Jokowi Ingin 10.000 Tes Swab Per Hari

Dalam kondisi pandemi Covid 19 ini Presiden Joko “Jokowi” Widodo telah menginstruksikan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto untuk meningkatkan jumlah tes swab Covid-19 menjadi 10.000 per hari dan berbagi data pandemi dengan Covid-19 Task Force pemerintah dan pemerintah daerah untuk lebih mempersiapkan mereka dalam mengekang penyebaran coronavirus.

Kasus Covid-19 Indonesia mencapai 4.241 pada hari Minggu setelah mencatat peningkatan harian 399 kasus. Korban tewas mencapai 373, masih di atas jumlah pemulihan 359.

Jumlah kematian secara konsisten tetap di atas jumlah pemulihan selama hampir sebulan sekarang.

Pemerintah pusat sejauh ini menolak untuk mengunci episentrum Covid-19, alih-alih memilih pembatasan sosial berskala besar, tindakan setengah yang para ahli peringatkan tidak akan efektif tanpa pengujian massal untuk melacak dan mengisolasi pembawa virus.

Negara terpadat di Asia Tenggara memiliki salah satu dari jumlah tes Covid-19 terendah di dunia.

Hanya minggu lalu ia menggandakan jumlah tes PCR cepat menjadi 26.500, tingkat 100 per satu juta populasi.

“Ini adalah kemajuan yang baik, tetapi saya ingin kita menguji 10.000 setidaknya setiap hari,” kata Jokowi saat rapat kabinet terbatas di Istana Merdeka di Jakarta pada hari Senin.

Rekor jumlah tes harian hanya lebih dari 7.100, yang terjadi pada hari Minggu.

Kementerian Kesehatan telah menyetujui 78 laboratorium dengan sertifikasi biosafety level tiga di seluruh negeri untuk melakukan tes.

Hanya 29 laboratorium yang melakukan tes sekarang, tetapi itu masih merupakan peningkatan dari hanya tiga bulan lalu.

Jokowi mengatakan Kementerian Badan Usaha Milik Negara telah berhasil memperoleh 18 mesin uji cepat reaksi berantai polimerase, yang masing-masing dapat memeriksa 500 sampel sehari.

“Saya pikir hingga tiga dari mesin ini dapat diinstal minggu ini,” kata Jokowi.

Presiden juga memerintahkan Kementerian Kesehatan, Satuan Tugas Covid-19 dan pemerintah daerah untuk berbagi data satu sama lain dan juga dengan masyarakat.

Jokowi sekarang menginginkan rincian orang-orang di bawah pengawasan (ODP), pasien yang dicurigai (PDP), kasus yang dikonfirmasi, kematian dan pemulihan akan dirilis ke publik.

Ini adalah perubahan menyeluruh dari sikap pemerintah pusat sebelumnya untuk membagikan data sesedikit mungkin.

“Semuanya harus dibuat jelas dan dimasukkan ke dalam database. Hasil [Tes] harus dibagi, semua orang harus dapat mengakses data yang kita miliki [pada pandemi],” katanya.

Di sisi lain, Presiden juga mengingatkan supaya ada peningkatan pelayanan kepada warga yang sakit maupun kepada para dokter dan tenaga medis. Menteri Kesehatan diminta untuk mengatur supaya pasien COVID-19 tak melulu dirawat di rumah sakit. Untuk pasien COVID-19 dengan kondisi ringan atau sedang bisa diisolasi di Wisma Atlet, sedangkan untuk pasien dengan kondisi ringan bisa mengisolasi diri secara mandiri.

Bahkan, pasien bisa memanfaatkan aplikasi telemedicine yang ada. Hal ini sekaligus mengurangi risiko yang dihadapi para tenaga medis dan dokter. Pasien bisa berkonsultasi dengan dokter serta mendapatkan resep dan obat melalui aplikasi rintisan yang diibaratkan Presiden sebagai rumah sakit tanpa dinding.

”Sekarang beberapa perusahaan aplikasi teknologi sudah masuk dan bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan. Dari yang sebelumnya hanya 4 juta, sekarang sudah mencapai lebih dari 15 juta pengguna aplikasi. Ini sangat bagus,” tutur Presiden Jokowi.

Hanya pasien yang membutuhkan penanganan intensif yang dibawa ke rumah sakit. Dengan demikian, kekurangan sarana rumah sakit dan tenaga perawat bisa diatasi.

Sejauh ini, untuk mengatasi kekurangan dokter, kata Doni, diberikan surat akreditasi dan pelatihan dokter kepada 2.900 orang dokter muda. Tenaga dokter juga diprioritaskan supaya bisa praktek langsung di lapangan dibantu relawan yang jumlahnya sudah hampir mencapai 18.000 orang.

Untuk melindungi para dokter dan tenaga medis, sebanyak sekitar 690.000 alat pelindung diri (APD) sudah didistribusikan ke rumah-rumah sakit di daerah maupun kepada dokter yang praktik di daerah. Ventilator juga akan terus ditingkatkan produksinya termasuk bekerja sama dengan perguruan-perguruan tinggi, badan riset, dan peneliti.

R Segara
%d blogger menyukai ini: