Kubu Jokowi Tanggapi Dingin Hasil Survei PolMark

Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin menanggapi dingin hasil survei yang dirilis lembaga riset PolMark terkait elektabilitas dua pasangan calon jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Wakil Ketua TKN, Johnny G Plate enggan mengomentari hasil survei PolMark yang menyebut elektabilitas Jokowi mentok di angka 40 persen. Politikus Partai NasDem tersebut justru mempertanyakan posisi politik PolMark.

“Tanya sama PolMark, itu kesimpulan dia apa dasarnya. Itu kan kepentingan PolMark, tanya sama PolMark saya tidak mengomentari keputusan PolMark,” kata Plate di kompleks parlemen, Rabu (6/3).

Seperti diketahui dalam rilis surveinya di Surabaya, Selasa (5/3), CEO PolMark, Eep Saefullah Fattah menyebut elektabilitas petahana dalam posisi tak aman.

Plate mengklaim pihaknya selalu memperhatikan hasil survei dari sejumlah lembaga, mencatat tren, dan membandingkannya dengan survei internal mereka. Plate menekankan riset yang dirilis lembaga survei politik harus saintifik sehingga bisa dipertanggungjawabkan. Khusus mengenai PolMark, ia mengaku tak tahu kondisinya seperti apa.

“Lembaga survei harus non-partisan. Nah dia partisan apa bukan, tanya sama dia, bukan ke kita,” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Plate mengatakan hasil survei sejumlah lembaga menunjukkan elektabilitas Jokowi unggul 20 persen lebih dari rivalnya. Dari angka itu, ia melihat level keterpilihan Jokowi terus menguat sementara Prabowo relatif stagnan.

Hasil survei dari LSI Denny JA terbaru menunjukan Jokowi-Ma’ruf mendapat dukungan sebanyak 58,7 persen, jauh meninggalkan pasangan Prabowo-Sandi yang meraih dukungan sebanyak 30,9 persen. Sementara pemilih yang menyatakan rahasia/belum memutuskan/tidak tahu/tidak jawab sebanyak 9,9 persen.

“Setelah 4-5 bulan berkampanye perubahan itu tidak sangat besar, sangat kecil. Jokowi di atas 55 persen sementara Pak Prabowo di kisaran 30 persen sehingga kalau dilihat dari sisi tren bisa dipahami bahwa game is over,” Plate meyakini.

Sebelumnya, Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah secara terpisah justru tidak begitu yakin dengan hasil lembaga survei yang menyebut Jokowi unggul jauh dari Prabowo. Fahri mengingatkan eskalasi Pilkada DKI Jakarta ketika survei mayoritas menyebut elektabilitas Basuki Tjahaja Purnama unggul jauh dari Anies Baswedan.

Fahri menilai hal itu terjadi karena calon pemilih sungkan menyebut pilihannya kepada surveyor sehingga hasil survei mereka berbeda jauh dari rekapitulasi resmi.

“Sama dengan kasus Pilkada DKI, ini yang akan terjadi. Rakyat akan bohong sama surveyor-surveyor dan nanti surveyor ini akan malu. Kayak kasus DKI sudah bilang Ahok enggak mungkin dikalahkam terlalu jauh meninggalkan Anies Baswedan,” jelas Fahri.

Seperti diberitakan sebelumnya, PolMark Indonesia dalam hasil surveinya menunjukkan elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin sebesar 40,4 persen dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno meraih 25,8 persen suara. Survei dilakukan di 73 daerah pemilihan (dapil) sejak Oktober 2018 sampai Februari 2019.

Meski unggul, CEO sekaligus Founder PolMark Eep Saefulloh Fatah menyebut posisi petahana belum benar-benar aman. Sebab, perolehannya belum dapat melampaui angka 50 persen.

Kondisi tersebut, kata Eep, membuat Jokowi seakan-akan sedang ‘dihukum’ publik. Padahal, Jokowi telah menampakkan diri atau ‘kampanye’ sejak menjadi Presiden 2014 silam.

“Dengan ‘kampanye’ yang lama, petahana belum melampaui 50 persen, maka artinya pemilih sedang menghukum yang bersangkutan (Jokowi),” kata Eep, di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya, Selasa (5/3).

SUMBER : CNNINDONESIA

Andi G Prakoso
%d blogger menyukai ini: