PDIP dan Gelanggang Politik Ahok Usai dari Penjara

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dibesarkan oleh dunia politik. Proses politik pula yang membawa Ahok dipenjara. Ia terbukti melakukan penodaan agama saat mengutip surat Al Maidah ayat 51 terkait kepeimpinan dalam Islam.

Ahok mengutip ayat Alquran itu saat kunjungan kerjanya sebagai Gubernur DKI Jakarta ke Kepulauan Seribu. Saat itu pula Ahok tengah mengikuti tahapan pemilihan kepala daerah di ibu kota.

Setelah 1 tahun 8 bulan menjalani masa hukuman, Ahok akan bebas.

Salah satu pertanyaan adalah akankah Ahok melanjutkan karier politiknya? Partai mana yang bakal menjadi pelabuhan Ahok selanjutnya.

Ahok merintis karier politik di Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PPIB). Berlanjut ke Golkar, kemudian Gerindra sebelum memutuskan keluar dari partai besutan Prabowo Subianto itu.

Sebelum dipenjara, Ahok sempat mengungkapkan kedekatannya dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Dua kali Ahok diusung PDIP di Pilkada DKI Jakarta.

Mantan Wakil Ahok di DKI Jakarta sekaligus politikus PDIP Djarot Saiful Hidayat bahkan menyebut bahwa Ahok telah memiliki rencana untuk bergabung dengan partai berlambang banteng moncong putih itu.

“Dia [Ahok] bilang, ‘kalau nanti saya masuk politik, saya akan pasti masuk PDI-Perjuangan’,” kata Djarot, Senin (27/11).

Sementara, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengaku belum menerima surat permohonan dari Ahok untuk bergabung menjadi kader PDIP.

Menurut Hasto, mekanisme untuk menjadi kader di PDIP harus melalui proses pengajuan permohonan secara tertulis lebih dulu sebagai prasyarat. Ia pun mengaku belum bertanya secara langsung kepada Ahok terkait rencana tersebut.

Pengamat politik dari Habibie Center Bawono Kumoro mengatakan bukan tidak mungkin jika Ahok berlabuh ke PDIP. Partai-partai di mana Ahok pernah bernaung memang berhaluan nasionalis.

“Kalau dilihat Pak Ahok cocok dengan partai yang katakanlah nasionalis, track record-nya masuk ke partai-partai nasional,” ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (14/1).

Namun, kata Bawono, pilihan partai nasionalis tak hanya PDIP saja. Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang merupakan sebuah partai baru juga bukan mustahil.

Apalagi, sambung Bawono, PSI pernah menyatakan bahwa salah satu inspirasi dari partai tersebut adalah Ahok.

Meski begitu, pilihan partai politik tersebut akan kembali lagi kepada Ahok sendiri. Bawono berpendapat salah satu yang mungkin akan menjadi pertimbangan Ahok adalah partai mana yang bisa mengakomodasi target-target politik mantan Bupati Belitung Timur ini ke depannya.

Selain Ahok, lanjutnya, pertimbangan matang pun akan dilakukan partai politik terkait. Sebab, Ahok merupakan seorang mantan narapidana kasus penistaan agama.

“Saya kira hitung-hitungan itu, plus minus, akan dilakukan oleh partai, juga dilakukan oleh Pak Ahok,” ucap Bawono.

Partai Kecil

Dihubungi terpisah, pengamat politik dari Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun menuturkan Ahok sangat mungkin kembali ke dunia politik. Hal itu tak lepas dari rekam jejak Ahok yang pernah menduduki sejumlah jabatan politik, mulai dari Bupati Belitung Timur, anggota DPR RI, Wakil Gubernur DKI Jakarta, hingga Gubernur DKI Jakarta.

“Itu menggambarkan kedekatan dirinya [Ahok] dengan dunia politik, sebetulnya wajar kalau kemudian Pak Ahok setelah bebas memilih jalan politik,” tutur Ubedilah.

Terkait kemungkinan Ahok bergabung dengan PDIP, Ubedilah menilai hak itu itu merupakan sesuatu yang mudah. “Mungkin dikasih karpet merah untuk masuk PDIP,” ucapnya.

Meski begitu, Ubedilah menilai PDIP merupakah partai yang terlalu besar bagi Ahok untuk kembali mengawali langkah politiknya.

Ubedilah beranggapan akan butuh waktu bagi Ahok untuk bisa memiliki posisi strategis di PDIP, mengingat saat ini ada cukup banyak tokoh politik yang diperhitungkan yang ada di partai tersebut.

Lain halnya, bila Ahok bergabung dengan partai kecil. Ahok bergabung dengan partai kecil, maka Ubedilah menilai Ahok akan lebih mudah dan lebih cepat memegang posisi strategis.

“Partai kecil yang belum punya tokoh kuat, Ahok bisa jadi tokoh sentral,” ujarnya.

Senada dengan Bawono, Ubedilah juga menyebut akan ada pertimbangan atau perhitungan dari partai politik sebelum menerima Ahok sebagai kadernya.

“Karena itu pasti ada risiko, kehadiran Ahok bisa saja menambah insentif politik bagi partai, tapi bisa juga mengurangi elektabilitas partai,” tutur Ubedilah.

SUMBER : CNNINDONESIA

Andi G Prakoso
%d blogger menyukai ini: