KIARA: Hanya Alasan Klise Anies Sebut Reklamasi Ancol untuk Atasi Banjir

Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) sebut pemberian izin reklamasi Ancol untuk mengatasi banjir di Jakarta sekaligus mendayagunakan lumpur merupakan alasan klise. Sekretaris Jenderal KIARA Susan Herawati menjelaskan bahwa narasi penanganan banjir sudah digunakan olah para Gubernur terdahulu ketika menjelaskan proyek reklamasi. Menurut dia, proyek reklamasi seperti perluasan kawasan Ancol dan Dunia Fantasi (Dufan) bukan solusi untuk mengentaskan masalah banjir di Jakarta. “Jakarta bisa bebas banjir bukan dengan proyek reklamasi, tetapi dengan menyetop pembangunan gedung-gedung tinggi yang mengekstraksi air tanah. Ini kecacatan,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (12/7/2020).

Selain itu, Susan mengklaim bahwa pemanfaatan lumpur hasil kerukan sejumlah sungai dan waduk di Jakarta untuk menjadi bahan reklamasi Ancol tidak masuk akal. Pasalnya, lumpur hasil kerukan sungai dan waduk yang mengalami sendimentasi atau pendangkalan bersifat cair. Sementara reklamasi di kawasan perairan, lanjut Susan, pasti membutuhkan material yang lebih padat. “Penjelasan Anies mengenai reklamasi dengan lumpur tidak make sense dan cenderung menyesatkan masyarakat,” kata dia.

Susan pun menduga bahwa proyek reklamasi di perairan Ancol merupakan bagian tidak terpisahkan dari proyek 17 pulau yang sempat bergulir sebelumnya. Hal itu karena dalam rencana pembangunan 17 pulau tersebut, PT Pembangunan Jaya Ancol menjadi salah satu perusahaan yang mendapatkan konsesi untuk membangun Pulau K. “ Reklamasi Ancol merupakan kelanjutan dari reklamasi 17 pulau, khususnya Pulau K. Bedanya, dahulu direncanakan seluas 35 hektar, sementara sekarang hanya 32 hektar,” kata Susan. Diberitakan sebelumnya, Anies akhirnya buka suara terkait reklamasi perluasan kawasan Ancol dan Dunia Fantasi (Dufan) seluas kurang lebih 155 hektar.

Anies mengklaim bahwa apa yang sedang dikerjakan di kawasan Ancol adalah berbeda dengan reklamasi 17 pulau yang sebelumnya dilakukan. Menurut dia, reklamasi yang dilakukan pada pemerintahan sebelumnya menghasilkan banjir di Jakarta. Pasalnya, pantai reklamasi kala itu berhadapan dengan Cengkareng Drain dan Muara Sungai Angke. Keduanya dianggap menggangu aliran sungai ke laut lepas dan berpotensi membuat Jakarta banjir. “Jadi bukan membantu mengendalikan banjir, tapi malah berpotensi menghasilkan banjir,” ucap Anies dalam video yang diunggah di Akun Youtube Pemprov DKI, Sabtu (10/7/2020).

Di sisi lain, proyek reklamasi Ancol yang dikerjakan saat ini diklaim dapat mengurangi banjir bagi warga Ibu Kota. Alasannya karena penambahan lahan yang dilakukan memanfaatkan hasil kerukan dari waduk dan sungai. Menurut dia, Jakarta merupakan daerah yang memiliki ancaman banjir karena banyak waduk dan sungai mengalami pendangkalan atau sedimentasi. Kurang lebih 30 waduk dan 13 sungai dengan panjang kurang lebih 400 kilometer yang mengalami pendangkalan dan sungai itu perlu dikeruk. “Ada lebih dari 30 waduk dan secara alami mengalami sedimentasi. Karena itulah kemudian Waduk sungai itu dikeruk terus-menerus dan lumpur hasil kerukan itu di kemana kan? Lumpur itu kemudian ditaruh di kawasan Ancol,” kata dia.

Yuanita R Silalahi
%d blogger menyukai ini: