Penerapan Ganjil Genap Dinilai Justru Bisa Meningkatkan Kasus Covid-19

Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi (INSTRAN) Deddy Herlambang memperkirakan sekitar satu juta orang akan menggunakan transportasi umum ketika ganjil genap diberlakukan. Dia pesimistis protokol jaga jarak bakal berjalan.

“Bila hal ini dipaksakan pengkondisian jaga jarak antar penumpang sesuai arahan Satuan Tugas Covid-19 akan gagal,” kata dia dalam keterangan tertulisnya, Senin, 3 Agustus 2020.

Masyarakat diperkirakan akan beralih dari menggunakan kendaraan pribadi ke transportasi umum. Dia membandingkannya dengan kenaikan pengguna transportasi umum ketika ganjil genap diterapkan pada September 2019.

Menurut Deddy, penumpang KRL waktu itu naik 7,4 persen. Demikian juga penumpang bus Transjakarta bertambah 25-30 persen.

Jika warga berbondong-bondong naik kendaraan umum, kapasitas orang bakal melebihi 50 persen atau tak sesuai dengan ketentuan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Ketika ganjil genap belum diberlakukan setiap hari Senin pagi pasti stasiun-stasiun KRL di Bogor, Cilebut, Bojongede dan Citayam melampaui kapasitas antrean stasiun, karena penumpang KRL memasuki ke peron stasiun dibatasi maksimum 30 pesen. “Lalu bagaimana bila gage diberlakukan?”

Jumlah angkutan umum massal juga masih terbatas. Bus alternatif yang disediakan pemerintah daerah saat ini tidak cukup mengangkut lonjakan penumpang saat penerapan ganjil genap.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menetapkan ganjil genap kembali diberlakukan mulai 3 Agustus 2020. Keputusan itu bersamaan dengan perpanjangan PSBB transisi fase 1 untuk ketiga kalinya.

Selain itu, sistem ganjil genap diprediksi akan cukup efektif memaksa perkantoran menerapkan sistem kerja maksimal diisi 50 persen karyawan yang selama ini kurang efektif. Di luar alasan itu, volume kendaraan di jalanan Jakarta saat ini disebut telah melampaui kepadatan sebelum pandemi sehingga Pemprov DKI Jakarta memutuskan menerapkan kembali sistem ganjil genap.

“Di kawasan Senayan, Jalan Sudirman, rata-rata volume lalu lintas sebelum pandemi sekitar 127.000 (kendaraan per hari), saat ini kondisi telah terlampaui menjadi 145.000,” kata Syafrin dalam konferensi pers di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Minggu kemarin. Pengamat kebijakan transportasi, Azas Tigor Nainggolan, berpandangan, ada sejumlah penyebab kembali melonjaknya volume kendaraan di Jakarta, khususnya mobil pribadi yang menjadi sasaran kebijakan ganjil genap.

“Jika dikatakan ada kemacetan Jakarta yang melebihi kemacetan pada masa normal, bisa jadi ada ketidakseimbangan antara supply (pasokan) dan demand (permintaan) dalam penggunaan layanan angkutan umum di Jabodetabek,” kata Tigor kepada Kompas.com via keterangan tertulis, Minggu malam. “Para pekerja di Jakarta banyak juga yang bertempat tinggal di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Terjadi lonjakan penggunaan kendaraan pribadi ke Jakarta dan di Jakarta karena ketersediaan layanan angkutan umumnya kurang, sementara jumlah penggunanya lebih tinggi,” tambahnya.

Selain faktor tidak seimbangnya pasokan dan kebutuhan kendaraan umum menuju Jakarta, penggunaan kendaraan pribadi dianggap lebih aman di tengah pandemi saat ini. Potensi berdesakan di kendaraan umum tentu rentan mempermudah penularan Covid-19 sehingga wajar jika warga memilih beralih ke kendaraan pribadi untuk menuju kantornya. “Ketakutan tersebut sangat mendasar karena trauma terjadi penumpukan atau kerumunan pengguna dan tidak sehatnya fasilitas publik yang ada,” ujar Tigor. “Akhirnya masyarakat lebih percaya dan lebih merasa sehat menggunakan kendaraan pribadinya seperti motor dan mobilnya,” tambah dia. Tigor juga menduga ada banyak pelanggaran operasional perkantoran di Jakarta, dengan memaksa pegawainya masuk 100 persen.

Padahal, Pemprov DKI Jakarta telah menetapkan bahwa jumlah pekerja yang diizinkan masuk ke kantor setiap hari hanya 50 persen. “Kedua penyebab ini bisa jadi yang membuat Jakarta jadi sangat macet walau masih pada masa pandemi Covid-19,” ujar Tigor. “Menerapkan kebijakan ganjil genap pada masa pandemi Covid-19 ini tidak ada hubungannya dengan upaya untuk menurunkan kasus positif atau mencegah penyebaran Covid-19. Justru penerapan ganjil genap ini kemungkinan akan menimbulkan area baru penyebaran Covid-19, seperti di angkutan umum atau sarana publik lainnya,” ujar dia.

Yuanita R Silalahi
%d blogger menyukai ini: