Dana BST Warga Sumut Disunat Aparat Dusun sampai Rp 500.000 Per Keluarga

Bantuan Sosial Tunai (BLT) dari pemerintah senilai Rp 600.000 per keluarga, ternyata tidak diterima secara utuh oleh sejumlah warga di Sumut. Warga mengaku dana tersebut dipotong sampai lebih dari separuh oleh petugas.

Seperti diungkapkan Robi Mustafa (40), warga Desa Sumberejo, Kecamatan Pagar Merbau, Kabupaten Deli Serdang, Sumut, dirinya hanya menerima Rp 150.000 untuk BST bulan April.

“Awalnya, uang yang kami ambil dari kantor desa sebesar Rp 600.000. Tapi setelah tiba di rumah, kami didatangi kepala dusun bersama stafnya. Mereka meminta uang kembali sebesar Rp 450.000. Jadinya saya hanya menerima Rp 150.000,” tutur Robi yang ditemui Beritasatu.com di rumahnya).

Menurut Robi, alasan kepala dusun meminta Rp 450.000 itu untuk dibagikan kepada warga lain yang tidak mendapatkan dana BLT.

“Katanya, banyak warga yang tidak kebagian. Ada sekitar 109 keluarga di sini yang menerima BST. Saya tak tahu pasti, apakah warga lainnya itu juga dipotong dana BST mereka,” ujar Robi.

Robi mengaku kecewa dan tak terima tindakan aparat dusun yang menyunat hak mereka. Apalagi tak pernah ada pemberitahuan tentang pemotongan dana itu. Namun karena tak ingin terjadi keributan, Robi merelakan pemotongan dengan jumlah besar itu.

Dua tetangga Robi, juga mengalami nasib yang sama. Yakni Nenek Jarni dan Busono, dana BST mereka dipotong Rp 450.000 sehingga hanya terima Rp 150.000. Alasannya sama, untuk warga lainnya yang tak dapat BST.

Peristiwa ini pun langsung jadi buah bibir. Polisi langsung turun ke Desa Sambi Rejo. Namun, kepala dusun berinisial R yang mendengar ada polisi datang ke desanya, langsung buru-buru menemui warga dan mengembalikan uang yang telah diambilnya.

Kepala Desa Sumberejo Edward Manik sendiri, membantah adanya penyunatan dana BST itu. Dihubungi melalui telepon selularnya, Edward mengatakan, dana bantuan itu diambil untuk dibagikan kepada warga tidak terdata sebagai penerima BLT, sebab banyak warga yang tidak menerima.

“Itu bukan penyunatan pak, tapi kepala dusun berupayamembagikan dana yang ada untuk dibagikan ke warga yang belum kebagian,” jelasnya.

Keterangan yang dihimpun Beritasatu.com menyebutkan, kasus pemotongan dana BST juga dialami warga di Desa Buluduri, Kecamatan Lae Parira, Kabupaten Dairi. Nilai BST yang disunat juga jauh lebih besar sekitar Rp 500.000 per keluarga.

Kasubbag Humas Polres Dairi, Iptu Donni Saleh mengatakan, kasus ini sudah dalam penyelidikan berdasarkan pengaduan Togu Sinaga dengan laporan pengaduan nomor LP/147/V/SU/DR/SPK tanggal 13 Mei 2019.

“Sudah ada satu tersangka yakni Eni Aritonang, perangkat desa di Desa Buluduri. Ia dijerat Pasal 368 KUHP tentang pemerasan. Ada uang sekitar Rp 12,3 juta yang diamankan,” ungkap Donni.

Alfian G Raditya
%d blogger menyukai ini: