Kejar dan Tangkap Penebar Khilafah HTI

Sikap ngeyel atau keras kepala adalah ciri khas dari orang yang masuk ormas terlarang Hitbuz Tahrir Indonesia (HTI). Mereka menyusup lewat grup alumni, arisan keluarga atau acara komunitas lainnya. Mereka menebar dengan Konten-konten atau doktrin HTI.

Baca Juga : Terus Saja Propaganda Khilafah ala HTI, Bakal Dijebloskan ke Penjara
Ditegur dan dilarang, mereka hanya diam tak merespon. Berikutnya mereka akan tetap melaksanakan dan mengulangi perbuatannya lagi.

Ngeyelnya mereka ini diyakini sebagai bagian dari dakwah yang selalu benar. Sebab baginya kebenaran yang hakiki itu ada di HTI. Prinsispnya ketika semakin ditegur mereka akan semakin gencar melancarkan penyebaran doktrin khilafah.

Pertemanan, persaudaraan atau hubungan kekeluargaan tidak mereka pedulikan. Pasalnya penghuni surga adalah mereka, sedangkan yang lain masuk neraka.

Jadi tak perlu heran dan merasa aneh, jika mereka kerap terlihat tidak sopan terhadap orang tua dan guru. Baginya jika mau dianggap sebagai orang tua maka keyakinan khilafah harus diterima.

Sebenarnya sesuai Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 2 Tahun 2017 bahwa HTI resmi dilarang dan dibubarkan di Indonesia.Tujuan dari dibubarkannya HTI oleh Pemerintah agar tidak ada lagi perekrutan anggota baru dan aktivitas-aktivitas doktrin tentang khilafah.

Tertangkapnya Uus Sukmana di Garut tahun 2018 memberi bukti bahwa HTI tetap membandel dan keras kepala. Kemudian bulan Agustus 2020 di Desa Rembang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Pasuruan Abdul Halim (AH) ditangkap dan diintegrosi Banser NU karena menghina tokoh kharisma NU, Habib Lutfi. Lewat AH pula ditujukan yayasan Al Hamidy-Al Islamiyah kerap menjadikan kaderisasi dan doktrin HTI kepada anak didiknya. Bahkan sejak 2019 yayasan ini memasang bendera HTI. Padahal di berbagai negara HTI jelas-jelas ditolak dan dilarang.

Lagi-lagi setelah ditangkap. Mereka maunya diadili ke jalur hukum. Dan itulah yang dikehendaki kelompok HTI. Termasuk, ketika ada yang mengatakan bahwa HTI adalah ormas terlarang. Bahkan kuasa hukum HTI akan mensomasi semua orang yang berani menyebut seperti itu. Katanya mereka hanya dibubarkan secara administratif.
Rupanya pernyataan kuasa hukum HTI ini memunculkan semangat baru bagi anggota HTI untuk terus mengobrak-abrik dan menciptkan instabilitas di Indonesia. Itu yang mereka harapkan.

Kejadian di Garut (2018) dan Pasuruan (Agustus 2020), ketika Banser berhasil mendatangi pengikut HTI dan berhasil membongkar kedok HTI membuka yayasan. Sudah seharusnya membuka mata setiap komponen dan anak bangsa yang mengaku NKRI untuk segera mencegah dan bertindak kepada ajaran khilafah dari HTI. Mereka ini bukan ditegur, tapi harus dijerat dihukum. Dan, penjara siap menanti.

Yuanita R Silalahi
%d blogger menyukai ini: