Motif Amien Jewer Haedar Upaya Seret Muhammadiyah Dukung Prabowo?

Ancaman Amien Rais menjewer Ketua PP Muhammadiyah Haedar Nashir jika terlalu pasif dalam Pilpres 2019 ramai diperbincangkan. Muncul dugaan bahwa pernyataan tersebut adalah upaya mendorong Muhammadiyah bergabung atau minimal mendukung salah satu kubu yang bertarung.

Amien adalah penasihat Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah. Di sisi lain, ia juga anggota dewan pembina Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Di tahun politik, tidak boleh seorang Haedar Nashir memilih menyerahkan ke kader untuk menentukan sikapnya di Pilpres. Kalau sampai seperti itu, akan saya jewer,” kata Amien dalam Tabligh Akbar dan Resepsi Milad ke-106 Masehi Muhammadiyah di Islamic Center Surabaya, Selasa (20/11/2018), seperti dilansir Antara.

Salah satu Juru Bicara BPN Faldo Maldini menyanggah anggapan bahwa pernyataan tersebut adalah upaya mendorong Muhammadiyah ke kubu Prabowo-Sandi. Menurut bekas Ketua BEM UI 2012 ini, maksud Amien adalah sudah saatnya kelompok Islam menonjolkan sikap politik praktisnya.

“Jangan disalahartikan pernyataan pak Amien yang agak keras itu. [Dia] tidak menyatakan dukungan kepada Prabowo-Sandi,” kata Faldo kepada reporter Tirto, Rabu (21/11/2018) siang.

Faldo menganggap kata “jewer” tak lain adalah ungkapan sayang orangtua kepada anaknya. Amien memang merupakan salah satu sesepuh yang dihormati warga Muhammadiyah.

“Beliau dihargai sekali. Kalau ada yang perlu didiskusikan oleh orang tua kepada yang lebih muda, ya biasa saja bicara seperti itu. Kalau kita yang muda-muda mau jewer pak Amien kan tidak pantas. Tentu kita cari istilah lainnya,” tambahnya.

Mengapa Butuh Dukungan Politik Muhammadiyah?
Salah satu Juru Bicara BPN Rizal Darmaputra bicara aspek lain tentang pernyataan Amien. Ia mengatakan suara warga Muhammadiyah memang sangat penting bagi kubunya.

“Tentu bisa menaikkan elektabilitas suara pak Prabowo-Sandi. Dan pasti bisa berpengaruh,” kata Rizal saat ditemui reporter Tirto di daerah Tanah Abang, Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Menurutnya apa yang dikatakan Amien memang upaya untuk mendekatkan Muhammadiyah ke Prabowo-Sandiaga. “Kedua kubu sedang berusaha merangkul organisasi-organisasi Muhammadiyah kan, terutama yang di Pulau Jawa,” tambahnya.

Peneliti politik LIPI Wasisto Raharjo Jati juga menganggap demikian. Dia menilai yang dikatakan Amien ke Haedar akan membawa keuntungan elektoral ke kubu Prabowo-Sandiaga karena keduanya sebetulnya tidak tak memiliki latar belakang muslim. Keduanya lebih dikenal sebagai elite belaka.

“Ya, saya pikir itu hanya untuk kepentingan elektoral saja. Saat ini di tengah suasana kebangkitan populisme muslim, fungsi Ormas muslim menjadi strategis sebagai mesin suara. Ini lebih pada kepentingan pragmatis demi Pemilu saja,” katanya saat dihubungi.

Jika PP Muhammadiyah menjadi partisan, kata Wasisto, justru akan membawa dampak negatif ke organisasi. Dia menilai, sikap partisan akan mereduksi citra Muhammadiyah sebagai pelayan masyarakat.

Direktur Pusat Kajian Politik UI Aditya Perdana justru ragu jika memang Muhammadiyah berpihak maka akan punya pengaruh signifikan. Sebab, katanya, sedari dulu Muhamadiyah memang sudah terbiasa berada di banyak kubu politik, tak pernah stagnan di satu kubu saja.

“Dari dahulu kita tahu bahwa Muhammadiyah ada di mana-mana. Mereka bisa di mana-mana. Jadi saya rasa suara mereka justru tidak akan berpengaruh banyak,” kata Aditya saat dihubungi reporter Tirto.

Meski menguntungkan bagi Prabowo-Sandiaga, dalam hitung-hitungan massa elektoral, kata Aditya, tetap lebih signifikan suara Nahdlatul Ulama (NU) daripada Muhammadiyah. “Orang-orang NU dan Muhammadiyah mengakui itu kok,” pungkasnya.

Sumber : TIRTO

Andi G Prakoso

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: