Ucapan Natal dan Upaya Genjot Elektabilitas ala Mar’uf Amin

Calon wakil presiden nomor urut 01 Ma’ruf Amin menyampaikan ucapan selamat merayakan Hari Raya Natal kepada seluruh masyarakat umat Kristiani yang merayakannya. Ucapan tersebut Ma’ruf sampaikan melalui video berdurasi 21 detik yang tersebar di media sosial Instagram.

Dalam video itu, Ma’ruf mengenakan jas hitam yang dipadu surban putih dan peci hitam. Tercantum juga logo 01 berwarna-warni khas pasangan Jokowi-Ma’ruf dan tulisan ‘Jokowi Amin Indonesia Maju’.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menyampaikan agar momentum hari Natal 2018 dan tahun baru 2019 bisa membuat bahagia masyarakat.

“Pada saudara-saudara kami dari kaum Kristiani kami sampaikan selamat Hari Natal dan tahun baru, semoga berbahagia,” kata Ma’ruf.

Direktur Relawan Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin, Maman Imanulhaq memperkirakan video tersebut dibuat oleh tim yang bernama Indonesia Pusaka. Menurut Maman, sudah selaiknya Ma’ruf mengucapkan selamat Natal kepada mereka yang merayakan.

“Sebuah kreativitas yang ingin menjaga keragaman yang menjadi karakteristik Indonesia,” kata Maman saat dihubungi lewat pesan singkat, Selasa (25/12).

Ucapan selamat Natal dari Ma’ruf ini dinilai tak terlepas dari kepentingan politik Pilpres 2019. Ma’ruf maju sebagai pendamping Presiden Joko Widodo selaku capres petahana. Langkah Ma’ruf dianggap bisa menambah suara dari kalangan non-muslim, khususnya masyarakat beragama Kristen.

“Jadi pasti di belakangnya ada kepentingan-kepentingan politik yang ingin dicapai oleh Pak Ma’ruf termasuk dukungan dari non-muslim,” kata dosen ilmu politik dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Bakir Ihsan kepada CNNIndonesia.com, Rabu (26/12).

Bakir mengatakan sebagai seorang calon wakil presiden, Ma’ruf harus merangkul semua golongan untuk mendapat dukungan baik dari muslim dan nonmuslim. Kepentingan politik di balik ucapan selamat Natal itu tak bisa dilepaskan karena Ma’ruf saat ini tengah ikut kontestasi Pilpres 2019.

Bakir menyadari bahwa mantan Rais Aam PBNU itu diidentikkan dekat kelompok Islam yang punya pandangan ‘keras’ tentang hari keagamaan non-muslim. Bahkan Ma’ruf diketahui ikut membidani lahirnya fatwa Nomor 56 Tahun 2016 tentang hukum menggunakan atribut keagamaan non-muslim.

Fatwa itu keluar pada 14 Desember 2016, sekitar 10 hari sebelum perayaan Hari Natal. Inti dari fatwa MUI tersebut antara lain menggunakan atribut keagamaan non-muslim adalah haram serta mengajak dan atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan non-muslim adalah haram.

Usai munculnya fatwa itu terjadi aksi sweeping di sejumlah daerah.

Namun, untuk pengucapan selamat Natal sampai saat ini MUI belum mengeluarkan fatwa. Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas menyampaikan mereka belum pernah menerbitkan fatwa terkait umat Islam yang mengucapkan selamat Natal.

“MUI belum pernah mengeluarkan fatwa tentang boleh dan atau tidak bolehnya umat Islam menyampaikan ucapan selamat Natal kepada yang merayakannya,” kata Anwar melalui keterangan tertulisnya, Selasa (25/12).

Atas dasar itu, dengan keluarnya ucapan selamat Natal secara terbuka, Bakir menilai Ma’ruf berharap muncul pandangan yang lebih positif terhadap dirinya selaku cawapres, khususnya dari kalangan non-muslim. Menurut Bakir, ucapan tersebut juga salah satu strategi dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf. Mengingat beberapa waktu lalu Ma’ruf justru dianggap menjatuhkan elektabilitas Jokowi.

“Dia (Ma’ruf Amin) mencoba mencari dukungan terlebih di saat merebaknya pandangan bahwa Pak Ma’ruf Amin ini tidak punya magnet yang bisa mendukung elektabilitas yang dimiliki Jokowi,” ujar Bakir.

“Sehingga beberapa langkah dia lakukan, mungkin salah satunya adalah dengan mengucapkan selamat Natal. Itu makna politiknya tentu,” kata dia menambahkan.

Jadi Bahan Kampanye Negatif

Di sisi lain, lanjut Bakir, sikap Ma’ruf tersebut juga akan semakin membuat kelompok Islam ‘konservatif’ memiliki alasan untuk tak memilih Jokowi-Ma’ruf pada pesta demokrasi lima tahunan.

Menurut Bakir, sejak Ma’ruf dipinang Jokowi, kelompok yang sempat mendukung Ma’ruf mengeluarkan fatwa untuk mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok itu sudah meninggalkannya.

“Sehingga dengan ucapan seperti ini kan semakin memperjelas, mereka semakin punya alasan untuk menjauh dengan Pak Ma’ruf,” ujarnya.

Bakir mengatakan lebih jauh lagi kelompok tersebut akan menyebarkan potongan video Ma’ruf mengucapkan selamat Natal itu di media sosial ataupun grup-grup WhatsApp. Menurut Bakir, langkah tersebut adalah upaya mendegradasi modal politik yang dimiliki Ma’ruf.

“Mereka memviralkan misalnya dengan komentar-komentar yang mempertentangkan antara Pak Ma’ruf sebagai Ketua MUI dengan sebagai cawapres,” kata dia.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Padjadjaran, Idil Akbar menilai posisi Ma’ruf sebagai pribadi dan MUI sebagai lembaga harus dipisahkan dalam konteks pengucapan selamat Natal ini.

Menurut Idil, MUI sebagai lembaga sampai saat ini juga belum mengeluarkan fatwa tentang pengucapan selamat Natal.

Idil mengatakan bahwa Ma’ruf yang juga seorang ulama lebih paham tentang dasar atau dalil pengucapan selamat Natal. Idil menyebut Ma’ruf sebagai seorang ulama pemahaman pengetahuan yang lebih dari orang biasa.

“Karena beliau ulama, beliau lebih paham tentang agama, maka tentu beliau punya dalil itu, punya pertimbangan tersebut,” kata Idil kepada CNNIndonesia.com.

Idil berpandangan pengucapan selamat Natal Ma’ruf juga tak akan berpengaruh besar kepada peningkatan elektabilitas pasangan nomor urut 01 itu. Apalagi, kata Idil, saat ini masyarakat sudah tak banyak memperdebatkan masalah pengucapan selamat Natal.

“Karena perdebatan itu sebetulnya, kalau saya menyimak dari beberapa media sosial dan televisi segala macam, perdebatan soal ucapan itu sudah jauh berkurang, debat-debat kusir mengenai ucapan sudah jauh berkurang,” ujarnya.

SUMBER : CNNINDONESIA

Andi G Prakoso

Tinggalkan Komentar

%d blogger menyukai ini: