rekomendasi PDIP untuk calon orang nomor wahid di Kota Medan, mulai terkuak. Dua nama yang selama ini digadang-gadang akan diusung partai banteng mocong putih di untuk kursi calon wali kota Medan, adalah petahana Akhyar Nasution atau Bobby Nasution, menantu Presiden Jokowi.

Ketua DPP PDIP Djarot Saiful Hidayat menjelaskan, partainya tidak berkoalisi dengan Partai Demokrat dan PKS untuk kontestasi pilkada ke depan. Djarot menjelaskan, pihaknya kerap mendengar dari grass root yang selalu mengkritisi sikap kedua partai tersebut.

Menurut Djarot, akar rumput partai selalu melakukan kritik terhadap PKS dan Demokrat yang dinilai berlawanan dengan Pemerintahan Joko Widodo (Jokowi). “Aspirasi untuk tidak bekerja sama dengan Partai Demokrat dan PKS juga banyak saya terima. Hal tersebut juga positif. Dengan kebersamaan antara Demokrat dan PKS yang berada di luar pemerintahan, sehat bagi demokrasi,” ujarnya.

Dijelaskannya, dalam mengusung calon kepala daerah termasuk Gibran dan Bobby Nasution, PDIP mengambil keputusan atas dasar pertimbangan ideologis. “Utamanya bagaimana Pancasila dijalankan dalam seluruh aspek kehidupan berbangsa dan bernegara,” jelasnya.

Djarot menjelaskan, PDIP selalu mendorong kerjasama politik dengan seluruh partai pengusung pemerintahan Jokowi. Kerjasama parpol dalam pilkada, kata dia, merupakan embrio kerjasama Pemilu 2024 yang akan datang. “PDI Perjuangan sendiri memilih terus mengedepankan semangat gotong royong dan siap bekerja sama dengan parpol pendukung Pemerintah,” ujarnya.

Seperti diketahui, di Solo, kandidat yang diusung PDIP dan koalisinya adalah Gibran-Teguh, sementara PKS dan Demokrat tak ada sebagai pengusung.

Di kota Medan, kedua partai itu memberikan sinyal dukungan kepada petahana yang juga kader PDIP Akhyar Nasution, bertarung dengan Bobby Nasution. Diketahui, Akhyar Nasution sambangi Kantor Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Sumatera Utara, di Jalan Kenanga Raya, Kota Medan, Selasa (14/7/2020).

Kunjungan itu dilakukan Akhyar jelang pengumuman nama-nama calon kepala daerah yang diusung oleh PDI-Perjuangan, Akhyar mengatakan, sudah menjalani komunikasi yang lama dengan PKS untuk bersama-sama maju dalam Pilkada Medan.

“Saya datang tidak pada detik-detik terakhir pengumuman 15 nama, komunikasi sudah panjang dan lama,” kata dia, usai rapat dengan pengurus DPW PKS.

Ia mengatakan, sejauh ini dirinya memiliki kesepahaman dengan PKS untuk membenahi kota Medan dalam pilkada Desember mendatang. “Silaturahmi, terjadi kesepahaman bersama menghadapi kota Medan bersama. Dan kita akan jalan bersama-sama,” katanya.

Hingga saat ini, Akhyar tidak mengetahui apakah akan dipasangkan dengan siapa untuk maju pada pilkada Medan. Sebab, PKS sebelumnya mendeklarasikan Salman Alfarisi untuk maju sebagai calon Wali Kota Medan.

Menurutnya, hal terpenting yang perlu dibangun pada tahap awal adalah kesepahaman. Masalah siapa pasangannya nanti dapat diumumkan.

“Mengenai siapa orangnya nanti itu akan diumumkan, yang penting kesepahaman sudah terbangun,” jelasnya.

Demokrat Dukung Akhyar

Sementara itu, Partai Demokrat diketahui memberi sinyal kuat mendukung Akhyar Nasution.

Bahkan, Akhyar Nasution sempat dirumorkan pindah ke Partai Demokrat. Hal ini santer dikabarkan karena beredar foto dirinya bersama petinggi partai Demokrat di Jakarta. Dalam foto tersebut, Akhyar dikabarkan menerima surat tugas dari petinggi Demokrat. Menanggapi hal ini, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD Partai Partai Demokrat Sumut, Herri Zulkarnain mengatakan, menjelaskan kehadiran Akhyar ke DPP Partai Demokrat di Jakarta, Kamis (11/6/2020) )lalu untuk menerima surat dukungan.

“Jadi sebenernya foto itu untuk memberikan dukungan kepada Akhyar untuk maju Pilkada Medan. Kita mendukung Akhyar menjadi calon Wali Kota Medan, bukan sebagai kader,” katanya saat dikonfirmasi, Selasa (16/6/2020).

Herri mengatakan, Partai Demokrat menyerahkan keputusan mengenai pendamping kepada Akhyar.

“Jadi kita mendukung Akhyar menjadi calon Wali Kota Medan dan kami serahkan dukungannya dan kita serahkan kepada beliau untuk mencari pendampingnya,” ucapnya.

Diakui Herri, dengan 4 kursi Partai Demokrat belum bisa mengusung pasangan calon sendiri. Harus berkoalisi dengan partai lain.

“Kita kan masih kurang, tinggal nyari 6 kursi lagi. Beliau (Akhyar) harus cari koalisi lain. kita serahkan sama beliau. Soal batas waktunya, kita berikan sampai dia dapat, itu kemudahan yang diberikan Demokrat,” katanya.

Ia pun membantah kabar yang mengatakan Akhyar meninggalkan PDIP dan pindah ke Partai Demokrat.

Herri menjelaskan, alasan Partai Demokrat mendukung Akhyar karena elektabilitas Akhyar cukup tinggi dan bersih.

“Dia itu orangnya sederhana dan juga pekerja keras. Di samping itu, ya dia juga sampai saat ini masih bersih, elektabilitasnya juga cukup tinggi. Sehingga Demokrat melihat dia sebagai sosok yang tepat untuk menjadi Wali Kota Medan,” pungkasnya.

Yuanita R Silalahi
%d blogger menyukai ini: