Menguak Sebab DKI Sumbang Kemiskinan Tertinggi RI Kala Corona

BPS mengatakan tingkat kemiskinan di RI kini membengkak jadi 9,78 persen dari total populasi nasional akibat virus corona. Kepala BPS Suhariyanto menyatakan dari angka itu, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten menjadi penyumbang tingkat kemiskinan paling tinggi pada Maret 2020.

Rinciannya, tingkat kemiskinan DKI Jakarta naik 1,11 persen dari 3,42 persen menjadi 4,53 persen. Diikuti dengan Jawa Barat yang naik 1,06 persen dari 6,82 persen menjadi 7,88 persen.

Lalu, tingkat kemiskinan Banten terlihat naik 0,98 persen. Alhasil, kemiskinan di wilayah tersebut berada di posisi 5,92 persen dari sebelumnya 4,94 persen.

Suhariyanto menyebut kenaikan jumlah kemiskinan di daerah itu dipengaruhi oleh penurunan pendapatan masyarakat yang terjadi akibat pandemi virus corona. Sebagai pengingat, wabah corona resmi masuk ke Indonesia mulai Maret 2020 lalu.

BPS menyatakan kenaikan kemiskinan yang terjadi itu sejalan dengan pertumbuhan ekonomi belakangan ini. Diketahui, ekonomi nasional anjlok dari kisaran 5 persen ke level 2,97 persen pada tiga bulan pertama tahun ini.

Sementara, pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta kuartal I 2020 hanya 5,06 persen atau melambat dari sebelumnya yang berada di level 5,96 persen. Realisasi itu menjadi yang terendah dalam 10 tahun terakhir.

Lalu, pertumbuhan ekonomi Banten anjlok dari 5,53 persen menjadi 3,09 persen pada kuartal I 2020. Begitu pula dengan Jawa Barat, pertumbuhan ekonomi wilayah itu turun drastis dari 4,11 persen menjadi hanya 2,73 persen pada kuartal I 2020.

Ekonom dari Perbanas Institute Piter Abdullah Redjalam mengaku tak kaget dengan kenaikan tingkat kemiskinan di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Pasalnya, mayoritas masyarakat di tiga wilayah itu bekerja sebagai buruh.

Buruh identik dengan industri manufaktur. Perusahaan di sektor manufaktur umumnya memiliki pabrik yang mempekerjakan banyak karyawan.

“Sementara di tengah pandemi corona dunia itu yang paling tertekan manufaktur. Perusahaan banyak mempekerjakan buruh. Jadi ketika perusahaan tertekan, buruh ini langsung terdampak,” ujar Piter kepada CNNIndonesia.com, Kamis (15/7).

Ia mengatakan di tengah corona, kinerja industri manufaktur memang mengalami tekanan hebat. Tekanan membuat banyak perusahaan tak bisa melakukan ekspansi.
Lihat juga: Corona, Kemiskinan dan Ketimpangan DKI Naik Paling Tinggi

“Kalau tidak menambah ekspansi, di tengah situasi ekonomi sulit biasanya mereka lakukan efisiensi. Salah satunya adalah merumahkan karyawan,” tutur Piter.

Karena kesulitan itu, perusahaan berupaya mengurangi beban mereka dengan berbagai cara. Termasuk, merumahkan bahkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan mereka.

“PHK itu paling banyak di kota besar. PHK itu yang menyebabkan kemiskinan. Jadi wajar lonjakan kemiskinan terjadi di kota besar, khususnya di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten,” terang Piter.

Ia memproyeksi kenaikan tingkat kemiskinan berlanjut hingga September 2020 mendatang. Peningkatannya berpotensi lebih tinggi dari Maret 2020.

Kalau kenaikan tingkat kemiskinan di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat rata-rata masih 1 persen pada Maret 2020, Piter meramalkan jumlahnya bisa naik hingga 3 persen pada September 2020. Ini karena efek dari pandemi corona akan semakin terasa setelah Maret 2020.

“Periode Maret 2020 saja naiknya sudah 1 persen. Padahal efek corona baru sedikit. Nanti naiknya bisa lebih tinggi lagi, bisa 2 persen sampai 3 persen,” jelas Piter.

Sementara, Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri menyatakan kota-kota besar banyak yang bergantung dengan sektor jasa. Salah satunya di DKI Jakarta.

“Jasa-jasa ini banyak sektor pekerja informal, termasuk misalnya ojek online. Jasa kan bergantung dengan konsumsi masyarakat, kalau konsumsi turun maka sektor jasa akan jatuh,” kata Yose.

Ia bilang pandemi virus corona telah membuat daya beli masyarakat turun. Akibatnya, permintaan di seluruh sektor, termasuk jasa juga merosot.

Tak heran, pendapatan pelaku usaha di sektor jasa juga akan turun. Mereka yang biasanya berada di kelompok menengah turun ke kelompok menengah ke bawah.

“Orang-orang yang berada di sektor jasa tidak memiliki pendapat yang cukup. Misalnya ojek online biasa dapat Rp3 juta sampai Rp4 juta, tidak ada pendapatan jadi jatuh ke jurang kemiskinan,” imbuh Yose.

Sama seperti Piter, ia menilai tingkat kemiskinan, khususnya di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten akan terus meningkat. Pasalnya, dampak dari pandemi akan terlihat pada data kemiskinan September 2020 mendatang.

“Statistik akan lebih pada September 2020. Ini terutama di kota-kota besar, termasuk DKI Jakarta. Pengaruh pandemi virus corona akan sangat terasa di perkotaan,” pungkas dia.

Yuanita R Silalahi
%d blogger menyukai ini: