Pandemi Sebagai Ajang Audisi Calon RI 1

Siapapun yang piawai memanfaatkan panggung dan momentum pandemi, dan diyakini akan menjadi investasi politik menuju kontestasi politik 2024.

Fenomena ini tentu memunculkan pertanyaan menarik dalam konteks momentum waktu dan strategi politik capres. Apakah betul panggung pandemi akan menjadi eskalator politik strategis bagi para pejabat publik–khususnya kepala daerah–menuju kompetisi Pilpres 2024?

Berdasarkan pengalaman pilpres-pilpres sebelumnya, ada tiga faktor sangat menentukan nama-nama figur yang akan berpotensi besar menggelinding tertangkap radar politik capres terkuat setahun menjelang perhelatan pilpres. Pertama, siapa saja yang memiliki panggung strategis dan secara aktif-atraktif berada di atas panggung politik tersebut.

Kedua, siapa yang terasosiasi kuat mewakili profil gaya kepemimpinan dan komunikasi yang sedang digemari tren mayoritas pemilih setahun menjelang kompetisi.

Ketiga, siapa yang paling tepat secara waktu mendapatkan momentum politik itu. Karena itu, panggung strategis, gaya figur, dan momentum waktu merupakan tiga kombinasi penentu siapa yang akan berada di puncak kontestasi politik elektoral.

Jawaban sementara ini tentu memunculkan pertanyaanlanjutan dalam konteks pandemi hari-hari ini, sejauh mana ‘panggung pandemi’ akan menjadi titik tolak seleksi kepemimpinan nasional. Apakah momentum pandemi akan menjadi panggung strategis elektoral meng­antarkan figur capres kuat hingga 2024 atau sekadar menjadi akademi capres pandemi?

Pascapandemi nanti, sadar atau tidak akan terbentuk persepsi publik terkait keempat gubernur dalam menangani krisis covid-19. Meminjam istilah Erving Goffman (1959) dalam The Presentation of Self in Everyday Life, apa yang dilakukan keempat gubernur ini bukan hanya bagian dari impresi (kesan) tanpa sadar, melainkan juga impresi yang dilakukan dengan sadar.

Impresi politik yang dilakukan para gubernur ini tentu bukan sekadar untuk kepentingan mengendalikan pengaruh atau untuk mencapai tujuan tertentu terkait kebijakan pemerintahan daerah, tetapi sangat mungkin termasuk sedang membangun persepsi politik untuk konteks modal politik menuju 2024. Pemanfaatan krisis pandemi sebagai panggung politik oleh pejabat publik, termasuk keempat gubernur ini, tentu tak dapat dihindari dan dipungkiri.

Anies Baswedan yang unggul dari sisi komunikasi dan relatif berhasil mencitrakan diri. Anies, misalnya, memiliki gaya komunikasi dengan Efek Kejut nya mengais pencitraan melalui media massa yang digunakan sebagai pencari perhatian bagi khalayak umum berikut pemerintahan pusat, belum lagi dengan polemik beberapa menteri karena amburadulnya tata kelola bansos dengan jurus ngelesnya data kependudukan lama.

Begitu juga Ganjar Pranowo yang komunikatif dalam merespons, tergolong mampu menguasai panggung media dengan gaya yang santai melalui berbagai kebijakan. Kepemimpinan Ganjar yang cakap berkomunikasi di panggung dan piawai dalam memanfaatkan momentum bak duplikasi Bung Karno yang merupakan pemimpin solidarity maker.

Dua kepala daerah lainnya, Khofifah Indar Parawansa dan Ridwan Kamil, memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda. Cara kerja Ridwan Kamil yang lebih sistematis mengesankan dirinya sebagai sosok teknokrat yang menyentuh hingga ke level teknis. Hal itu terlihat dari kemampuan teknokratiknya menghadirkan aplikasi penanganan covid-19 yang dapat diakses masyarakat, sekaligus menjelaskan detail teknis bantuan secara langsung kepada masyarakat.

Gaya kepemimpinan Ridwan Kamil tergolong seperti Bung Hatta yang kaya akan konsep teknis dalam penentuan kebijakan. Sedikit berbeda dari Ridwan Kamil, Khofifah cenderung melakukan cara adaptif dalam menentukan berbagai kebijakan. Khofifah terlibat detail dan runtut mulai dari proses strategis hingga teknis pembuatan kebijakan.

Yuanita R Silalahi
%d blogger menyukai ini: