#10YearsChallenge, Upaya Ma’ruf Saingi Gimik Sandiaga

Calon wakil presiden nomor urut 01 Ma’ruf Amin melontarkan beberapa istilah baru dalam Debat Cawapres Pilpres 2019 saat menghadapi lawannya, Sandiaga Uno.

Setidaknya ada dua kata yang diucapkan Ma’ruf dan menjadi sorotan publik, yakni #10YearsChallenge dan DUDI yang merupakan singkatan dari dunia usaha dan dunia industri.

Saat membahas ketenagakerjaan, Ma’ruf mengatakan saat ini telah tumbuh usaha-usaha seperti start up, unicorn, bahkan akan ada decacorn.

“Demikian tenaga kita harus kita siapkan, ini dalam rangka menyiapkan anak-anak kita menghadapi tantangan 10 years challenge,” kata Ma’ruf.

Istilah #10YearsChallenge merupakan tagar yang sempat viral pada awal 2019 saat netizen membagikan foto mereka tahun ini disandingkan dengan foto sepuluh tahun sebelumnya.

Sementara, saat memaparkan gagasan soal pengelolaan riset, Ma’ruf menyatakan akan mengikutsertakan semua pihak, termasuk dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

“Kita merencanakan untuk mengikutsertakan semua pihak, terutama pemerintah, akademisi, dan DUDI, dunia usaha dan dunia industri,” kata Ma’ruf.

Dalam catatan CNNIndonesia.com, Ma’ruf sedikitnya mengucapkan #10YearsChallenge dan DUDI masing-masing sebanyak tiga kali.

Pengamat komunikasi politik Silvanus Alvin menyebut pengulangan dua istilah itu adalah upaya Ma’ruf menyaingi Sandi sebagai lawan politik yang lebih muda usianya.

“Maruf ingin menunjukkan milenial itu bukan soal umur semata, tapi dari perilaku dan diksi gaul anak Jakarta Selatan seperti #10YearsChallange itu,” ujar Alvin kepada CNNIndonesia.com, Minggu (17/3).

Upaya ini untuk mengakali umur Ma’ruf yang bahkan lebih tua dari usia Republik Indonesia, yakni 76 tahun. Dia melawan Sandi yang kini berusia 49 tahun.

Hal ini kemungkinan dilakukan Ma’ruf guna menyasar kaum muda yang berjumlah sekitar 70-80 juta atau sekitar 40 persen dari total pemilih. Namun, menurut Alvin, usaha Ma’ruf itu terlalu memaksakan.

“Saya rasa tidak efektif. Itu kalimat gantung, lantas kenapa 10 tahun lagi? Ada apa? Itu harus dijelaskan,” ucapnya.

Alvin menilai Sandi menang telak jika berbicara soal kaum muda. Selain dari segi usia, gimik politik yang dibawa Sandi sangat merepresentasikan darah muda.

Misalnya, saat debat Sandi membawa botol berisi air dan potongan jeruk lemon atau yang dikenal dengan infused water. Selain sedang hits, minuman ini juga lekat dengan gaya hidup sehat anak muda zaman sekarang.

Selain itu, Sandi memulai hari debat dengan bermain basket bersama Agus Harimurti Yudhoyono, salah satu tokoh muda potensial dari Partai Demokrat. Gimik Sandi dinilai lebih paripurna.

“Ada keselarasan antara kegiatan pra-debat dan debat. Saat pra-debat, Sandiaga main basket. Lagi-lagi targetnya anak-anak muda milenial,” kata Alvin.

“Kondisi ini membuktikan debat memang ajang pertunjukkan atau political perfomance. Siapa yang memberikan pertunjukkan terbaiklah yang menang,” tambahnya.

Debat cawapres digelar di Hotel Sultan, Jakarta, pada pukul 20.00 WIB. Dalam debat ketiga kali ini, kedua cawapres membahas soal ketenagakerjaan, pendidikan, kesehatan, sosial dan budaya.

SUMBER : CNNINDONESIA

Andi G Prakoso
%d blogger menyukai ini: