Kinerja Anies Baswedan Dibandingkan Dengan Ganjar Pranowo

Pandemi Virus Corona atau Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda akan berlalu dari Indonesia. Pemerintah Pusat dan seluruh kepala daerah masih fokus dan bekerja keras memutus rantai penyebaran virus dengan harapan temuan kasus dapat diminimalisir.

Ini bukan pekerjaan mudah. Ada saja kendala di lapangan meski ragam aturan sudah diterapkan.

Apalagi, setiap daerah memiliki karakteristik wilayah berbeda satu dengan yang lain. Sehingga treatment yang diberikan juga harus menyesuaikan agar lebih mudah diterima masyarakat.

Anies tidak turun langsung ke tengah masyarakat, baik untuk mengecek pelaksanaan kebijakan Pemprov maupun untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Sebaliknya, Ganjar, dinilainya lebih aktif turun langsung ke masyarakat untuk memastikan semua koordinasi berjalan dengan baik.

Pengawasan kebijakan berada di unsur pemerintah yang paling dekat dengan masyarakat seperti RT/RW sangatlah penting. Anies tidak mau turun ke lapangan, dia bicara di TV melulu. Padahal sebenarnya basis pengawasan itu basis untuk mendidik masyarakat di RW. “Bagaimana kita mendidik masyarakat dengan momentum relaksasi ini betul-betul penegasan tapi juga sosialisasi. Sosialisasi yang bersifat humanis lah. Gaya-gaya Ganjar (Ganjar Pranowo) itu lah.

Pengamat dan Praktisi Komunikasi Bagus Sudarmanto menilai jika PDIP membandingkan gaya komunikasi antar kepala daerah yakni Anies dan Ganjar, dalam gaya komunikasi penanganan Covid-19 adalah suatu hal yang wajar dan unik.

“Wajar dan unik. Kan kita punya begitu banyak budaya lokal dengan bahasa tutur yang berbeda. Sehingga keadaan itu menuntun kepala daerah untuk harus menyesuaikan diri agar dapat diterima,” ujar Bagus saat dihubungi merdeka.com, Selasa (19/5).

“Enggak apa-apa, meski pasti untuk personal branding, demi elektabilitas. Itu sah-sah saja. Asal jangan dibingkai ke dalam politik SARA,” lanjutnya.

Baginya membandingkan gaya komunikasi antar kepala daerah akan menciptakan secara alamiah antar kepala daerah yang ditentukan oleh jurinya, langsung dari masyarakat.

“Jurinya masyarakat langsung. Bisa jadi hal ini lahir model komunikasi empati yang cocok di tengah pandemi Covid-19 saat ini,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Bagus mengatakan bahwa perbedaan gaya komunikasi antar kepala daerah memang tidak dapat dilepaskan dari konteks lokalitas, sosial, dan budaya. Baik berupa gaya komunikasi gestur maupun oral yang familiar di mata publik.

Kendati demikian, Bagus mengingatkan kepada kepala daerah untuk tetap melihat pandemi Covid-19 secara serius. Jangan sampai memunculkan gaya komunikasi yang kaburkan subtansi pesan.

“Jangan gaya komunikasi mengaburkan pesan yang disampaikan atau mengesampingkan substansi pesan. Musti bisa mengombinasikan antara nilai penting dan ketertarikan,” imbaunya.

Alfian G Raditya
%d blogger menyukai ini: