Indonesia Negara Asia Pertama Yang Berani Terbitkan Global Bond

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, Indonesia menjadi negara pertama di Asia yang menerbitkan obligasi global atau global bond di tengah pandemi Covid-19 sejak Februari lalu.

“Sejak pandemi diumumkan, Februari hingga Maret lalu tidak ada satu pun negara Asia yang masuk ke (pasar) global bonds karena melihat volatilitas dan gejolak yang sangat besar,” tuturnya dalam konferensi pers virtual.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan baru saja menerbitkan iga seri Surat Utang Negara (SUN) global berdenominasi US Dollar (USD Bonds) dengan total nominal sebesar US$ 4,3 miliar. Salah satunya adalah seri dengan tenor terpanjang dalam sejarah penerbitan Indonesia yaitu 50 tahun.

Meski kondisi pasar keuangan global volatil. Sri Mulyani mengatakan, pemerintah memperoleh tingkat imbal hasil (yield) yang terbilang menguntungkan alias cukup rendah.

Pada transaksi USD Bonds kali ini, yield yang dicapai untuk tenor 10,5 tahun, 30,5 tahun dan 50 tahun ini masing-masing adalah 3,9%, 4,25% dan 4,5%. Yield ketiga tenor tersebut masing-masing lebih ketat 25 bps, 30 bps dan 40 bps dari level initial price guidance.

Indonesia akan mengeluarkan sekitar US $ 27 miliar dalam apa yang disebut “Obligasi Pandemi” untuk membiayai upaya mengatasi krisis kesehatan dan dampak ekonomi akibat wabah Covid-19 (coronavirus), pemerintah mengumumkan pada Selasa (7 April).

Aktivitas pabrik di ekonomi terbesar di Asia Tenggara mencapai rekor terendah, dengan pembuat mobil Jepang Suzuki dan Honda menjadi perusahaan terbaru yang mengumumkan suspensi produksi sementara di pabrik mereka di nusantara.

Pemerintah telah memangkas proyeksi pertumbuhan tahunan dan memperingatkan ekonomi bahkan dapat mengalami kontraksi dalam skenario terburuk.

Ini akan menghabiskan tambahan US $ 25 miliar untuk mengurangi dampak ekonomi dari virus tersebut.

Sementara itu, rupiah sebelumnya turun ke rekor terendah dekat dan merupakan salah satu mata uang paling parah di Asia.

Sebelumnya pada hari itu, ekuitas Asia naik lagi karena investor menangkap tanda-tanda perlambatan penyebaran coronavirus di hotspot utama dan beberapa pemerintah mulai membuat rencana untuk meringankan pembatasan yang bertujuan untuk mengendalikan penyakit.

Bahkan, Sri Mulyani melanjutkan, posisi yield yang didapatkan pemerintah pada penerbitan kali ini lebih baik ketimbang penerbitan pada tahun 2015 dan 2018 di mana terjadi arus modal keluar (capital outflow) yang cukup besar dan pelemahan kurs rupiah yang signifikan saat itu.

“Kita mampu mendapatkan pricing atau yield yang lebih favorable atau lebih rendah. Ini sesuatu yg cukup positif menggambarkan reputasi Indonesia yang cukup stabil selama ini,” pungkasnya.

Adapun ketiga seri global bond yang diterbitkan ini diperkirakan akan memperoleh peringkat Baa2 dari Moody’s, BBB dari Standard & Poor’s, dan BBB dari Fitch.

Pencatatan penerbitan dilakukan pada Singapore Stock Exchange dan Frankfurt Stock Exchange. Joint Bookrunners dalam transaksi ini adalah Citigroup, Deutsche Bank, Goldman Sachs, HSBC dan Standard Chartered Bank.

Sedangkan yang bertindak sebagai co-Managers adalah PT Danareksa Sekuritas dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk.

Yuanita R Silalahi
%d blogger menyukai ini: