Sandiaga Dukung Penuh Wacana Hidupkan Lagi Pelajaran PMP

Calon Wakil Presiden (cawapres) nomor urut 02 Sandiaga Uno merespons positif wacana dihidupkannya lagi mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP). Sandi menilai, moral-moral pancasila penting untuk ditanamkan kepada anak-anak sejak dini.

“Sangat setuju banget (PMP dihidupkan lagi),” kata Sandi saat ditemui di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (28/11).

Dikatakan Sandi, sejak kecil dirinya memang telah mendapat mata pelajaran yang berkembang pada masa orde baru itu. Saat dirinya mengenyam pendidikan sekolah dasar, PMP pun saat itu masih diajarkan.

“Malah dulu ada P4 di zaman saya begitu, bagaimana kita dedikasikan berapa jam untuk pemahaman dan pendalaman Pancasila karena ini nilai-nilai luhur bangsa,” kata Sandi.

Sandi pun melihat mata pelajaran ini memiliki nilai luhur terkait pemahaman Pancasila. Maka kata dia sangat baik jika mata pelajaran tersebut kembali dipelajari, sehingga siswa generasi masa kini bisa lebih memahami nilai luhur pancasila.

“Ini jangan sampai anak-anak generasi zaman now ini luput dari nilai-nilai luhur mereka,” kata dia.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sebelumnya mengusulkan kembali memasukkan mata pelajaran Pendidikan Moral Pancasila (PMP) untuk menguatkan nilai-nilai Pancasila sejak dini di lingkungan sekolah.

PMP merupakan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah sejak tahun 1975. PMP ketika itu menggantikan mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan yang telah masuk dalam kurikulum sekolah di Indonesia sejak tahun 1968. Namun, mata pelajaran PMP diubah lagi pada tahun 1994 menjadi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), dan pada masa Reformasi PPKn diubah menjadi PKn dengan menghilangkan kata Pancasila yang dianggap sebagai produk Orde Baru.

PMP berisi materi Pancasila sebagaimana diuraikan dalam Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila atau dikenal juga dengan sebutan P4.

Pro-Kontra
Pro-kontra atas usulan Kemendikbud ini pun mencuat. Wakil Presiden Jusuf Kalla, misalnya, menyatakan rencana itu bisa jadi membingungkan masyarakat.

“Ya kan kita sudah melakukan itu. Tapi tetap saja kan, makanya muncul tentang revolusi mental atau Pancasila. Kalau terlalu banyak, masyarakat malah bingung nanti,” ujar JK di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Selasa (27/11).

Alih-alih memasukkan dalam materi pelajaran, kata JK, pancasila mestinya dapat diterapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari. Sebab tak semua permasalahan moral dapat diselesaikan melalui pelajaran di sekolah.

“Justru kita harus berikan contoh pelaksanaan pancasila itu begini, keadilan itu begini, ke-Tuhanan yang maha esa itu begini, tidak hanya dengan memasukkan ke kurikulum lalu seakan semua beres,” terangnya.

Sementara itu, Ketua MPR RI, Zulkifli Hasan mendukung usulan Kemendikbud tersebut. Kendati demikian, perlu ada metode baru dalam pengajarannya.

“Saya setuju. Metodenya yang harus disesuaikan dengan sekarang,” kata Zulkifli di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa (27/11).

Zul menganggap saat ini siswa telah kehilangan pelajaran Pancasila maupun Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) yang dulu sempat diajarkan saat era Orde Baru. Padahal, kata dia, Pancasila sebagai ideologi harus diajarkan secara kuat dan mengakar.

Sumber : CNNINDONESIA

Andi G Prakoso

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: