Di Tangan Risma, Surabaya Lebih Indah dari Jakarta

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengakui, tak mudah menemukan sosok pengganti Tri Rismaharini untuk memimpin Kota Surabaya, Jawa Timur. Disebutkan, berada di bawah kepemimpinan Tri Rismaharini, Surabaya menjelma menjadi lebih hijau, indah dan asri.

Wajahnya tidak pernah tersapu make-up berlebihan. Bahkan, wajah wanita yang lahir di Kediri, 20 November 1961, ini lebih sering tampak berlapis keringat. Tampil seadanya adalah prinsip kesederhanaan yang tidak bisa disamakan dengan kepedulian dan keseriusannya dalam bekerja. Apalagi, jika sudah berbicara soal keindahan dan kebersihan kota, jangan coba-coba menawarkan konsep ala kadarnya di hadapan Tri Rismaharini.

Sebagai mantan kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya, Risma yang menjadi wali kota wanita pertama di Kota Pahlawan ini sukses menata ibu kota Jawa Timur menjadi kota yang bersih, penuh taman, dan bebas banjir. Lahan tak terawat di penjuru Surabaya diubah menjadi taman kota yang asri. Saat ini, sedikitnya ada 11 taman kota berskala besar dengan berbagai tema sebagai sarana rekreasi warga.

Karena hijau dan lengkapnya fasilitas taman yang ia buat, salah satu taman di Surabaya, yaitu Taman Bungkul, mendapat penghargaan dunia. Taman ini mendapat predikat the 2013 Asian Townscape Sector Award dari kantor regional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) wilayah Asia dan Pasifik.

Selain Taman Bungkul dengan konsep all in one entertainment park, sederet taman kota yang dibangun pada era Risma adalah taman di Bundaran Dolog, Taman Undaan, serta taman di Bawean. Beberapa tempat lainnya yang dulunya mati juga sekarang tiap malam dipenuhi dengan warga Surabaya.

Kecuali taman, Risma juga berjasa membangun pedestrian bagi pejalan kaki dengan konsep modern di sepanjang Jalan Basuki Rahmat yang dilanjutkan hingga Jalan Tunjungan, Blauran, dan Panglima Sudirman.

Lantaran kepemimpinan Risma yang mengedepankan keindahan dan kebersihan kota, Surabaya meraih tiga kali Piala Adipura, yaitu pada 2011, 2012, dan 2013, untuk kategori Kota Metropolitan. Kepemimpinan Risma juga membawa Surabaya menjadi kota terbaik se-Asia-Pasifik versi Citynet atas partisipasi pemerintah kota dan rakyat dalam mengelola lingkungan pada 2012. Pada Oktober 2013, Kota Surabaya memperoleh penghargaan tingkat Asia-Pasifik, yaitu Future Government Awards 2013 di dua bidang sekaligus, yaitu Data Center dan Inklusi Digital menyisihkan 800 kota di seluruh Asia-Pasifik.

Penutupan Dolly

Prestasi paling monumental Risma dalam mengubah wajah Surabaya adalah menutup lokalisasi Dolly. Arus demonstrasi dan ancaman berbau klenik (santet) tak membuat Risma mundur. Dia bertekad mengubah lokalisasi menjadi kawasan smart city. Risma meyakini, penutupan lokalisasi adalah untuk kebaikan masyarakat. Lebih serius lagi adalah memperbaiki mental warga yang lama tinggal di area lokalisasi.

Berkat keberanian dan rencana strategis penanganan warga Dolly pascapenutupan, lokalisasi yang konon terbesar di Asia Tenggara itu pun akhirnya ditutup pada 18 Juni 2014. Sebelumnya, Risma lebih dulu menutup empat lokalisasi, yakni Sememi Jaya, Tambak Asri, Bangunsari, dan Klakah Rejo. Total ada enam lokalisasi telah ditutup Risma selama 2014.

E-government

Meyakini perlu banyak dana untuk membangun kotanya, Risma bertekad menggunakan APBD Kota Surabaya untuk kepentingan rakyat. Prinsipnya, APBD jangan sampai merembes, apalagi bocor.

Untuk mencegahnya, Risma memberlakukan sistem serbaelektronik. Dengan adanya sistem e-government, e-planning, e-budgeting, e-project, e-procurement, e-delivery, e-controlling, dan e-performance, “Surabaya bisa menghemat Rp 600 miliar sampai Rp 800 miliar setiap tahunnya,” tuturnya.

Penerapan e-government di Kota Surabaya dianggap sangat inovatif memerangi korupsi. Pembelian barang apa pun tercatat dengan baik. Dinas tidak bisa macam-macam karena akan ketahuan. Harga barang yang dibeli satu dinas harus sama dengan dinas lainnya. Inilah program reformasi birokrasi Risma yang kini terus berjalan. Sistem informasi manajamen pemerintahan, pelayanan masyarakat, dan komunikasi masyarakat juga sudah menggunakan sistem elektronik dan online.

Sejumlah indikator statistik bisa dijadikan tolok ukur kesuksesan Risma di bidang e-government. Risma berhasil menjaga pertumbuhan ekonomi Surabaya di atas rata-rata nasional dan Provinsi Jawa Timur dengan pertumbuhan stabil di atas tujuh persen.

“(Surabaya) melebihi keindahan Ibu Kota Jakarta Raya. Ini apresiasi tulus,” kata Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto dalam konferensi pers virtual pengumuman gelombang IV calon kepala daerah yang diusung PDIP di Jakarta, Jumat (28/08/2020).

Dalam konferensi pers tersebut, bakal calon wali kota dan wakil wali kota Surabaya batal diumumkan. Padahal sebelumnya santer beredar jagoan PDIP akan diumumkan.

Menurut Hasto, mengaca pada kepemimpinan Risma, PDIP menangkap keinginan masyarakat Surabaya agar pembangunan berlanjut. Dia mengibaratkan warga Surabaya tidak ingin ada jalan tol di tengah kota yang tiba-tiba merusak taman atau ada pelaku ekonomi hitam yang hanya mengejar keuntungan.
Terkait alotnya pencalonan di Pilwalkot Surabaya yang hingga gelombang IV belum juga diumumkan, Hasto menyebutkan PDIP sangat selektif dalam memilih figur.

Menurutnya, sejauh ini ada 15 nama yang disetorkan kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri Hasto menegaskan, Megawati memiliki hak prerogratif untuk menentukan pasangan calon tersebut. Namun sebelum itu, partai akan memilih momentum tepat dan melakukan konsolidasi bersama terlebih dahulu.

Hasto enggan membocorkan. Namun dia mengakui Kepala Bappeko Surabaya Eri Cahyadi termasuk di antaranya. Untuk diketahui, Eri disebut-sebut sebagai orang kepercayaan Risma di Pemkot Surabaya.

“Nama Mas Eri memang masuk di dalam proses itu. Demikian pula muncul beberapa nama yang lain,” tutur Hasto.

Bentang Nusantara
%d blogger menyukai ini: