TKN Sebut Posko BPN di Solo Cuma Strategi Perang Urat Syaraf

Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin tak mempermasalahkan pemindahan posko Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Solo, Jawa Tengah. Juru bicara TKN Ahmad Basarah menegaskan bahwa pihaknya tak akan terpengaruh apalagi terkecoh dengan pemindahan markas tersebut.

Menurut dia, pemindahan markas itu hanya strategi psychological warfare atau perang urat syaraf yang dilakukan kubu Prabowo-Sandi.

“Sebenarnya tidak mengandung perbedaan signifikan dengan posko mereka di daerah lain,” ujar Ahmad kepada CNNIndonesia.com, Rabu (2/1).

Ahmad justru berterima kasih pada tim Prabowo-Sandi karena pihaknya menjadi semakin bersiap mengamankan wilayah Jateng yang selama ini dikenal sebagai ‘kandang banteng’. Bahkan, menurut wakil sekjen PDIP ini, pemindahan posko itu berfungsi sebagai vitamin tambahan yang memacu semangat kader untuk memenangkan Jokowi-Ma’ruf.

“Namun bagi kami yang terpenting bukan seberapa banyak atau seberapa gagah posko pemenangan pilpres itu didirikan, tapi seberapa besar kehadiran posko itu memberikan pendidikan politik yang bermanfaat,” katanya.

Lebih lanjut Ahmad menuturkan, dalam sejarah pertarungan politik elektoral di Indonesia, Jateng memang tercatat sebagai kandang banteng yang tidak pernah kalah sepanjang sejarah pemilu. Secara sosiologi-politik, Jateng juga menjadi basis nasionalis Sukarnois dan Nahdliyin-warga Nadhlatul Ulama, yang diklaim merepresentasikan simbol nasionalis religius antara Jokowi-Ma’ruf.
“Sehingga kami tidak terlalu khawatir dan yakin basis pemilih kami di Jateng tetap aman,” ucapnya.

Di sisi lain, Ahmad juga tak mempersoalkan tim BPN yang menargetkan suara 50 persen untuk menang di Jateng. Hal itu, kata dia, serupa dengan tim Jokowi-Ma’ruf yang menargetkan 50 persen suara di Jawa Barat yang selama ini dikenal sebagai basis pemilih Prabowo.

Ahmad tak sepakat jika kubu Prabowo kemudian membandingkan keberhasilan saat gelaran pemilihan gubernur Jawa Tengah pada 2018. Saat itu, Sudirman Said yang berpasangan dengan Ida Fauziyah memperoleh suara 41,22 persen. Sedangkan lawannya yang memenangkan pilgub, Ganjar Pranowo-Taj Yasin memperoleh sekitar 58 persen suara.

Ahmad mengingatkan bahwa perolehan suara itu tak lepas dari peran kalangan NU di Jateng. Sudirman dinilai terbantu sosok Ida yang berasal dari kalangan NU dan diusung Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dalam pilgub Jateng, PKB diketahui berkoalisi dengan partai besutan Prabowo, Gerindra.

“Jadi kenapa Sudirman peroleh suara sampai 41,22 persen karena pasangannya dari kalangan NU. Sedangkan pasangan Ganjar-Taj Yasin juga dari kalangan NU. Memang suara NU terbagi ke kedua pasangan itu,” ujarnya.

Ahmad meyakini suara Nahdliyin di Jateng akan tetap solid memilih pasangan calon nonor urut 01. Kendati demikian, pihaknya tetap mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi demi mengamankan basis pemilih di Jateng.

“Kami punya strategi, amankan basis lebih dulu, garap pemilih mengambang dan menggempur basis pihak kompetitor,” ucapnya.

Diketahui, calon wakil presiden nomor urut 02 Sandiaga Uno telah meresmikan Posko Sekretariat Nasional (Seknas) Solo Raya di Surakarta, Jateng pada Minggu (30/12).

Posko yang berlokasi di Jalan Adi Soemarmo nomor 299, Klodran, Colomadu, Karanganyar itu ditujukan untuk membantu koordinasi dan mobilisasi gerak juang para relawan dan Prabowo-Sandi di wilayah Jateng dan sekitarnya.

Terkait pemilihan lokasi di Solo, Sandi mengaku agar bisa dijangkau oleh seluruh wilayah Jateng, terutama wilayah Solo Raya. Apalagi ke depan Sandi memang akan lebih banyak berkegiatan di wilayah Jateng.

Jateng selama ini kerap disebut sebagai kandang banteng karena basis suara terbesar PDIP yang mengusung Jokowi-Ma’ruf. Jokowi juga berasal dari Solo di mana ia pernah jadi wali kota dua periode di sana.

SUMBER : CNNINDONESIA

Andi G Prakoso

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: