Heboh Hukuman Masuk Peti Mati, Tak Bikin Jera Malah Bisa Tularkan Corona

Hukuman masuk peti mati untuk pelanggar PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dianggap tidak efektif memberikan efek jera. Para pakar malah mengingatkan risiko penularan virus Corona COVID-19 lewat peti yang dipakai bergantian.

“Punishment (hukuman) yang dibikin ini kan nggak ada manfaatnya dengan memasukkan orang ke dalam peti seperti itu, malah nanti bergantian masuk dan meningkatkan risiko penularan,” kata ahli penyakit tropik dan infeksi dari RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), dr Erni Juwita Nelwan, SpPD.

Pendapat senada juga disampaikan oleh ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono. Menurutnya, reaksi pelanggar yang dihukum menyiratkan hal itu cuma jadi bahan bercandaan.

“Mereka mungkin ketawa-ketawa karena orang tahu itu peti-petian (jadi diangggap bercanda). Kalau mau nakutin, ya yang benar. kalau gitu (peti mati) ya bercanda aja nggak ada efeknya,” kata Pandu.

Jika memang tujuannya agar jera dan mau menggunakan masker, cara-cara yang bersifat mempermalukan seperti ini dinilai tidak simpatik. Efeknya, pelanggar hanya akan merasa kesal dan malah semakin tidak peduli alih-alih mengubah perilakunya.

“Inget loh ini orang dewasa. Mengubah perilaku anak-anak yang sudah masuk SD-SMP saja nggak mudah,” kata dr Erni.

Ketua Komisi A DPRD DKI Jakarta, Mujiyono meminta publik tidak melanjutkan kontroversi soal sanksi masuk peti mati bagi pelanggarPSBB transisi di Pasar Rebo. Meski tidak membenarkan, Mujiyono paham maksud sanksi agar menyadarkan pentingnya memakai masker saatpandemi Corona (COVID-19).

“Masalah gitu kenapa dimasalahin, memang nggak pake masker itu risikonya nyawa, nyawa orang lain juga,” ucap Mujiyono saat dihubungi, Jumat (4/9/2020).

Bagi politisi Partai Demokrat itu, soal sanksi masuk peti bukanlah hal yang penting untuk dibahas. Jika memang ada kesalahan prosedur, cukup nyatakan ada yang salah.

“Menurut saya, hal-hal yang sifatnya tidak terlalu prinsip terus jadi polemik, ya sudah. Kalau salah koordinasi, minta maaf. Lain kali jangan diulangi lagi. Ingatkan juga ini, filosofinya adalah menyangkut keselamatan manusia,” ujarnya.

Dengan disanksi masuk peti, sebenarnya ada pemikiran bagi si pelanggar menyadari bahaya tidak pakai masker.
“Dengan cara itu dia mikir, begini toh orang kena COVID (meninggal). Kalau continue, saya tidak setuju, taro, pergi, taro lagi. Siapa tahu di badannya ada nempel virus,” ucap Mujiyono.

Mujiyono mengaku kadang tindakan-tindakan tertentu dibutuhkan agar masyarakat sadar protokol kesehatan. Hal itu pun dirasa wajar mengingat bahaya yang ditimbulkan oleh Corona bisa akibatkan kematian.

“Contoh begini, saya bertemu sekelompok masyarakat, saya kasih tahu, Pak pakai masker. Kalau sudah sekali, dua kali diingatkan susah, maaf nih, kadang saya ajak berantem sekalian,” ujar Mujiyono.

Sebelumnya, sebuah video seorang pelanggar PSBB transisi di Kalisari, Pasar Rebo, Jakarta Timur, pada Rabu kemarin diberi sanksi masuk ke peti mati. Kepala Satpol Provinsi PP DKI Jakarta Arifin memastikan tak ada lagi pelanggar PSBB yang masuk ke peti mati.

“Itu sudah kita clear-kan, nggak ada lagi yang gitu-gitu,” ujar Arifin saat dihubungi, Jumat (4/9).

Arifin mengatakan pelanggar PSBB transisi masuk peti mati itu bukan bagian dari sanksi. Menurutnya, bagi warga yang melakukan pelanggaran tidak menggunakan masker, sanksi yang berlaku itu hanya denda dan kerja sosial.

Arifin mengatakan pelanggar PSBB transisi masuk peti mati itu bukan bagian dari sanksi. Menurutnya, bagi warga yang melakukan pelanggaran tidak menggunakan masker, sanksi yang berlaku itu hanya denda dan kerja sosial.

“Itu bukan dalam rangka pemberian sanksi ya, sanksi untuk pelanggar PSBB kan sudah diatur di dalam Pergub ya, melanggar kalau masker ada dua pilihannya kerja sosial dan juga sanksi denda,” katanya.

Para pakar menyarankan hukuman yang lebih bermanfaat. Dicontohkan, hukuman bisa berupa jadi relawan mengurus OTG (orang tanpa gejala) yang menjalani isolasi, mengurus jenazah, atau mengurus keluarga pasien yang anak-anaknya telantar karena ditinggal ke rumah sakit.

Alfian G Raditya
%d blogger menyukai ini: