Nilai Tukar Rupiah Kembali Menguat Dalam 5 Hari Perdagangan Beruntun

Nilai tukar rupiah kembali menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (28/7/2020) melanjutkan kinerja positif awal pekan kemarin.

Jika melihat sejak pekan lalu, rupiah sudah mencatat penguatan dalam 5 hari perdagangan beruntun. “Pesta” jual dolar AS masih menjadi pemicu utama penguatan rupiah belakangan ini.

Melansir data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,28% di Rp 14.450/US$. Apresiasi rupiah sempat bertambah hingga 0,48% ke Rp 14.420/US$, sekaligus menjadi level terkuat intraday.

Penguatan rupiah harus terpangkas, pada pukul 12:00 WIB berada di level Rp 14.480/US$, menguat hanya 0,07% di pasar spot.

Indeks dolar AS yang terus nyungsep memberikan peluang rupiah memperpanjang rentetan penguatan menjadi 6 hari beruntun. Pagi ini indeks dolar AS berada di kisaran 93.503 yang merupakan level terendah sejak Juni 2018.

Indeks ini dibentuk dari 6 mata uang, euro, yen, poundsterling, dolar Kanada, franc Swiss, dan krona Swedia, tetapi juga menjadi indikator kekuatan dolar AS terhadap mata uang lainnya.

Merosotnya indeks dolar tersebut menjadi indkasi aksi jual the greenback. Sebabnya, AS diramal akan tertinggal oleh negara-negara lainnya dalam meredam penyebaran virus corona, serta membangkitkan lagi perekonomioan.

Jumlah kasus penyakit akibat virus corona (Covid-19) masih terus menanjak di AS, hal tersebut membuat pemulihan ekonomi terancam lebih lama.

Di kuartal I-2020, perekonomian AS mengalami kontraksi 5%, sementara di kuartal II-2020, hasil polling Reuters menunjukkan produk domestik bruto (PDB) AS diprediksi berkontraksi 32,4%, benar-benar nyungsep. Sehingga hanya keajaiban yang luar biasa yang bisa membuat AS lepas dari resesi di kuartal II-2020 ini.

Sebelum tahun ini, AS sudah mengalami 33 kali resesi sejak tahun 1854. Sementara jika dilihat sejak tahun 1980, Negeri Paman Sam mengalami empat kali resesi, termasuk yang terjadi saat krisis finansial global 2008.

AS bahkan pernah mengalami yang lebih parah dari resesi, yakni Depresi Besar (Great Depression) atau resesi yang berlangsung selama 1 dekade, pada tahun 1930an.

Data PDB AS baru akan dirilis pada Kamis (30/7/2020) pekan depan, sekaligus menjadi peresmian resesi ke-34.
Sementara itu saat ini sudah masuk kuartal III-2020, tetapi penyebaran virus corona masih belum berhasil diredam, sehingga ada risiko resesi AS akan berlangsung lebih lama.

Hal itu memicu “pesta” jual dolar AS.

“Langkah melawan dolar sekarang meluas. Tidak hanya lebih banyak negara dengan mata uang pasar negara berkembang, tetapi akan lebih banyak ‘peserta’,” kata Kepala Strategi Pasar di Bannockburn Global Forex Marc Chandler dikutip dari CNBC International.

“Manajer aset, spekulan dan kelompok besar lainnya memberikan penilaian … ikut serta dalam pelemahan ini.”

Meski demikian, rupiah masih belum mampu ngegas maksimal, sebabnya, jumlah kasus Covid-19 di Indonesia yang terus menanjak. Per 27 Juli kemarin, jumlah kasus Covid-19 mencapai 100.303 orang, bertambah sebanyak 1.525 orang dari hari sebelumnya.

DKI kembali penambahan kasus yang signifikan, sehingga ada risiko kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kembali diperpanjang. Dampaknya, pemulihan ekonomi akan berjalan lambat, dan risiko resesi semakin besar.

Yuanita R Silalahi
%d blogger menyukai ini: