Pujian SBY ke Jokowi Dianggap Taktik Panjat Elektabilitas

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memuji Presiden Jokowi yang bergegas mengunjungi korban gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah. Hal itu dia sampaikan melalui akun Youtube miliknya.

“Dengan datang langsung ke lokasi bencana, Presiden Jokowi akan melihat situasi dan ambil keputusan. Kemudian nanti operasi tanggap darurat akan berjalan dengan cepat juga efektif,” puji SBY dalam video yang diunggah pada Minggu (30/9/2018).

Namun dalam video itu SBY juga memuji dirinya sendiri. Mula-mula ia menyarankan agar kampanye di Sulawesi Selatan khususnya di Palu dan Donggala dihentikan sementara. SBY lalu menceritakan pengalamannya saat mengikuti kampanye Pilpres 2009. Ketika itu, kata SBY, terjadi peristiwa jebolnya bendungan Situ Gintung, Tangerang Selatan.

SBY mengatakan ia dan Jusuf Kalla yang saat itu berkontestasi sepakat untuk terjun ke lokasi tanpa membawa embel-embel kampanye. “Baik Pak JK maupun saya langsung menghentikan kampanye kami berdua sama-sama mengatasinya,” kena SBY.

Tak cukup di situ, SBY juga memuji dirinya saat terjadi tsunami di Aceh dan Nias. Dua hari setelah tsunami Aceh, SBY mengaku menginstruksikan gencatan senjata antara TNI dan GAM agar penanganan bencana lebih fokus. “Sehingga hari kedua saya di Lhokseumawe saya serukan gencatan senjata. Berhenti kita operasi militer, kita selamatkan saudara,” kata SBY.

Dalam catatan Tirto sepanjang September 2018 SBY sudah memuji Jokowi sebanyak empat kali. Pada 3 September SBY memuji Jokowi atas kesuksesan penyelenggaraan Asian Games 2018. Kemudian pada 17 September 2018 SBY memuji pencapaian pemerintahan saat ini.

Tak hanya itu, pada 28 September, SBY bahkan meminta maaf kepada Jokowi atas cuitan Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief. Dia menjelaskan alasan mengapa anak buahnya itu mengkritik posisi Jaksa Agung HM Prasetyo yang merangkap kader Nasdem.

Sikap ini berbeda dengan sikapnya di bulan-bulan sebelumnya yang kerap menembakkan kritik kepada mantan wali kota Solo tersebut. Misalnya saat pelaksanaan Pilkada Serentak 2018, ia mempertanyakan kepada Jokowi terkait netralitas TNI dan Polri.

Pada 28 Agustus 2016, dalam sebuah acara di salah satu kampus, SBY juga pernah mengkritik Jokowi. Hal itu karena SBY menilai Jokowi belum bisa menepati janjinya menjadikan Indonesia sebagai negara poros maritim dunia.

Strategi Panjat Elektabilitas
Peneliti LSI Denny JA Rully Akbar menilai pujian SBY ke Jokowi sebagai strategi panjat elektabilitas. Rully mengatakan Jokowi memiliki pendukung besar, sehingga wajar jika SBY berharap partainya mendapat insentif elektoral dengan pujian-pujian yang ia lontarkan.

“SBY ini kan sebagai jenderal strategi mahir memainkan hal-hal seperti ini. Dia sadar sebagai kepentingan Pileg, simpati massa Jokowi cukup penting dan perlu memperlihatkan apresiasi,” kata Rully kepada reporter Tirto, Senin (1/10/2018).

Berdasarkan hasil Survei LSI Denny JA periode September 2018 elektabilitas Partai Demokrat masih berada di angka 5,2 persen. Angka tersebut di bawah PKB yang meraup 6,7 persen. Sehingga menurut Rully, sekecil apapun dukungan dan simpati dari publik amat diperlukan.

“Ini juga yang membuat SBY dan Demokrat tidak setegas PKS, PAN, dan Gerindra menjadi oposisi,” tuturnya.

Infografik CI Puja Puji SBY untuk Jokowi

Rully pun menilai pernyataan SBY yang menyinggung kembali peristiwa tsunami Aceh dan Nias, merupakan upaya mengingatkan kembali masyarakat terkait keberhasilannya menangani bencana tersebut.

“Di sisi lain secara tidak langsung SBY juga berusaha memberikan komparasi antara kinerjanya dengan Jokowi dalam menanggulangi bencana. Itu untuk meraih simpati juga,” ujarnya.

Hal sama juga disampaikan Peneliti The Political Literacy Adi Prayitno. Menurutnya Adi pujian SBY ke Jokowi mengindikasikan suami Ani Yudhoyono itu sudah fokus turun gelanggang meraup simpati publik. Tentu demi mendulang suara maksimal di Pileg 2019.

“Karena SBY ini kan mau main panjang sampai ke 2024. Jadi penting dia memposisikan objektif. Di satu sisi bisa dapat dukungan massa Prabowo, di sisi lain massa Jokowi,” kata Adi kepada reporter Tirto.

“Menurut hemat saya, SBY sedang memainkan anggapan presiden boleh siapapun, yang penting partainya Demokrat,” imbuhnya.

Namun pandangan Rully dan Adi tersebut dibantah Waketum Partai Demokrat Syarifuddin Hasan. Dia menegaskan bahwa pujian SBY ke Jokowi dilakukan tanpa motif politik.

“Jadi apa yang sudah baik dilakukan Presiden Jokowi demi kepentingan bangsa dan rakyat, tentu harus kami apresiasi. Itu namanya fair,” kata Syarif kepada reporter Tirto.

Menurut Syarifudin, SBY dan Demokrat pun akan tetap mengkritik Jokowi. Hal itu akan dilakukan jika di sisa akhir kepemimpinan Jokowi terdapat kebijakan yang mereka anggap tak berpihak pada rakyat.

“Itu menunjukkan Pak SBY sebagai seorang negarawan. Itu yang patut kita beri dan menjadi contoh bagi semua,” imbuhnya. “Jadi kami minta juga jangan dikaitkan dengan hal lain.”

Sumber : Tirto

Andi G Prakoso

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: