Jokowi di Pusaran Segitiga Bermuda

Mahfud MD blak-blakan. Di ILC. Bongkar melo-drama penetapan cawapres. Beberapa nama dieja Mahfud dalam rangkaian peristiwa detik-detik menuju deklarasi Jokowi. Satu persatu ditelanjangi. Ada empat nama beken: Muhaimin, Said Aqil Sirodj, Ma’ruf Amin dan Romahurmuziy. Ada beberapa nama lain yang juga disebut. Tapi, tak terlalu menarik untuk ditulis.

Saya tidak kecewa. Hanya kaget saja. Kata Mahfud. Dengan sikap tenang dan senyum seolah ada kepuasan. Beda dengan wajah Nusron Wahid dan Masinton Pasaribu. Nampak sangat cemas ketika disorot kamera.
Apa betul Mahfud tidak kecewa? Ungkapan Mahfud terkait tragedi di belakang panggung istana dibaca publik sebagai bentuk kekecewaan. Dibungkus dengan kalimat dan senyum model apapun, publik telah membaca narasi Mahfud yang penuh kecewa. Apalagi baju untuk daftar ke KPU sudah dititip di istana. Wajar! Siapapun yang dalam posisi Mahfud, sulit untuk tidak kecewa. Sudah di-PHP, dituduh bukan kader NU lagi. Alah mak…

Teman dan simpatisan Mahfud tentu tidak terima. Selain alumni pesantren NU, Mahfud adalah orang yang dekat dan dipercaya Gus Dur. Mana mungkin Mahfud bukan kader NU? Apalagi Mahfud asli Madura.
Soal Madura ada cerita unik. Saat Gus Dur berkunjung ke Madura, duduk di sebelahnya seorang Kyai yang bercerita: Gus, Alhamdulillah, di Madura semuanya muslim. Kecuali sedikit yang Muhammadiyah.
Jangan tanya ke-NU-an orang Madura. Sampai-sampai ada teman wartawan buat guyonan: Mahfud ketika lahir, nangisnya aja NU….NU….NU… Artinya, dari lahir Mahfud itu sudah NU. Gak perlu lagi ditanyakan kartu anggotanya.
Koalisi PBNU-PKB yang diinisiasi Muhaimin, Ma’ruf Amin dan Said Aqil Sirodj dalam cerita Mahfud telah melakukan tekanan kepada istana. Ambil kader NU, atau NU tidak mendukung.
Siapa yang dianggap kader NU itu? Yang jelas bukan Mahfud. Dalam konteks ini, ada tiga nama penting; Muhaimin, Ma’ruf Amin dan Said Aqil Siradj.

Ketiga tokoh ini tampak kompak. Saling legawa jika yang diambil salah satunya. Siapapun itu, asal Jokowi pilih satu di antara tiga nama itu, NU mendukung. Betulkah?
Di lain kesempatan, Muhaimin cerita ke Mahfud soal manuver Ma’ruf Amin yang minta salah seorang ketua PBNU pressure istana via media. Apakah Cak Imin kecewa karena tidak dipilih sebagai cawapres? Dan hanya selang beberapa hari, Said Aqil pun menerima kunjungan Prabowo-Sandi. Said berjanji akan memberikan kartu keanggotaan NU untuk Prabowo. Tanda kecewakah? Lalu, apakah Said Aqil akan tarik dukungan dari Jokowi lantaran tidak dipilih jadi cawapres? Biarlah publik diberi ruang untuk menganalisis.

Dalam masalah ini, Mahfud dapat aplaus publik. ILC jadi makin ramai gara-gara curhat Mahfud. Tapi, di mata pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin, mungkin akan ada bisikan: pecat aja Mahfud. Dianggap telah merusak barisan politik.
Bagi Rocky Gerung, sosok yang sekarang jadi artis ILC, Mahfud telah mengungkap imoralitas politik negeri ini. Cerita Mahfud adalah sebuah tontonan publik yang menyedihkan. Ada seorang presiden yang begitu lemah sehingga tak bisa berkomitmen terhadap janjinya.

Apa.yang diputuskan Jokowi soal cawapres, menunjukkan ia tidak punya pendirian. Ia rapuh ketika berdiri di dalam tekanan. Salah satu buktinya, Jokowi tak mampu berkomitmen kepada Mahfud karena alasan ada tekanan. Bagaimana ia jadi pemimpin jika hilang komitmen ketika menghadapi tekanan? Ini imoralitas politik, kata Rocky Gerung.
Tidakkah Mahfud MD berjiwa besar? Tak mempersoalkan terpilihnya Ma’ruf Amin? Demi kepentingan bangsa yang lebih besar. Sanggah seorang tokoh kepada Rocky Gerung.
Kalimat Mahfud MD nampak sangat bijak. Menyejukkan. Tapi, kronologi yang diceritakan Mahfud terkait dengan pergantian nama cawapres memberi petunjuk betapa ia sangat tersinggung. Terutama kepada Romahurmuziy. ILC menjadi tempat curhat yang tepat untuk mengungkapkan ketersinggungannya itu. Ditonton puluhan juta rakyat Indonesia. Pesan Mahfud pun sampai.

Apa pesan yang ingin disampaikan? Pertama, itulah fakta koalisi istana. Tampak adem, tapi sesungguhnya gaduh. Panggung depan kontras dengan panggung belakang. Biasa dalam dramaturgi politik. Kedua, terjun di dunia politik mesti siap dengan semua kemungkinan. Termasuk kemungkinan di-PHP. Ketiga, setiap politisi mesti waspada, akan selalu ada strategi telikung menelikung. Termasuk oleh teman sendiri, bahkan satu ormas. Keempat, orang yang tampak baik dan shaleh, belum tentu ia baik dan tetap shaleh ketika berurusan dengan jabatan politik. Kelima, negeri ini butuh para pemimpin yang punya komitmen moral dan memiliki kemandirian. Sehingga, tak rapuh jika ada tekanan.
Akibat dari cerita Mahfud ini, publik kaget? Tentu saja. Terutama bagi mereka yang tak begitu ngerti soal pragmatisme politik.

Ini sebuah tragedi. Dinamika Mahfud-PKB-PBNU bisa jadi Segitiga Bermuda bagi Jokowi. Jika Jokowi tak mampu keluar dari pusaran angin dan gelombangnya, akan terjadi turbulensi yang membuat nama Jokowi bisa lenyap.
Secanggih apapun pesawat dan sebesar apapun kapal jika sudah terjebak dalam Segitiga Bermuda, besar kemungkinan akan digulung angin atau ombak. Lenyap! Apakah Jokowi akan lenyap juga? Tunggu 2019.

Sumber : Kumparan

Andi G Prakoso

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: