Rupiah Berpeluang Terus Menguat Ke Arah Fundamentalnya, Sebaliknya Dengan Dollar Yang Kian Melemah

Melawan dolar AS, rupiah sukses menguat 0,68% ke Rp 14.575/US$ yang merupakan level terkuat sejak 12 Maret lalu. Sementara itu melawan dolar Singapura, rupiah berakhir 0,27% ke Rp 10.323,7/SG$, kemudian dolar Australia dibuat melemah 0,43% ke Rp 9.696,75/AU$ di pasar spot, melansir data Refinitiv.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam paparan Perkembangan Ekonomi Terkini kemarin mengatakan nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue, dan ke depannya akan kembali menguat ke nilai fundamentalnya, kembali ke level sebelum pandemi penyakit virus corona (Covid-19) terjadi di kisaran Rp 13.600-13.800/US$.

“Ke depan nilai tukar rupiah akan menguat ke fundamentalnya. Fundamental diukur dari inflasi yang rendah, current account deficit (CAD) yang lebih rendah, itu akan menopang penguatan rupiah. Aliran modal asing yang masuk ke SBN (Surat Berharga Negara) juga memperkuat nilai tukar rupiah” kata Perry.

“Kami yakni nilai tukar rupiah masih undervalue, dan berpeluang terus menguat ke arah fundamentalnya” tegas Perry

Dolar AS melemah terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi WIB), karena para investor mencerna sejumlah data ekonomi terbaru Amerika Serikat.

Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, turun 0,06 persen menjadi 98,3271.
Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi 1,1102 dolar AS dari 1,1089 dolar AS pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi 1,2327 dolar AS dari 1,2340 dolar AS pada sesi sebelumnya. Dolar Australia menguat menjadi 0,6664 dolar AS dari 0,6658 dolar AS.

Dolar AS dibeli 107,79 yen Jepang, lebih tinggi dari 107,64 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9617 franc Swiss dari 0,9634 franc Swiss, dan menguat menjadi 1,3777 dolar Kanada dari 1,3760 dolar Kanada.
Pelemahan greenback terjadi setelah data menunjukkan pengeluaran konsumen AS mengalami rekor penurunan lainnya pada April di tengah dampak dari pandemi COVID-19.

Pengeluaran konsumen AS jatuh 13,6 persen pada April setelah penurunan 6,9 persen pada Maret, Biro Analisis Ekonomi AS mengatakan pada Jumat (29/5/2020). Ekonom yang disurvei oleh Reuters memperkirakan belanja konsumen akan anjlok 12,6 persen pada April.

Namun data juga menunjukkan pendapatan pribadi meningkat sebesar 10,5 persen pada April. Para analis pasar menghubungkan kenaikan itu dengan bantuan tunai pemerintah terkait COVID-19.
Beberapa data yang dirilis akhir-akhir ini menunjukkan pandemi telah melumpuhkan perekonomian terbesar di dunia tersebut.

Klaim pengangguran awal AS mencatat 2,123 juta pada minggu yang berakhir 23 Mei, Departemen Tenaga Kerja melaporkan Kamis (28/5/2020). Selama 10 minggu terakhir, lebih dari 40 juta orang Amerika telah mengajukan asuransi pengangguran.

Yuanita R Silalahi
%d blogger menyukai ini: