Palagan Narasi Optimisme Jokowi vs Pesimisme Prabowo

Dua gaya kampanye yang bertolak belakang selama ini ditampilkan dua pasang calon presiden dan wakil presiden. Jokowi-Ma’ruf Amin yang kerap melontarkan narasi optimisme berhadapan dengan narasi pesimisme dari Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Narasi yang berbeda ini diperkirakan akan berlanjut kelak di pangung debat Pilpres 2019 yang digelar Komisi Pemilihan Umum, mulai 17 Januari 2019.

Prabowo-Sandi lekat dengan politik pesimisme lantaran sejumlah pernyataannya yang memicu kehebohan selama masa kampanye. Pernyataan seperti ‘Tampang Boyolali’, ‘Indonesia bubar 2030’, ‘Indonesia punah’, hingga yang terbaru soal ‘Indonesia selevel dengan Rwanda dan Haiti’, dinilai lawan politiknya hanya menawarkan kecemasan.

Berbeda dengan kubu Prabowo, pasangan Jokowi-Ma’ruf mengklaim menawarkan politik optimisme. Untuk menguatkan klaim itu, kubu Jokowi-Ma’ruf rajin merespons pernyataan pesimisme yang dikeluarkan lawan politiknya.

Kubu Prabowo sendiri sebenarnya sudah membantah tudingan menjual politik kecemasan. Misalnya dalam kasus ‘Indonesia punah’.

Dalam kasus itu, Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN)Djoko Santoso mengatakan pernyataan Prabowo tak lain bentuk peringatan berdasarkan sejarah nusantara yang diwarnai kebangkitan dan keruntuhan sejumlah kerajaan besar.
Pengamat komunikasi politik dari Universitas Brawijaya, Anang Sudjoko mengatakan narasi bernada pesimistis maupun optimistis selama kampanye Pilpres 2019 adalah hal wajar.

Narasi itu dinilai Anang hanya sebuah strategi komunikasi dan tak mencerminkan kebaikan atau keburukan.

Sebagai sebuah strategi, Anang menyebut narasi yang diusung kedua kubu pada akhirnya punya tujuan yang sama, yakni bagaimana mengendalikan atau mendominasi opini publik yang berkembang di masyarakat.

Dalam konteks itu Anang memandang narasi pesimisme yang diumbar Prabowo-Sandi punya daya tarik sendiri.

Narasi pesimisme akan mendapat perhatian publik karena mengandung sifat yang kontroversial.

“Untuk attracts perhatian masyarakat memang harus kontroversial. Isu kontroversial terbukti akan menjadi pembicaraan di ruang publik,” kata Anang saat dihubungi.

Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi Chaniago menilai dikotomi narasi optimis dan narasi pesimis adalah konsekuensi pertarungan yang hanya melibatkan dua pasang calon.

Dalam kondisi itu Pangi mengatakan pihak petahana sudah pasti akan membeberkan keberhasilan dan harapan masa depan. Sementara lawan politiknya akan memaparkan kegagalan dan ancaman jika petahana tetap berkuasa.

“Capres tidak mungkin punya narasi yang sama. Mereka tentu berperan antitesis,” ujarnya.

Gaya politik itu pun diyakini bakal dilanjutkan saat bertarung di panggung debat. Pangi menyarankan Jokowi tidak terlalu terbawa isu yang dimainkan Prabowo.

Menurut Pangi, akan lebih baik bagi Jokowi untuk fokus membeberkan pencapaiannya selama memerintah agar bisa dilihat masyarakat.

Sebaliknya, bagi Prabowo, Pangi mengingatkan bahwa isu bernada pesimistis bisa menjadi bumerang jika pihak Jokowi bisa membantahnya dengan data-data yang akurat dan meyakinkan publik.

“Kalau isu ditanggapi dengan positif, nantinya merugikan Prabowo,” kata dia.

Debat Pilpres 2019 nanti tak hanya ajang memaparkan visi dan misi dan beradu gagasan memimpin negeri. Dua pasangan calon juga akan memaksimalkan debat itu untuk menarik simpati publik, termasuk kalangan milenial sebagai pemilih pemula yang jumlahnya cukup siginifikan.

Namun Pangi menduga narasi kampanye pesimis Prabowo-Sandi tak akan maksimal menambah dukungan dari milenial. Menurutnya, pemilih pada segmen ini lebih senang dengan berbagai hal yang positif, bernada harapan dan realistis bisa dicapai.

Karakteristik yang demikian tak serta merta menguntungkan kubu Jokowi. Sebab, menurut Pangi, narasi positif yang ditawarkan Jokowi-Ma’ruf pun belum menyentuh akar persoalan yang dihadapi masyarakat atau belum realistis.

Dalam kondisi seperti itu, menurut Pangi, narasi politik bernada optimistis dan pesimistis yang bergulir saat ini hanya akan meneguhkan hati para simpatisan yang sebelumnya memang sudah memberikan dukungan kepada masing-masing kandidat.

Pangi mengatakan milenial membutuhkan narasi yang mendalam. Tak sekadar retorika. “Misalnya berbagai masalah di Papua bagaimana penanganannya.”

“Mereka menunggu apakah yang akan disampaikan betul-betul bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi hari ini. Misalnya soal penganguran, ketimpangan, masalah kesehatan. Jadi langsung pada problem, bukan pada personal kandidat,” kata Pangi.

Pangi memprediksi akan banyak kaum millenial yang tidak memilih atau golongan putih (golput) jika narasi politik yang digulirkan hingga jelang pencoblosan nanti tak berubah.

SUMBER : CNNINDONESIA

Andi G Prakoso

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: