Masker Scuba dan Buff Ternyata Malah Memperparah Penularan Covid-19

Penumpang KRL dilarang memakai masker scuba & buff, padahal dua hal ini sudah biasa dipakai banyak orang, ternyata malah memperparah penularan corona. Wabah virus corona masih banyak menyebar dan mengkhawatirkan.

Hal ini membuat PT Kereta Commuter Indonesia (PT KCI) membuat aturan baru. Penumpang KRL dianjurkan menggunakan masker yang efektif menahan droplets agar menghindari penyebaran virus corona. Salah satu imbauan yang berikan adalah penggunaan masker jenis scuba dan buff.

“Hindari penggunaan jenis scuba maupun hanya menggunakan buff atau kain untuk menutupi mulut dan hidung,” kata VP Corporate Communications PT KCI, Anne Purba, dalam keterangan tertulisnya.

Imbauan ini juga sudah disampaikan di kanal-kanal resmi PT KCI, seperti akun Twitter @commuterline.
Dari cuitan itu, efektivitas masker scuba dan buff disebut hanya 5 persen unyuk mencegah resiko terpapar debu, virus dan bakteri.
Ini dia penelitian soal masker scuba dan buff.


Masker Scuba

Peneliti Loka Penelitian Teknologi Bersih (LPTB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Eng Muhamad Nasir, menjelaskan dasar pengujian kinerja utama masker.
Peneliti yang juga tengah melakukan studi terkait teknologi pada masker ini memaparkan tiga tahapan pengujian kinerja utama masker, yaitu:
• Uji filtrasi bakteri (bactrial filtration efficiency)
• Uji filtrasi partikulate (particulate filtration efficiency)
• Uji permeabilitas udara dan pressure differential (breathability dari masker)
Menurut dia, masker kain dengan bahan yang lentur seperti scuba, pada saat dipakai akan terjadi stretching atau perenggangan bahan sehingga kerapatan dan pori kain membesar serta membuka yang mengakibatkan permeabilitas udara menjadi tinggi.
Akibatnya, peluang partikular virus untuk menembus masker pun disebutnya semakin besar.

Buff

Ikat kepala polister atau kain buff untuk melindungi diri dari sengatan matahari (net)
Buff juga disebut tidak memberikan perlindungan yang efektif terhadap penyebaran virus corona.
Dalam sebuah studi dari Duke University di Carolina Utara, Amerika Serikat, para peneliti menyimpulkan buff yang terbuat dari campuran polyester dan spandeks tidak efektif memblokir droplet virus corona.
Meski demikian, karena mereka tidak melakukan penelitian pada buff yang menggunakan bahan lain, maka temuan tersebut tidak harus dilihat secara spesifik.

“Masalahnya adalah bahan apa yang digunakan,” kata Mitchell H Grayson, direktur Divisi Alergi dan Imunologi di Rumah Sakit Anak Nationwide di Ohio.

Sementara, ahli penyakit menular, Ravina Kullar mengaku memakai buff, namun bukan yang berbahan poliester.

“Buff itu terbuat dari kapas dan juga berlapis tiga. Jadi cukup efektif,” kata Kullar.
Grayson mengungkapkan, untuk penggunaan sehari-hari masker kain dengan beberapa lapisan bisa berfungsi sama baiknya dengan masker bedah.

Sudah Pakai Masker, 2 Ibu Ini Bingung Tetap Terjaring Razia

Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya penggunaan masker selama pandemi, pemerintah gencar melakukan razia masker atau operasi yustisi.
Termasuk dengan pemerintah Kota Madiun. Namun, dalam operasi yustisi kali ini, dua ibu rumah tangga heran saat terjerat dalam operasi yustisi penegakan disiplin protokol kesehatan yang digelar Pemerintah Kota Madiun. Sebab, mereka sudah mengenakan masker.

DISIDANG-Seorang ibu rumah tangga berinisial AN, warga Kabupaten Magetan menjalani sidang ditempat lantaran kedapatan tidak mengenakan masker dengan benar saat terjaring operasi yustisi di ruas jalan Pahlawan Kota Madiun.

Operasi yustisi itu melibatkan penyidik Reskrim Polres Madiun Kota, hakim Pengadilan Negeri Kota Madiun, dan Jaksa Penuntut Umum Kejari Kota Madiun. Para pelanggar dalam operasi itu langsung menjalani sidang di tempat.

Warga yang melanggar protokol kesehatan saat melintas di Jalan Pahlawan, Kota Madiun, langsung dicegat petugas.

Setelah kendaraan mereka parkir, pengemudi dan penumpang yang melanggar protokol kesehatan seperti tak mengenakan masker didata petugas Satpol PP.

Mereka juga harus menjalani rapid test Covid-19 sebelum mengikuti sidang. Pelanggar yang dinyatakan non-reaktif bisa mengikuti sidang yang dihadiri hakim, jaksa, dan penyidik Polri.
Persidangan itu berlangsung singkat. Pelanggar langsung mendengar vonis hukuman dari hakim. Rata-rata pelanggar dikenakan denda uang sebesar Rp 50.000 mengenakan masker.

Hal serupa dialami dua orang ibu berinisial AI dan AN. Mereka sempat berdebat dengan petugas dan hakim yang memimpin sidang di halaman Plaza Madiun, Jalan Pahlawan, Kota Madiun, Senin (14/9/2020).
Mereka diberhentikan tim gabungan karena tak menggunakan masker dengan benar saat berada di dalam mobil. Masker yang dipakai ibu-ibu tak menutupi mulut dan hidung. AI, warga Kota Madiun, mengaku tak tahu wajib mengenakan masker saat berada di dalam mobil. Saat itu, AI mengendarai mobil bersama putranya. “Saya belum tahu kalau di dalam mobil juga harus tetap mengenakan masker dengan benar. Kalau di dalam mobil ya kita lepas,” kata AI di Jalan Pahlawan, Kota Madiun, Senin. AI mengaku masker yang dipakainya tak menutupi mulut dan hidung. Sebab, dirinya sedang menelepon seseorang lewat ponselnya.

Sementara, AN yang merupakan warga Magetan, mengaku diberhentikan karena masker yang dipakainya melorot sampai ke bawah mulut. AN ditangkap saat mengendarai mobil di Jalan Pahlawan, Kota Madiun. “Masker yang saya kenakan tadi melorot sendiri. Jadi saya tidak sengaja melorotkan kain maskernya,” ujar AN di depan hakim tunggal dari Pengadilan Negeri Kota Madiun. Di hadapan hakim, ibu rumah tangga itu sempat mencontohkan bagaimana maskernya bisa turun sendiri.

Tetapi, hakim tetap memberikan denda kepada AN. Awalnya, AI dan AN sempat berdebat dengan hakim saat persidangan. Namun, mereka akhirnya menerima hukuman itu dan membayar denda.

Yuanita R Silalahi
%d blogger menyukai ini: