Berjaga Di Posko COVID-19, Rela Terpisah Dengan Anak

Mungkin saja, kita tak pernah membayangkan situasi seperti sekarang ini. Merebaknya virus corona yang menyebabkan penyakit COVID-19 ini membuat sebagian besar dari kita untuk beberapa waktu harus berdiam diri di rumah.

Namun, tidak dengan para tenaga medis. Mereka adalah salah satu yang harus tetap berjuang di garda terdepan untuk melawan penyebaran virus corona. Hampir semua tenaga medis di tanah air, bahkan dunia, sibuk bergelut untuk memerangi masifnya penularan virus yang bermula dari Wuhan, China, ini.

Hal yang sama juga dilakukan oleh sejumlah tenaga medis di Mamasa, Sulawesi Barat. Meski saat ini Mamasa masih nihil kasus positif COVID-19, namun para tenaga medis harus tetap bekerja 24 jam secara bergantian di posko pintu masuk kabupaten yang berada di wilayah pegunungan ini. Mendata, memeriksa kesehatan dan suhu tubuh para pelintas yang memasuki wilayah Mamasa.

“Sejak dibukanya posko pemeriksaan di pintu masuk perbatasan Polman dan Mamasa beberapa waktu lalu, kami tim medis di Puskesmas Messawa yang dekat dengan posko perbatasan harus tetap berada di posko selama 24 jam secara bergantian, mendata dan melakukan pemeriksaan setiap orang yang masuk wilayah Mamasa,” tutur Kepala Puskesmas Messawa, Christian, yang juga dipercayakan sebagai Koordinator Posko Perbatasan Mamasa-Polman, Jumat (15/5).
ADVERTISEMENT

Menurutya, sebelum diberlakukannya pembatasan pergerakan pelintas di perbatasan sejak 27 April lalu oleh Pemkab Mamasa, tercatat ratusan orang yang melintas di perbatasan Mamasa-Polman setiap harinya.
Sepanjang 21 Maret 2020 hingga 23 April 2020 saja, tercatat ada sebanyak 18.568 pelintas yang masuk di Mamasa melalui perbatasan Mamasa-Polman. Angka itu berkurang sejak Pemkab Mamasa memberlakukan pembatasan pergerakan pelintas di perbatasan.

“Ribuan orang yang melintas itu tentu menjadi tugas berat bagi petugas medis yang harus melakukan screening atau pengukuran suhu serta pendataan. Tak jarang, ada yang berusaha tak jujur terkait riwayat perjalanan mereka jika berasal dari zona merah COVID-19. Kadang pula kena marah para pemudik dan pelintas yang merasa kelamaan antri untuk diperiksa,” ungkap Christian.

Namun demikian, kata dia, tim medis di posko perbatasan Mamasa-Polman itu sebisa mungkin harus tetap bersabar serta menjalankan tugas dengan baik disertai harapan besar masyarakat untuk menjaga Mamasa tetap terhindar dari COVID-19.

“Saya tetap ingatkan teman-teman agar tetap sabar karena itu risiko dari tugas kami. Kami hanya bangga ketika Mamasa bisa terbebas dari COVID-19,” ujarnya.

Tak sekadar korban perasaan, para petugas medis ini pun rela mengorbankan waktunya berkumpul dengan keluarganya untuk sementara waktu demi mencegah penularan virus corona tersebut.

“Ada sebagian anggota tim medis kami berpisah dengan keluarganya untuk sementara karena harus bertugas di posko perbatasan. Kami juga tidak bisa memastikan aman dari virus corona dan pulang ke rumah usai bertugas. Jadi untuk melindungi keluarga, mau tak mau harus jaga jarak untuk sementara,” jelas Christian.

Helma, salah seorang tenaga medis yang bertugas di posko penanganan COVID-19 mengakui, dirinya harus rela berpisah dengan anak dan orang tuanya yang untuk sementara tinggal di rumah kakaknya.

“Selama ikut penanganan COVID-19 di posko perbatasan, saya terpaksa berpisah dari anak-anak saya dan kedua orang tua saya yang sudah lanjut usia dan memiliki riwayat penyakit diabetes. Mereka adalah kelompok yang rentan terinfeksi virus corona. Saya dan suami turun langsung dalam penanganan COVID-19, meskipun beda tugas,” cerita Helma.

Diakuinya, tak jarang rasa rindu untuk berkumpul dengan anak dan orang tuanya muncul. Pada akhirnya, ia harus menahan rasa rindu tersebut demi menjalankan tugas kemanusiaan.

“Sekalipun rindu dengan keluarga, kami harus tetap sabar demi menjalankan tugas kemanusiaan. Kita berharap wabah ini segera berakhir, sehingga bisa berkumpul lagi dengan keluarga,” tandasnya.

Alfian G Raditya
%d blogger menyukai ini: