Pandemi Covid 19 Lumpuhkan Perusahaan Besar Maupun Kecil

Dampak pandemi virus Corona (Covid-19) membuat limbung perekonomian Indonesia. Tidak sedikit perusahaan besar atau kecil harus merumahkan, bahkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan lantaran pendapata perusahaan tergerus karena dampak pandemi virus corona (covid-19).

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Energy, Garibaldi ‘Boy’ Thohir mengakui, kondisi saat ini sangat berat bagi pengusaha. Terutama pada sektor yang terdampak langsung wabah pandemi Covid-19 seperti industri pariwisata, perhotelan, UMKM.

Garibaldi ‘Boy’ Thohir menyebut, krisis di tahun 2020 tidak sama dengan tahun 1998 maupun 2008. Pandemi Covid-19 tak pandang bulu, perusahaaan besar atau kecil dan benar-benar melumpuhkan perekonomian di hampir semua negara.

“Memang overall, kondisi ini sangat-sangat berat, saya sangat prihatin tentunya kepada teman teman yang bergerak di industri pariwisata, perhotelan dan ritel. Sodara kita UMKM, memang menurut hemat saya, krisis yang terjadi di tahun 2020 sangat-sangat berbeda dengan krisis 1998 dan 2008 lalu,” kata Boy Thohir, dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.

Tentu kita mengingat, Gita Gopinath, Kepala Ekonom Dana Moneter Internasional (IMF) sudah mewanti-wanti pandemi ini dampaknya lebih dahsyat dari Depresi Besar yang terjadi 1929 silam yang menghantam perekonomian dunia pada 1929 silam.

“Banyak negara sekarang menghadapi multikrisis: krisis kesehatan, krisis keuangan, dan jatuhnya harga komoditas,” tulis Gita, dikutip CNBC Indonesia, dalam ulasan bertajuk The Great Lockdown: Worst Economic Downturn Since the Great Depression.

IMF juga memperkirakan, outlook perekonomian global sepanjang April 2020 akan terkoreksi cukup tajam minus 3 persen akibat pandemi menjadikan yang terburuk sejak era krisis finansial global pada 2009 yang minus 0,1%.

Seperti apa pandangan Garibaldi menyikapi situasi perekonomian terkini akibat pandemi Covid-19? Simak petikan wawancaranya dengan CNBC Indonesia:

Bagaimana dampak Covid-19 terhadap dunia ekonomi dan bisnis, terutama di sektor pertambangan?
Dengan kondisi yang sulit ini kami dari sektor pertambangan, khususnya pertambangan batu bara, katakanlah masih bersyukur, karena memang kita alhamdulillah masih berpoduksi, karena sektor batu bara khususnya, merupakan sektor strategis, untuk bahan bakar untuk listrik yang paling efisien.

Jadi, walaupun kita semua work from home, tapi alhamdulillah kan, listrik harus jalan, jadi overall memang terjadi penurunan, tapi saya rasa, saya melihat sektor batu bara masih relatif oke dibanding dengan sektor-sektor yang lain.

Harga batu bara dari awal tahun terjadi penurunan 24%, apakah ini tidak membuat perusahaan batu bara mengalami penurunan kinerja keuangan?
Ya memang kalau bicara harga, terjadi penurunan, tapi kita mengalami di sektor industri batu bara dan tambang, ini komoditi, setiap waktu dan setiap saat selalu up and down. Makanya, saya selalu mengatakan bahwa, kalau harga batu bara itu tidak bisa ada seorang pun yang bisa memprediksi. Kalau kita menjadi the lowest cost producer, insya Allah masih tetap survive.

Sejauh ini seberapa kuat perusahaan di sektor pertambangan batu bara menghadapi Covid-19?
Saya melihat tentu kembali kalau dibandingkan industri lain khususnya pariwata, hotel, tourism, travel, teman-teman kita di industri itu sangat terpukul, katakanlah kalau bicara revenue mereka sampai gak ada revenue-nya. Kami di sektor batu bara bersyukur karena revenue masih ada, tentunya harga memang menurun.

Tetapi, kembali tergantung kepada masing-masing perusahaan, kalau bisa di-manage dengan baik, efisien, tentunya kita masih melihat batu bara masih jadi industri berpeluang. Jadi, kuncinya sekarang di efisiensi.

Apakah ada proyeksi berapa lama pemulihan dari sektor batu bara?
Saya tetap optimis, dari pengalaman yang kita alami seperti Covid-19 sekarang ini, saya melihat sektor batu bara quite resilience, kenapa, apapun yang terjadi, kita selalu tetap memerlukan listrik. Dan tentunya kalau bicara sektor listrik, saya melihat bahwa tetap batu bara merupakan salah satu the lowest fuel, the most efficient fuel untuk pembangkit lsitrik.

Kita masih optimis, bahwa bagaimanapun juga, menurut saya, suatu saat ini, sebulan dua bulan tiga bulan, pasti ekonominya harus dijalankan kembali. Apakah ekonomi bisa recover dengan cepat, tapi menurut saya, sektor batu bara Indonesia masih menjanjikan.

Sekarang harga batu bara turun lebih kepada faktor India yang totally lockdown, China yang juga pasar batu bara cukup besar untuk Indonesia, sampai saat ini masih beli dan membutuhkan. Kenapa? Competitiveness batu bara Indonesia masih baik dibandingkan dengan kualitas dan harga batu bara domestik mereka.

Yuanita R Silalahi
%d blogger menyukai ini: