Perusahaan Pindahan dari China Mulai Groundbreaking di Subang

PT Meiloon Technology Indonesia, perusahaan asal Taiwan yang merelokasi investasi dari Suzhou, China ke Indonesia melakukan peletakan batu pertama (groundbreaking) pabriknya senilai total US$90 juta di Subang, Jawa Barat.

“Hari ini, adalah tonggak bersejarah penting untuk Meiloon. Kami adalah perusahaan terbuka dengan pengalaman selama 48 tahun. Kami adalah perusahaan OEM dan ODM terkemuka untuk produk speaker ternama seperti JBL dan lainnya,” kata CFO Meiloon Eva Kuo dikutip dari Antara, Selasa (21/7).

Kuo menuturkan dalam dua tahun terakhir, pihaknya telah melalukan survei dan evaluasi ke berbagai negara dan akhirnya memilih Subang, Jawa Barat, sebagai lokasi terbaik investasinya.

“Kami berkomitmen dengan investasi kami dan akan buka ribuan peluang pekerjaan bagi masyarakat lokal, transfer ilmu pengetahuan dan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat,” jelas Kuo.

Sementara itu, Kepala BKPM Bahlil Lahadalia berharap groundbreaking Meiloon jadi momentum tepat untuk mempercepat realisasi industri di bidang tersebut. Ia juga mengatakan Meiloon mempunyai komitmen yang kuat untuk merelokasikan pabriknya ke Indonesia.

“Dalam pemaparannya kepada BKPM, mereka katakan bahwa akhir bulan ini sudah bisa memproduksi. Bahkan produksinya berorientasi ekspor,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan groundbreaking pabrik perusahaan speaker audio video elektronik asal Taiwan itu menjadi momentum optimisme ekonomi di tengah pandemi virus corona.

Emil juga mengatakan Subang merupakan kawasan emas dengan akses pelabuhan, bandara, jalan tol, hingga rel kereta api.

“Semua infrastruktur terbaik ada di sini. Dengan groundbreaking hari ini, jadi awal kebangkitan ekonomi Jawa Barat, Subang, dan ekonomi Indonesia saat pandemi covid-19,” katanya.

Berdasarkan data BKPM, rencana investasi Meiloon mencapai US$90 juta dengan penyerapan tenaga kerja hingga 8.000 orang dan ditargetkan mulai produksi pada semester II 2020 dan 100 persen produk untuk kebutuhan ekspor.

Yuanita R Silalahi
%d blogger menyukai ini: