Jokowi: Jangan Sampai Investasi Minus!

Pandemi Covid-19 terus menggerus pertumbuhan ekonomi banyak negara, termasuk Indonesia.
Adanya penerapan protokol kesehatan yang terus bergulir di mayoritas daerah membuat roda ekonomi Indonesia masih terkendala.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami pertumbuhan -5,32 persen pada triwulan-II 2020.
Salah satu yang jadi sorotan pada laporan tersebut adalah laju pertumbuhan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mengalami kontraksi hingga -8,61 persen.

Menanggapi laporan tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya meminta agar Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan untuk segera bisa menyelasikan masalah tersebut.

“Saya minta Pak Menko Maritim bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga. Selain konsumsi domestik, jangan sampai investasi itu tumbuh minus di atas lima persen,” ucap Jokowi saat membuka rapat terbatas bersama Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional di Jakarta, Senin 24 Agustus 2020.

Jokowi menyebut tak menuntut Luhut untuk bisa mengangkat laju investasi hingga plus.

“Kemarin pertumbuhan investasi kita -8, usahakan itu bisa (ditekan, red). Kalau tak bisa plus ya jangan sampai di bawah lima minusnya,” lanjut Jokowi.
Presiden Joko Widodo atau Jokowi secara khusus meminta Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia untuk menjaga pertumbuhan investasi pada kuartal ketiga tahun ini. Pasalnya hal itu merupakan satu kunci untuk menjaga perekonomian Indonesia agar tidak jatuh ke jurang resesi.

“Selain konsumsi domestik hanya satu yang penting lagi, jangan sampai investasi tumbuh minus di atas 5 persen. Kemarin minus 8. Usahakan betul-betul bisa, kalau tidak bisa plus, ya jangan sampai di atas 5 minusnya,” kata Presiden saat membuka rapat terbatas laporan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional dari Istana Merdeka, Jakarta, Senin, 24 Agustus 2020.

Presiden mengatakan dalam hal itu Kepala BKPM telah menyanggupi untuk merealisasikan investasi sebesar Rp 213 triliun. Dengan demikian, besar harapan Jokowi angka tersebut dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Jokowi menjelaskan saat ini sulit untuk mendorong dari sisi ekspor, karena pasarnya terbatas. Seperti diketahui, negara-negara di dunia juga tengah dalam tekanan krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Selain itu, konsumsi domestik per Juli 2020 pun terlihat stagnan. Hal ini ditenggarai oleh penerimaan pajak pada periode tersebut.
“Karena terkendala restoran hanya buka 50 persen, daerah wisata, okupansi hotel belum bisa tinggi, enggak apa-apa, tapi harus ada jurus yang lain yang bisa kita lakukan dengan meningkatkan investasi agar di kuartal ketiga bisa mengungkit,” kata Presiden.

Sebelumnya Staf Khusus Presiden Joko Widodo bidang ekonomi Arif Budimanta menilai Indonesia belum mengalami resesi ekonomi. Namun, hal ini akan sangat tergantung dengan kondisi triwulan ketiga.

Dia menjelaskan bahwa berdasarkan konsensus global resesi ekonomi terjadi bila sebuah negara mengalami pertumbuhan negatif selama dua kuartal secara berurutan.

Pertumbuhan harus dihitung dengan perbandingan tahun lalu (yoy) bukan secara kuartalan (qtq).
“Indonesia masih bisa menghindari resesi jika pertumbuhan ekonomi kita pada kuartal III ini secara tahunan dapat mencapai nilai positif,” ujarnya.

Badan Pusat Statistik Badan (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II 2020 terkontraksi sebesar 5,32 persen (yoy). Presiden mengatakan bahwa satu sektor yang terkontraksi cukup dalam adalah pariwisata dan penerbangan.

Arif melanjutkan, pada kuartal pertama tahun ini Indonesia masih tumbuh positif, yakni 2,97 persen yoy. “Dan di kuartal III kita punya peluang kembali ke level positif setelah bergeraknya lagi aktivitas perekonomian dengan protokol adaptasi kebiasaan baru,” ungkapnya.

Adapun, kata Arif, Indonesia harus bangkit dengan mengoptimalkan potensi ekonomi di dalam negeri. Konsumsi masyarakat, belanja pemerintah, dan mendorong pertumbuhan investasi domestik.

Bentang Nusantara
%d blogger menyukai ini: