Imbas Corona, Nepal tutup jalur pendakian Gunung Everest

Pemerintah Nepal menutup sejumlah spot wisata, termasuk desa-desa di Pegunungan Himalaya yang menjadi tempat awal pendakian ke Gunung Everest, selama musim pendakian ini demi mengantisipasi penyebaran jenis baru virus corona (COVID-19), kata Menteri Pariwisata Yogesh Bhattarai, Jumat.

Menteri Bhattarai mengatakan pendakian ke seluruh puncak Himalaya pada Maret sampai Mei ditunda.

“Pendakian pada musim ini ditutup,” kata Bhattarai.

“Penutupan ini merupakan upaya pencegahan,” tambah dia saat ditanya hubungan penutupan dengan pandemi COVID-19.

Nepal
Negara dengan delapan dari 14 gunung tertinggi dunia, termasuk Gunung Everest, menerima pendapatan lebih dari empat juta dolar AS Amerika Serikat (sekitar Rp59 miliar) setiap tahun dari biaya izin masuk jalur pendakian.

Sebuah kota di Himalaya, tepatnya di Khumjung resmi ditutup untuk mengantisipasi penyebaran virus corona.
Khumjung, sebuah kota perbukitan di Himalaya yang seharusnya ramai menjelang masuknya musim pendakian Gunung Everest, gunung tertinggi di dunia, tutup mengikuti kebijakan negara Nepal yang menutup sejumlah spot wisata.
Tutupnya kota Khumjung ini mengancam mata pencaharian warga lokal sekitar yang dikenal dengan nama Sherpa / orang-orang Sherpa.

Hostel-hostel dan sejumlah kedai teh di wilayah yang sering digunakan para pendaki melakukan aklimatisasi (penyesuaian fisiologis / adaptasi terhadap suatu ketinggian tertentu) ini mulai kosong.

Seorang pemandu pendaki, Phurba Nyamgal Sherpa mengaku khawatir mata pencahariannya terancam.

“Kami tidak pergi ke gunung karena kami harus melakukannya, itu (Everest( adalah satu-satunya pilihan kami untuk bekerja,” kata Sherpa kepada AFP, Rabu (1/4/2020) di rumahnya di Khumjung, di mana ia tinggal bersama istrinya dan seorang putra berusia enam tahun. Ia yang telah mendaki Gunung Everest dan gunung-gunung lain sejak berusia 17 tahun ini dilaporkan tidak mendapat permintaan dari para pendaki.

Bersama ratusan pemandu, porter pembawa barang, dan pekerja lainnya, nasib pekerjannya terancam.
Bagi para warga Sherpa dan para pekerja lainnya, aktivitas pendakian di Gunung Everest merupakan satu-satunya lumbung pemasukan mereka.

Sejumlah warga mengaku bahwa dirinya adalah tulang punggung keluarga. Aktivitas pendakian Gunung Everest yang berlangsung dari April hingga akhir Mei ini merupakan pemasukan utama bagi para warga Sherpa.Mereka mengaku bahwa pada periode tersebut, mereka dapat memberi makan keluarganya selama setahun penuh. Setiap pemandu diperkirakan akan menghasilkan antara 5000 hingga 10.000 dollar selama periode pendakian tersebut.

Seperti Kota Hantu

Seorang anak penggembala, yang juga bernama Sherpa (31) mengungkapkan dirinya telah mencapai puncak Everest selama delapan kali.

Selama puluhan kali pula, ia menolong pendaki lain mencapai puncak.

Sebagai bentuk antisipasi terhadap penyebaran virus corona, Sherpa meyakini bahwa masalah yang dialaminya juga dirasakan oleh semua.

“Saya pikir semua orang menderita masalah yang sama,” katanya.

Sherpa biasanya berada di basecamp Everest, tempat para pendaki menunggu cuaca yang baik untuk bergegas ke puncak.
Pada musim semi tahun lalu, terdapat 885 orang yang telah mencapai puncak Everest.

Hal itu merupakan rekor terbaru dari catatan sebelumnya yang mencapai 644 orang.

Namun angka tersebut tidak berarti apapun, saat pandemi virus corona membungkam Everest.

Pariwisata di Kota Nepal

Ternyata, bukan hanya warga lokal –yakni orang-orang Sherpa- saja yang terkena dampak penyebaran virus corona, melainkan juga pemerintah Nepal.

Menurut World Travel dan Tourism Council, dikutip AFP, sektor pariwisata menyumbang delapan persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Nepal.

Sektor pariwisata juga menyumbang lebih dari satu juga pekerjaan di Nepal.
Nepal, sebuah negara di Asia yang masih belum pulih dari gempa bumi besar tahun 2015, berharap dapat menarik dua juga wisatawan pada tahun 2020.

Namun, rencana tersebut hancur berantakan akibat penyebaran virus corona.

R Segara
%d blogger menyukai ini: