Kepunahan Abad akan Terulang? Siapa Sebenarnya yang Secara Diam-diam Melindungi Umat Manusia?

Sebuah asteroid terpantau sedang melesat menuju Bumi, para ilmuwan memperkirakan asteroid itu akan menjadi yang terdekat dengan Bumi pada tahun 2029 mendatang. Orang-orang pun mulai khawatir, apakah kepunahan abad pada 65 juta tahun silam itu akan terulang kembali ? Akankah manusia akan mengalami kepunahan yang sama seperti dinosaurus kala itu ?

Menurut data terbaru Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, sebuah asteroid raksasa bernama “Apophis” (Asteroid 99942) kini sedang mendekati bumi. Diperkirakan akan menjadi yang paling dekat dengan bumi pada tahun 2029 mendatang. Asteroid itu diberi nama Apep atau Apophis God of Chaos berdasarkan mitologi Mesir kuno yang berarti dewa jahat, kegelapan, dan kehancuran semasa Mesir kuno.

Menurut perkiraan NASA, jika asteroid dengan diameter 1.115 kaki atau sekitar 340 meter menghantam Bumi, akan melepaskan 1.480 megaton energi, yang setara dengan 114.000 bom atom Hiroshima. Energi itu dapat meluluhlantakkan bumi di luar bayangan kita. Nama dewa kegelapan memang layak disematkan pada asteroid itu.

Sebuah asteroid terpantau sedang melesat menuju Bumi, para ilmuwan memperkirakan asteroid itu akan menjadi yang terdekat dengan Bumi pada tahun 2029 mendatang. Orang-orang pun mulai khawatir, apakah kepunahan abad pada 65 juta tahun silam itu akan terulang kembali ? Akankah manusia akan mengalami kepunahan yang sama seperti dinosaurus kala itu ?

Menurut data terbaru Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, sebuah asteroid raksasa bernama “Apophis” (Asteroid 99942) kini sedang mendekati bumi. Diperkirakan akan menjadi yang paling dekat dengan bumi pada tahun 2029 mendatang. Asteroid itu diberi nama Apep atau Apophis God of Chaos berdasarkan mitologi Mesir kuno yang berarti dewa jahat, kegelapan, dan kehancuran semasa Mesir kuno.

Menurut perkiraan NASA, jika asteroid dengan diameter 1.115 kaki atau sekitar 340 meter menghantam Bumi, akan melepaskan 1.480 megaton energi, yang setara dengan 114.000 bom atom Hiroshima. Energi itu dapat meluluhlantakkan bumi di luar bayangan kita. Nama dewa kegelapan memang layak disematkan pada asteroid itu.

Administrator NASA Jim Bridenstine saat sebuah konferensi tentang pertahanan planet yang diadakan pada akhir April hingga awal Mei, mengingatkan bahwa asteroid bertabrakan dengan bumi bukanlah sesuatu yang hanya ada di film-film fiksi ilmiah semata. Asteroid menghantam bumi dan akan terjadi setiap 100 tahun sekali. Peristiwa Tunguska abad terakhir dan ledakan Chelyabinsk yang lebih besar abad ini terjadi di Rusia.

Pada 30 Juni 1908, suatu ledakan mencabik udara di angkasa hutan terpencil di Siberia, dekat sungai Podkamennaya Tunguska. Bola api yang melambung itu diyakini lebarnya antara 50 – 100m, melalap habis lebih dari 2.150 km persegi hutan taiga di daerah itu, dan menghancurkan sekitar 80 juta pohon.

Menurut penduduk setempat di barat laut Danau Baikal, mereka melihat bola api raksasa melintasi langit, dengan kecerahan yang sebanding dengan matahari. Beberapa menit kemudian, seberkas cahaya yang menyilaukan menerangi segenap angkasa. Tak lama kemudian gelombang kejut dari ledakan dahsyat itu memecahkan kaca jendela sekitar yang berjarak 650 kilometer jauhnya.

Pada 15 Februari 2013, sebuah meteorit atau asteroid berdiameter 17 meter meledak di Chelyabinsk, Rusia, menghasilkan gelombang kejut energi setara dengan 5 juta ton TNT dan sekitar 30 bom nuklir Hiroshima. Kaca jendela pada ribuan bangunan di sekitarnya hancur dan pecahan kaca melukai hampir 1.500 orang.

Bill Nye, mantan pembawa acara televisi “Science Guy” yang saat ini menjabat sebagai CEO yayasan nirlaba bidang astronomi, Planetary Society, memperingatkan bahwa ada ancaman dari asteroid yang tengah mendekati Bumi. Dampak bencana yang ditimbulkan dari batu ruang angkasa raksasa tersebut, katanya, bisa amat mematikan, seperti bencana yang menimpa kehidupan dinosaurus pada 66 juta tahun lalu.

Para ilmuwan sekarang pada dasarnya telah mencapai konsensus tentang kepunahan dinosaurus. Sekitar 65 juta tahun yang lalu, sebuah asteroid menghantam bumi di pantai Meksiko, memicu gempa bumi dan badai api, melepaskan puluhan miliar ton materi ke atmosfer. Materi menutupi cahaya sinar matahari, dan menyebabkan punahnya dinosaurus kala itu. Sejarah selalu berulang, apakah manusia akan mengulangi kepunahan dinosaurus?

Bill Nye mengatakan, tidak seperti dinosaurus, manusia tidak akan diam saja menunggu bencana, kita dapat melakukan sesuatu terhadap ancaman asteroid.

Jim Bridenstine menginformasikan, NASA sedang bekerja untuk mendeteksi dan melacak asteroid terdekat yang 90% kemungkinan akan berdampak besar pada planet ini.

Meskipun manusia penuh percaya diri, namun selalu tak berdaya setiap kali menghadapi bencana alam.

Sesuatu yang tidak dikenal di dunia ini mungkin selalu ada. Menurut data NASA, jarak Apophis yang dekat dengan bumi terus-menerus diperbarui. Para ilmuwan umumnya percaya bahwa pada akhirnya, Asteroid hanya akan melintasi bumi pada jarak 19.000 mil atau sekitar 30.577 kilometer dan tidak akan menghantam planet itu.

Menurut hasil perhitungan saat ini, probabilitas tabrakan kurang dari seper-seratus ribu 1/100.000. Tampaknya ada sepasang tangan raksasa misterius yang tidak bisa dilihat manusia, dan sedang mendekati tempat kita bernaung-Bumi, sambil membawa bahaya.

Ledakan di Chelyabinsk, Rusia, juga bertepatan dengan munculnya kekuatan misterius, sehingga manusia terhindar dari bencana yang lebih dahsyat. Menurut laporan Sputnik, bahwa dalam video insiden jatuhnya asteroid, sebuah cahaya putih terlihat menghancurkan benda angkasa itu pada ketinggian 25 kilometer dari permukaan bumi.

Chelyabinsk adalah pangkalan cadangan strategis untuk bahan-bahan nuklir Rusia, jika dihantam oleh asteroid, itu bukan hanya akan melukai manusia karena pecahan kaca yang disebabkan oleh ledakan, tetapi juga bencana global.

Lalu siapa sebenarnya yang secara diam-diam dan tanpa kita sadari melindungi umat manusia itu ? Mungkin kita belum bisa memahaminya saat ini, tetapi umat manusia pasti akan menemukan faktanya.

Alfian G Raditya
%d blogger menyukai ini: