Ganjar Menolak Konser Di Tengah Pandemi Covid 19 Untuk Kampanye Pilkada

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto menegaskan, sebaiknya konser musik saat kampanye Pilkada 2020 tidak dilakukan.

Menurutnya, Satgas Penanganan Covid-19 di daerah penyelenggara Pilkada harus ikut ambil bagian dalam melarang konser musik tersebut. “Tidak ada toleransi, yang pasti tidak boleh. Betul demikian (Satgas Covid-19 daerah ikut menegaskan larangan),” ujar Achmad Yurianto.

Terkait adanya aturan dalan Peraturan KPU (PKPU) Nomor 10 Tahun 2020 yang membolehkan konser musik saat Pilkada, Yuri menyebut dia sudah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri.

Bahkan, dia menyebut telah menyampaikan protes kepada Kemendagri atas adanya aturan itu. “Sudah saya koordinasikan dengan Kemendagri. Saya protes ke Kemendagri tentang hal itu,” katanya.

Untuk solusi jangka pendek, lanjut Yuri, pihaknya menyarankan pelaksanaan konser musik sebaiknya dilarang dalam pilkada. Kemudian, dia mengimbau peserta pilkada dan masyarakat mematuhi protokol kesehatan.

Sementara itu, saat disinggung apakah pihaknya juga akan berkoordinasi dengan KPU dan Bawaslu, Yuri menyebut sudah langsung ditindaklajuti oleh Kemendagri. “Ditindaklanjuti Kemendagri,” katanya.

Diberitakan, saat ini sejumlah pihak menyoroti dibolehkannya kegiatan konser musik dalam kampanye Pilkada 2020. Hal tersebut pertama kali diungkapkan Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 dalam webinar bertajuk “Evaluasi Penerapan Protokol Kesehatan Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 dalam Pemilihan Serentak 2020” yang digelar Selasa (15/9/2020).

Saat itu, Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Wisnu Widjaja yang mewakili Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo menyebut, aturan-aturan di dalam PKPU Nomor 10 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pilkada Dalam Kondisi Bencana Non Alam Covid-19 memberi celah potensi terjadinya kerumunan massa.

“Utamanya di pasal 59 yang soal debat publik, itu masih ada (aturan soal) pendukung yang hadir sebanyak 50 orang. Ini yang perlu nanti dicermati sebab nanti akan ada cukup (banyak) orang,” ujar Wisnu. “Lalu soal masih dibolehkannya konser musik dan perlombaan di pasal 63. Ini mungkin kan juga akan ada (potensi) pengumpulan massa dan arak-arakan ya,” lanjutnya.

Adapun pasal 63 ayat (1) yang dimaksud Wisnu mengatur tujuh kegiatan yang tidak melanggar larangan kampanye dan ketentuan undang-undang (UU).

Ketujuh kegiatan itu yakni kegiatan kebudayaan berupa pentas seni, panen raya, dan/atau konser musik, kegiatan olahraga berupa gerak jalan santai, dan/atau sepeda santai, perlombaan, kegiatan sosial berupa bazaar dan/atau donor darah, peringatan hari ulang tahun Partai Politik, dan/atau melalui Media Daring.

Ganjar Menolak Konser Di Tengah Pandemi Covid 19

Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengizinkan acara-acara yang berpotensi mengundang kerumunan seperti konser musik, bazar hingga jalan santai dalam kampanye Pilkada serentak 2020. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo angkat bicara soal aturan KPU itu.

Ganjar dengan tegas menyebut tidak perlu ada konser yang berpotensi mendatangkan kerumunan di tengah pandemi COVID-19.

“Ora usah ah, konser-konser nggo apa (tidak usah lah, konser buat apa),”

Ganjar mengusulkan jika memang harus ada konser saat kampanye maka dilaksanakan secara virtual, bukan konser langsung yang mengundang kerumunan massa. “Konsernya boleh, tapi cuma virtual,” ujarnya.

Sebelumnya, Ganjar sudah beberapa kali menyuarakan agar proses Pilkada serentak 2020 termasuk kampanye dilakukan secara virtual. Salah satunya ketika ditanya terkait tanggapan soal Komnas HAM yang merekomendasikan Pilkada 2020 ditunda karena potensi penularan virus Corona atau COVID-19.

“Kalau tidak mau ditunda dan harus jalan semua, dibuat virtual saja. Karena memang pertemuan-pertemuan mengumpulkan massa bikin pemerintah deg-degan, kemarin beberapa pendaftaran ramai, kita deg-degan, jangan sampai ada klaster baru,” kata Ganjar usai rapat penanganan COVID-19 di kantornya, Semarang, Senin (14/9).

Alfian G Raditya
%d blogger menyukai ini: