Kapitra Ampera : KAMI Kelompok Sakit Hati yang Tidak Punya Kekuasaan

Ketua Tim Advokasi Pembela Agama, Kapitra Ampera dalam talk show Indonesia Lawyers Club (ILC) di TV One menegaskan bahwa deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) sah-sah saja dibentuk serta menyampaikan pendapatnya.

Namun gerakan Gatot Nurmantyo dan Din Syamsddin Cs dalam menggapai tujuannya harus seusai dengan konstitusi yang ada bersifat faktual . Dan menilai deklarasi ini berselimutkan gerakan moral namun aromnya kental pada gerakan politik yang mengganggu pemerintah di saat penanganan pandemi covid-19.

Kelompok ini menganggap pesimistis kepada pemerintah, tapi tidak memberikan komparatif tentang kondisi-kondisi kemunduran dan sekaligus tolak ukur kemajuan. Ada tuntutan sebagian orang yang melihat bahwa pemimpin formil ini tidak boleh ada cacat harus sempurna dia harus menguasai segala bidang. Mengutip pendapat Iwan Simatupang bahwa kesempurnaan manusia pada ketidak sempurnaan, tandas Kapitra yang saat acara talks show itu duduk bersebelahan dengan pengamat politik M Qodari.

Selain itu adanya Trust defisit atau ketidak percayaan masyarakat kepada presiden atau pemimpin. Atau pemimpin juga tidak percaya kepada sebagian kelompok. Jika kedua kelompok ini berhadapan yang ada caci maki, carut marut dan menuju kehancuran.

Hak-hak kebangsaan atau hak-hak warga negara. Kewajiban warga negara,Kita banyak berbicara tentang hak warga negara tapi kewajiban warga negara tidak dibicarakan.

Harusnya partisipasipasi dijamin oleh UU namun harus jelas partisipasinya menuju kemana. Kelompok-kelompok civil sociaty diberi ruang oleh konstitusi, tetapi dijamin konstitusi. Membangun pikiran yang konstruktif indonesia maju atau berpikir yang sebaliknya dan orang-orang kelompok itu tidak boleh terdiri dari orang-orang yang sakit hati atau merasa disakiti atau orang-orang yang merasa hilang kekuasaan dalam dirinya.

Atau orang-orang yang menganggap apa yang dibuat oleh pemerintah itu salah. Atau orang yang selama ini kehilangan berpikir untuk Indonesia maju. Sehingga dibutuhkan legitimasi kelompok untuk mendeskriditkan pemerintah. atau orang-orang ini bisa jadi acuan untuk informasi yang dia bangun?
Dan kita juga perlu memakai metode yang dipakai untuk mengkoreksi, Harus ada metode yang disepakati bersama yang keabsahannya dijamin, bukan metodologi yang dipakai adalah yang dipakainya rasa sakit hati yang menonjol.

Atau ada kekecewaan yang besar atau pernah kehilangan kekuasaan. Atau orang-orang yang berpikir bahwa kekuasan itu harus diambil kembali. Dan itu muncul dalam kejiwaan yang disbeut megalomia. Tidak ada pemerintah yang mamu kecuali KAMI, kecuali saya bukan bicara kita. Lalu dimana kita karena kita adalah satu kesatuan harus kita. Tujuannya harus Indonesia maju dengan cara masing-masing dalam segala problematika dan harus sesuai dengan konstitusi .

Politisi PDI Perjuangan menyatakan bahwa gerakan ini sakit hati karena kehilangan kekuasaan atau bisa juga ingin mendapatkan kekuasaan. Sehingga pendapat dan sikapnya selalu berseberangan dengan pemerintah yang sah.

Ditambahkan juga bahwa kelompok ini bila ingin mengkritisi pemerintah harus menggunakan metode dan informasi yang akurat dan disepakati bersama.

Suami dari Yosandra Podang Handini menambahkan, daripada teriak-teriak di jalan dan mempengaruhi rakyat yang saat ini lagi ditangani pemerintah secara baik. Ketika Kapitra menyampaikan pendapatnya itu. Sorot kamera TV menampilkan wajah Nurmantyo yang mengerutkan kening dan seakan gelisah mendengar paparan Kapitra.dentifikasi masalah.

Alfian G Raditya
%d blogger menyukai ini: