Jokowi Sita Aset Kroni Orde Baru, Koalisi Perlawanan Mulai Bermunculan

Yayasan Supersemar adalah salah satu aset penyimpanan pundi-pundi Orde Baru. Dibentuk melalui Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 1976. Klausalnya berkata 50 persen dari lima persen sisa bersih laba bank negara disetor ke yayasan itu.

Dan pemungutannya terhenti saat Soeharto berhenti jadi Presiden pada Mei 1998. Selama 22 tahun yayasan ini mengeruk dana mencapai 420 Juta Dolar Amerika dan 182 Milyar Rupiah. Yayasan ini rekeningnya menggendut mengalahkan Perusahaan-Perusahan plat merah dan BUMN.

Yayasan ini formatnya legal tapi prakteknya korupsi. Penyelewengan kerap terjadi. Tak ada yang bisa melarang, menghentikan bahkan membubarkanpun tak bisa. Maklum Soeharto dan Keluarga Cendana dibentengi aparatur negara yang ikut menikmati hasil mega korupsi dari yayasan ini.

Dana yang terkumpul banyak itu. Malah diselewengkan untuk mendukung kepentingan bisnis kroni-kroni orba.
Era Habibie, Gus Dur dan Megawati merupakan masa tersulit untuk melakukan penyitaan karena kekuasaan hanya 1 sampai 3 tahun. Namun era SBY yang 10 tahun berkuasa penyitaan aset Cendana nampaknya lolos dari pengamatan atau mungkin sengaja diloloskan.

Namun November 2018, Kejaksaaan Agung era Jokowi berhasil melakukan penyitaan aset yayasan Supersemar sebesar 4,4 triliun rupiah. Kakek dari Jan Ethes ini memerintahkan uang negara yang dikorupsi dimasa Presiden Kedua berkuasa bisa diselamatkan dengan keputusan hukum dari Mahkamah Agung. Meskipuan harus bersusah payah bertarung selama 11 tahun melalui jalur ligitasi.

Ternyata era Jokowi bukan hanya menyita aset Supersemar yang diselewengkan. Juli 2018 perintah Jokowi kepada Jaksa Agung yang dijabarkan melalui Tim intel Kejaksaan Agung berhasil menangkap Thamrin Tanjung yang buron sejak 2001 terpidana korupsi Jalan tol JORR Pondok Pinang TMII sebesar 1,05 triliun rupiah.

Nampaknya Trah cendana sudah mulai goyah dengan sikap tegas Jokowi. Kabar beredar beberapa elit yang dianggap dekat dengan cendana sengaja diutus untuk bisa menemui Jokowi. Memang tidak langsung menemui ayah dari Gibran Rakabuming Raka melainkan melalui orang-orang penting di seputaran Istana Negara.

Bukan hanya itu masalah yang dihadapi cendana adalah pendirian partai. Seperti Partai Karya Peduli Bangsa dan Garuda yang digawangi Mbak Tutut, serta Partai Nasional Republik dinakhodai Tommy Soeharto biasa disapa Pangeran Cendana rontok dan tinggal kenangan belaka. Partai Berkarya pun walaupun masih ada namun yang mengibarkannya bukan pangeran Cendana lagi.

Masalah internal cendana satu persatu terkuak. Perceraian Bambang Triahatmodjo dengan Halimah, lalu perceraian terjadi juga pada anaknya mbak Tutut dengan Lulu Tobing. Kekalahan ibu dari Dandy Rukmana terhadap lawan bisnisnya Harry Tanoesoedibjo atas kasus TPI yang sekarang berubah menjadi MNC TV. Serta kasus pelarian dan penangkapan dan menjebloskannya anak bungsu plus kesayangan Soeharto ke penjara Nusakambangan menghinggapi keluarga ini.

Rentetan eksternal tersitanya aset cendana oleh Jokowi dan masalah internal menerpa keluarga Presiden kedua ini. Sudah jatuh tertimpa tangga pula layak disematkan. Memang uang melimpah pada keluarga ini. Namun yang dibutuhkan dari keluarga cendana adalah kekuasaan. Namun pasca reformasi tak berhasil. Konon kabarnya bemunculan koalisi atau gerakan yang melawan Jokowi diduga ada tangan cendana dalam bentuk logistik.

Bentang Nusantara
Latest posts by Bentang Nusantara (see all)
%d blogger menyukai ini: