Menakar Pemakaian Karya Fiksi dalam Pidato Jokowi dan Prabowo

Presiden Joko Widodo belum lama ini menyampaikan pidato pembukaan Annual Meeting Plenary IMF dan World Bank di Nusa Dua Bali. Dalam pidatonya, Jokowi mengibaratkan kondisi ekonomi global dengan film serial Game of Thrones.

Menurut mantan Wali Kota Solo itu, kepala negara sibuk mendorong ekonomi negara masing-masing namun tak diiringi dengan koordinasi antar negara. Pernyataan itu disampaikan dalam pertemuan IMF-World Bank.

Itu bukan pertama kalinya Jokowi menggunakan film dalam pidatonya. Sebelumnya dia mengatakan kondisi ekonomi global saat ini sedang menuju perang tak terbatas atau infinity war, salah satu seri Film Avengers yang dirilis beberapa waktu lalu.

Jokowi dan para menteri-nya merupakan Avengers. Ia bercerita ada Thanos, sosok yang mengancam memusnahkan setengah populasi bumi di dalam film tersebut.

Menggaet Milenial
Pakar komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing, menilai Jokowi memilih komunikasi tersebut untuk menyampaikan pesan secara lebih sederhana pada dua kalangan. Yang pertama adalah pemimpin dunia dan yang kedua kalangan anak muda.

“Saya pikir Pak Jokowi selain kepala negara dia adalah seorang politisi yang sudah dinyatakan KPU sebagai capres maka komunikasi politiknya selain untuk kepentingan negara juga untuk kepentingan politik,” ujar Emrus saat dihubungi CNNIndonesia.com melalui sambungan telepon pada Senin (15/10).

Sebagai kepala negara, Jokowi perlu dukungan dari berbagai pihak dalam menjalankan kebijakannya. Sementara sebagai seorang capres, mantan Gubernur DKI Jakarta itu perlu meraih simpati dari anak muda untuk menang. Seperti diketahui, milenial merupakan segmen pemilih mayoritas di Pilpres 2019.

“Film dipilih karena merupakan salah satu media yang digemari kaum milenial. Makanya ketika ada analogi sebuah film maka tidak lepas untuk menarik simpati kaum milenial sekaligus memberikan penjelasan yang lebih sederhana di ruang publik,” ujarnya.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Populi Center Usep S Ahyar menganggap bahwa alasan Jokowi menggunakan serial GOT adalah untuk menyampaikan kritik tajam yang relevan dan mudah dipahami oleh kebanyakan audiens. Peraihan simpati dari kalangan muda hanya efek sampingnya.

“Kita lihat isinya walaupun diterjemahkan berbeda-beda tetapi esensinya itu kritik terhadap dunia-dunia maju yang berkembang, yang saling ingin mengalahkan tapi lupa dengan ancaman yang lebih besar,” ujar Usep saat dihubungi secara terpisah.

Jokowi juga dinilainya memilih film karena memahami seni dalam berpidato. Dia ingin keluar dari kebiasaan pidato yang membosankan, meski justru gimmick-nya yang banyak diterima.

Beda Prabowo
Sementara itu, model komunikasi politik Jokowi diyakini Emrus berbeda dengan lawan politiknya, Prabowo Subianto. Prabowo mengutip karya fiksi ‘Ghost Fleet’ dalam pidatonya untuk menyampaikan hipotesis atau ramalan, bukan analogi, mengenai Indonesia yang bisa bubar di 2030.

“Itu hipotesis siapapun boleh menyampaikan hipotesis. Boleh jadi beliau sudah mendapatkan data, fakta, teori atau gabungan semuanya, maka sah sah saja. Nanti tinggal lihat apa benar 2030 akan terjadi,” ujar Emrus.

Senada dengan Emrus, Usep juga menilai bahwa Prabowo menyampaikan kritikan berupa hipotesis. Tujuan Prabowo melemparkan hipotesis itu tentu untuk mendulang simpati dari masyarakat.

Pesannya, menurut Emrus, adalah jika pemerintah terus tidak bekerja dengan benar maka pada 2030 Indonesia akan buyar.

Jika hipotesanya benar, maka kredibilitas pesan Prabowo akan naik. Namun jika yang sebaliknya terjadi maka justru akan menjadi bumerang bagi mantan Danjen Kopassus itu. Sayangnya, Emrus menilai hipotesa itu masih terlalu jauh untuk dibuktikan sehingga tak akan terlalu berpengaruh pada elektabilitas Prabowo di 2019.

“Kalau tidak benar maka kredibilitas pesan akan dipertanyakan, kalau itu terjadi maka kredibilitas pesannya meningkat. Pesannya, bukan orangnya. Tapi itu masih terlalu jauh pandangan itu tidak terlalu berpengaruh pada elektabilitas sekarang,” ujar Emrus.

Terlepas dari hal itu, Usep menilai penggunaan karya fiksi dalam pidato dengan tujuan mengkritik adalah hal yang baik dari kedua kubu. Mengkritik dengan menggunakan media yang diketahui banyak orang terkesan lebih elegan dan mudah dipahami sehingga tak perlu ditanggapi sebagai khayalan.

“Cara pandang dua-duanya adalah keduanya punya kelebihan dan kekurangan. Kalau dimaknai sebagai kritik dengan analogi fiksi itu sah-sah saja, itu kritik yang elegan, cara yang baik, tidak menohok, mengajak berpikir biar mudah dipahami,” tuturnya.

Sumber : Cnnindonesia

Andi G Prakoso

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: