Strategi Pertamina Agar Tetap Berstamina

Di tengah kondisi bisnis yang masih tertekan, PT Pertamina (Persero) terus mencari cara agar keuangan perusahaan tidak terus tekor. Sepanjang semester pertama 2020 kemarin, Pertamina diketahui merugi hingga US$ 767,9 juta atau sekitar Rp 11 triliun.

Saat ini, hampir setiap minggu, dewan komisaris duduk bersama dengan para direksi Pertamina untuk memberikan pengarahan. Mereka mencari siasat supaya operasional perusahaan bisa tetap bertahan di tengah pandemi Covid-19 ini.
“Sekarang juga masih rapat online soal biaya produksi kilang,” kata Komisaris Utama Pertamina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok .

Produksi di kilang memang menjadi salah satu sektor yang sedang diintervensi oleh perusahaan. Untuk memperbaiki kondisi keuangan, Pertamina kini sedang memperbaiki model operasi kilang-kilang mereka.

April 2020, Wakil Kepala SKK Migas Fatar Yani Abdurrahman pernah menyebutkan bahwa karakteristik kilang di Indonesia memang berbeda-beda. Dari yang efisien, hingga yang memiliki ongkos produksi yang mahal.

Tapi Fatar memastikan biaya produksi di Indonesia paling tinggi hanya US$ 26 per barel, masih di bawah harga minyak mentah Indonesia (ICP). Masalahnya pada bulan yang sama, di tengah pandemi, ICP sempat anjlok ke posisi US$ 21 per barel.

Inilah yang disampaikan oleh Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini empat hari lalu, Senin, 31 Agustus 2020. Dalam rapat bersama Komisi Energi DPR, bekas Direktur Utama Telkomsel itu menuturkan ada tiga penyebab kerugian Rp 11 triliun tersebut.

Salah satunya adalah penurunan ICP, dari US$ 65 per barel pada Januari 2020 menjadi US$ 21 per barel pada April 2020. Kondisi ini berdampak pada kinerja keuangan perusahaan. Sebab, mereka harus tetap mempertahankan produksi dan lifting migas, sekalipun margin keuntungan di tingkat hulu kian tertekan.

Sehingga, Februari hingga Mei 2020 pun menjadi masa-masa terberat bagi Pertamina. Pendapatan di sektor hulu pada semester pertama 2020 turun 20 persen, yang menyebabkan tekanan pada laba perusahaan.

Januari 2020, Pertamina masih mencetak laba bersih US$ 87 juta. Namun dari Februari hingga Mei 2020, mereka rugi rata-rata US$ 500 juta per bulan. Beruntung, kondisi ini tidak bertahan lama.

Selepas April dan Mei, ICP sudah merangsek naik kembali ke posisi US$ 41 per barel pada Juli 2020. Hingga akhirnya pada Juli 2020, Pertamina bisa kembali mencetak laba bersih US$ 408 juta.

Namun secara akumulasi, Pertamina tetap masih merugi sepanjang tahun ini dibandingkan tahun lalu. Angkanya sudah bisa ditekan menjadi US$ 360 juta atau setara Rp 5,3 triliun. Untuk diketahui, sepanjang 2019 Pertama mencatakan laba bersih US$ 2,53 miliar.

Di sisi lain, kerugian US$ 360 juta ini membuat target laba perusahaan sepanjang tahun ini kian jauh. Dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP) 2020, Pertamina sudah memasang target laba US$ 2,2 miliar hingga akhir tahun nanti.
Direktur Eksekutif Reserach Institute for Mining and Energy Economics (ReforMiner Institute) Pri Agung Rakhmanto punya pandangan lain. Menurut dia, jika Pertamina sudah berhasil meraup laba pada Juli 2020, maka artinya operasional Pertamina masih normal.

“Itu indikasi kerugian lebih pada administrasi pencatatan,” kata pengajar di Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi, Universitas Trisakti ini. Sebab jika yang kena adalah operasional, kata Pri, tidak mungkin semester pertama rugi, lalu pada Juli langsung untung.

Menurut Pri Agung, kerugian ini kemungkinan hanya terjadi karena faktor waktu atau timing dalam mengalokasikan biaya. Untuk itu, kata dia, perlu dicek lebih lanjut, apakah ada alokasi belanja modal (capex) yang besar sepanjang semester pertama 2020.

Selain karena penurunan ICP, kerugian Pertamina juga terjadi karena pelemahan nilai tukar rupiah. Pada awal Maret 2020, nilai tukar atau kurs rupiah memang masih berada di posisi Rp 14.222 per dolar Amerika Serikat, berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollat Date atau Jisdor.

Kurs kemudian mencapai posisi terlemah pada 2 April 2020 ke posisi Rp 16.741 per dollar AS. Tapi tren itu tidak berlangsung lama. Hari ini, rupiah berada di posisi Rp 14.818 per dolar AS. Adapun untuk penyebab kerugian ketiga yaitu penurunan penjualan, sudah berbalik menghasilkan tren yang meningkat sejak Mei 2020 kemarin.

Di tengah kondisi ini, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati tetap optimistis perusahaannya bisa membukukan keuntungan, di sisa bulan yang ada di 2020. Setidaknya, ada 9 langkah yang ditempuh Pertamina sampai akhir tahun ini. Rinciannya yaitu:

– Efisiensi biaya modal (capex) dan biaya operasional (opex) hingga US$ 4,7 miliar. Capex dihemat hingga 23 persen atau US$ 1,7 miliar dan opex hingga 30 persen atau US$ 3 miliar).
– Menjaga produksi minyak dan gas untuk menekan impor
– Optimalisasi program Pertamina loyalty dan program diskon untuk meningkatkan pendapatan
– Renegosiasi kontrak dengan mata uang asing untuk dibayar menggunakan rupiah
– Efisiensi konsumsi energi dengan mengganti penggunaan refinery fuel dengan natural gas atau PLN
– Menurunkan Integrated Port Time untuk menurunkan Beban Pokok Penjualan (BPP)
– Transformasi digital seperti digitalisasi SPBU dan centralised procurement
– Inventory Build Up dengan manajemen Time to Buy pada saat harga minyak rendah
– Melakukan mitigasi risiko selisih kurs dan meningkatkan kinerja cash flow

Keyakinan Nicke juga didasarkan pada fakta bahwa kerugian yang dialami oleh entitasnya pada semester I 2020 sejatinya lebih kecil dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan migas lain yang memiliki aset setara. “Kerugian Pertamina lebih kecil dibandingkan perusahaan-perusahaan (migas) lain dengan aset setara seperti ConocoPhilips dan ENI,” ujar Nicke .
Berdasarkan data yang dipaparkan Pertamina, perusahaan minyak negara itu mengalami kerugian senilai US$ 0,77 miliar. Sedangkan ExxonMobil mencatat kerugian US$ 1,1 miliar, British Petroleum US$ 21,21 miliar, Total US$ 8,4 miliar, Shell US$ 18,4 miliar, Petrobas US$ 10,41 miliar, Chevron US$ 4,7 miliar, Conoco Phillips US$ 1,43 miliar, dan ENI US$ 8,66 miliar.

Adapun aset untuk masing-masing perusahaan berbeda. ExxonMobil misalnya, memiliki aset US$ 361,5 miliar; British Petroleum US$ 263,18 miliar; Total US$ 259,41 miliar; Shell US$ 375,1 miliar; Petrobras US$ 185,38 miliar; Chevron US$ 223,4 miliar; Conoco Philips US$ 63,05 miliar; ENI US$ 69,5 miliar; dan Pertamina US$ 70,23 miliar.

Dibandingkan dengan perusahaan migas dunia tersebut, menurut Dirut Pertamina, rasio kerugian terhadap total aset menunjukkan bahwa kerugian BUMN migas ini masih berada di peringkat kedua terendah setelah ExxonMobil. Rasio kerugian Pertamina terhadap aset yang dimiliki adalah 0,011 persen, sedangkan ExxonMobil 0,003 persen. Sementara itu, rasio kerugian terhadap total aset terbesar dialami ENI yang mencapai 0,125 persen.

Menteri BUMN Erick Thohir malah menilai kinerja Pertamina membaik dibanding perusahaan migas lainnya selama pandemi. Oleh karena itu ia menegaskan tidak ada rencana pergantian direksi maupun komisaris perusahaan pelat merah itu.

Erick menegaskan bahwa selama ini berprinsip agar jajaran direksi perusahaan tidak perlu dirombak selama kinerjanya baik. “Saya prinsipnya angkat direksi jangan diganti-ganti. Kan, saya di awal sudah bilang selama KPI-nya (Key Performance Indicators) tercapai, terus dibilang Pak Erick pilih kasih main pecat-pecat saja, nggak loh,” ujarnya .

Walau kantong terkuras, Pertamina sejauh ini berusaha untuk tidak melakukan PHK. Sebelumnya, sejumlah perusahaan migas internasional diketahui sudah memangkas pegawainya, seperti Chevron hingga British Petroleum (BP).

Presiden Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) Arie Gumilar juga memastikan sampai sekarang belum ada desas desus mengenai isu tersebut di internal perusahaan. “Sampai saat ini tidak ada wacana PHK,” kata dia.

Alfian G Raditya
%d blogger menyukai ini: