Anak Krakatau Muntahkan Lava Dan Abu Vulkanik

Gunung berapi Anak Krakatau di Indonesia memuntahkan satu kolom abu 500 meter (1.640 kaki) ke langit dalam letusan terpanjang sejak ledakan besar pulau itu menyebabkan tsunami yang mematikan pada tahun 2018, para ilmuwan mengatakan Sabtu, 11 April 2020.

Laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Indonesia menunjukkan lava flare Jumat malam.

Badan itu mengatakan bahwa gunung berapi itu terus meletus hingga Sabtu pagi. Status waspada level 2 tetap ada, tertinggi kedua pada skala empat.

Tidak ada korban yang dilaporkan.

“Selama Januari hingga Maret 2020 aktivitas erupsi masih terjadi. Erupsi terjadi tidak menerus,” kata Nia Haerani dalam publikasi tersebut yang dikutip pada Sabtu (11/4).

Kemudian pada tanggal 06 hingga 11 Februari 2020 terjadi rangkaian erupsi yang menghasilkan kolom abu berwarna putih kelabu tebal dengan ketinggian maksimum 1.000 meter dari atas puncak.

Selanjutnya di bulan Maret 2020, terjadi dua kali erupsi pada tanggal 18 Maret 2020 yang menghasilkan kolom abu berwarna putih kelabu setinggi 300 meter dari atas puncak.

Berikutnya pada tanggal 10 April 2020, terjadi dua kali erupsi, menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu tebal setinggi 500 meter dari atas puncak, diikuti dengan erupsi menerus tipe strombolian. Tidak terdengar suara gemuruh atau dentuman akibat erupsi.

“Menjelang dan selama erupsi, gempa-gempa vulkanik masih terekam dengan jumlah yang belum signifikan, menunjukkan masih terjadinya suplai magma ke kedalaman yang lebih dangkal,” terangnya.

Berdasarkan pengamatan deformasi dengan tiltmeter, Gunung Anak Krakatau masih bersifat fluktuatif dan menunjukkan gejala kenaikan yang tidak signifikan sejak 05 April 2020 hingga terjadinya erupsi pada 10 April 2020 sekitar pukul 22.35 WIB.

Bahkan suara dentuman yang terdengar di wilayah Tangerang, Jakarta, Bogor hingga Depok, dikaitkan dengan suara dentuman tersebut.

Nia menganalisa data kegempaan dan deformasi yang menunjukkan bahwa aktifitas vulkanik GAK masih fluktuatif, lantaran suplai fluida dari ke dalam atau perut gunung masih terjadi.

Menurutnya, jenis fluida pada rangkaian erupsi Januari hingga Maret 2020 diduga didominasi oleh gas atau uap air, sedangkan erupsi pada 10 April 2020 material batuan pijar sudah terbawa ke permukaan dengan intensitas yang belum signifikan, jauh lebih kecil dibandingkan rangkaian erupsi pada periode Desember 2018 hingga Januari 2019.

Erupsi gunung berapi di tengah perairan Selat Sunda memiliki beberapa potensi bahaya yang harus diketahui oleh masyarakat luas, yakni lontaran material lava, aliran lava dan hujan abu lebat di sekitar kawah dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.

Sementara itu, hujan abu yang lebih tipis dapat terpapar di area yang lebih jauh dan bergantung pada arah maupun kecepatan angin.

Aktivitas vulkanik berupa erupsi tipe strombolian saat ini, lontaran material pijar hanya tersebar di sekitar kawah dan masih dalam batas kawasan rawan bencana yang direkomendasikan.

Erupsi terus-menerus berpotensi terjadi, namun tidak terdeteksi adanya gejala vulkanik yang menuju kepada intensitas erupsi lebih besar.

“Kesimpulannya Masyarakat, wisatawan maupun nelayan dihimbau tidak beraktifitas disekitar gugusan kepulauan Anak Krakatau,” katanya.

“Sedangkan area wisata Pantai Carita, Anyer, Pandeglang dan sekitarnya, serta wilayah Lampung Selatan masih aman dari ancaman bahaya aktivitas Gunung Anak Krakatau,” pungkasnya.

Pada 2018 Gunung berapi Anak Krakatau letusannya menyebabkan tsunami di sepanjang pantai Sumatra dan Jawa, menewaskan 430 orang.

Anak Krakatau, yang berarti Anak Kratakau, adalah keturunan gunung berapi Krakatau yang terkenal, yang letusannya yang monumental pada tahun 1883 memicu periode pendinginan global.

Bentang Nusantara
%d blogger menyukai ini: