Dari Miangas Sampai Pulau Rote…”

Kalau tak tahu letak geografisnya, setidaknya orang pasti tahu ada sebuah pulau di Nusantara bernama Miangas. Bagaimana tidak, nama pulau itu bahkan dimuat dalam jingle produk mi instan terkemuka di Indonesia, terlebih lagi slogan-slogan persatuan bangsa. Ya, Miangas adalah pulau di ujung utara wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, titik terdepan di perbatasan dengan Filipina.

Sekalipun letaknya di perbatasan, jangan kira Miangas dipenuhi personel militer dan alutsistanya. Pulau berbukit seluas 3,2 kilometer persegi, sedikit lebih kecil dari Kelurahan Penjaringan di Jakarta Utara, ini adalah sebuah desa sekaligus kecamatan khusus. Namun, penduduk pulau di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, ini hanya sekitar 800 jiwa, jauh dari jumlah penduduk Penjaringan yang sampai 105.000 jiwa.

Perkampungan warga yang terdiri atas tiga lorong terletak di sisi selatan pulau. Jumlah rumah pun hanya ratusan. Adapun Bandara Miangas telah dibangun di sisi barat laut pulau. Selain dua wilayah itu, daratan Miangas menjadi belantara pohon kelapa dan pepohonan ataupun tumbuhan lain.

Sama halnya dengan Penjaringan di pesisir Jakarta, penduduk Desa Miangas juga mengandalkan kekayaan laut untuk menyambung kehidupan mereka hari demi hari. Sebagian warga Miangas adalah nelayan.

Ada warga yang lebih suka mencari ikan dengan jaring di dekat pantai. Namun, ikan yang besar seperti cakalang hanya ada di laut dalam. Sebagian besar nelayan pun memilih pergi ke tengah laut demi mengail rezeki. Mereka mengandalkan perahu kayu yang bercadik atau lebih dikenal sebagai pumpboat.

”Paling jauh mungkin hanya 1-2 mil laut. Perahu kami ada mesinnya, ada yang pakai bensin, ada yang pakai solar,” kata Irwan Mamoga (39), salah seorang nelayan.

Nelayan biasa berangkat pagi hari saat matahari telah bersinar. Arus yang kuat dan gelombang yang tinggi bukanlah halangan, kecuali saat musim angin barat yang terkenal ganas. Laut yang bergejolak dianggap wajar mengingat Miangas hanyalah sebuah titik daratan di tengah Laut Mindanao, Samudra Pasifik, dan perairan Sulawesi.

Nelayan akan diantar kerabat atau temannya saat hendak melaut di sisi selatan pulau. Mereka akan membantu menurunkan perahu dari atas talut yang menjadi batas antara laut dan daratan pulau, kemudian mendorong perahu hingga mengapung di atas air. Dan, para nelayan semakin jauh, diiringi lambai tangan pengantar, sebelum mereka kembali ke rumah, menunggu kembalinya para pencari ikan.

Dermaga di sisi selatan pulau pun akan menjadi sangat sepi sepanjang siang. Kehidupan di lini yang lain juga berlanjut, mulai dari niaga, pendidikan, hingga berkebun.

Beberapa warga membuka toko kelontong di rumah masing-masing. Bahan dagangannya pun sama seperti swalayan di kota-kota besar, mulai dari biskuit, kue, sabun, detergen, beras, hingga pakaian.

Rose Passe (64), salah satu pemilik toko kelontong, telah mendatangkan beragam komoditas dari Bitung untuk dijual kepada warga. Semua barang didatangkan dengan kapal perintis, yaitu Sabuk Nusantara 69, 70, dan 95, yang menghubungkan Bitung dan Miangas.

Sebagian bahan makanan bisa didapatkan secara cuma-cuma. Sebagai pengganti beras, warga bisa mengambil sejenis talas yang disebut laluga. Tanaman umbi ini tumbuh liar di daerah kebun kelapa pulau. Yunita Tine (44) adalah salah satu warga yang masih gemar makan laluga.

Itje Tine (54) juga masih rutin makan laluga sekalipun sebagian besar warga lebih terbiasa makan nasi. ”Laluga ini harus direbus 2,5 jam sampai 3 jam. Tanpa bumbu pun, rasanya sudah gurih,” kata Itje.

Sekolah

Hak warga untuk bersekolah selama 12 tahun telah dijamin secara formal dengan keberadaan tiga bangunan sekolah, yakni SD Negeri Miangas, SMP Negeri 2 Nanusa, dan SMK Negeri 2 Talaud.

Namun, tak berarti pendidikan berjalan dengan baik. Wensariawen Rellam (54), misalnya, guru SD di kelas I dan II, lebih memilih menjaga barang dagangannya di kantin sekolah. Sebagian besar guru lain, baik yang berstatus honorer maupun pegawai negeri sipil seperti kepala sekolah, memilih untuk absen tanpa alasan jelas.

Di SMP, kegiatan belajar dan mengajar lebih terjamin karena jumlah guru lebih banyak daripada jumlah kelas. Namun, hampir semua guru harus mengajar mata pelajaran di luar keahliannya. Sabtudewo Sono, guru Agama Kristen, harus merangkap mengajar Matematika hingga Seni Budaya.

Segala aktivitas di desa menemui jedanya saat matahari berada tepat di atas ubun-ubun. Jelang senja, desa kembali hidup. Ingar-bingar terpusat di dua lapangan voli yang bersebelahan di tepi dermaga selatan pulau. Masing-masing dimanfaatkan untuk voli perempuan dan laki-laki.

Alfian G Raditya
%d blogger menyukai ini: