Jokowi Minta Kapolri Tangkap Penyebar Hoaks Pintu ke Pintu

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan telah meminta Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian menangkap penyebar informasi tidak benar alias hoaks jelang penyelenggaraan Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 17 April mendatang.

Hal itu disampaikannya saat menghadiri Peringatan Hari Lahir ke-46 Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Ecovention Ocean Ecopark di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, Kamis (28/2).

“Saya bilang kepada Kapolri kalau tindakan tegas harus diberikan kepada mereka yang menyebarkan hoaks di media sosial dan dari pintu ke pintu. Ini saya sampaikan karena semakin mendekati 17 April,” ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan instruksi itu diberikannya kepada Kapolri karena hoaks terus menerus muncul jelang pilpres. Bahkan, kemunculan hoaks tidak hanya di media sosial, namun sudah tersebar dari pintu ke pintu rumah secara langsung.

Padahal, sambungnya, hoaks merupakan hal paling berbahaya bagi Indonesia. Sebab, hoaks dapat merusak kerukunan dan persatuan bangsa yang merupakan aset dan modal terbesar bagi keberlangsungan negara ini.

“Saya ajak kita semua untuk berani respons ini karena aset dan modal terbesar adalah kerukunan dan persatuan. Ini bukan barang sepele,” ujar dia.

Sebelumnya, Jokowi kembali menyinggung beberapa hoaks yang sempat menghampiri dirinya. Mulai dari isu Partai Komunis Indonesia (PKI) yang dikaitkan dengan Jokowi dan orang tuanya, hingga kebijakan-kebijakan pemerintahan yang dianggap merugikan rakyat.

Pada fitnah anggota PKI misalnya. Hal ini bermula dari tersebar gambar orang serupa Jokowi ketika Ketua PKI DN Aidit berpidato pada 1959. Padahal PKI dibubarkan pada 1965 sementara Jokowi baru lahir 1961.

“Saya lihat di gambar kok ya persis saya. Ini yang kadang-kadang, aduh, mau saya tabok orangnya di mana saya cari betul. Saya ini sudah empat tahun diginiin, Ya Allah sabar, sabar,” katanya.

Kendati begitu, ia mengaku sudah tidak bisa tinggal diam dengan berbagai hoaks yang menghampirinya. Sebab, ia khawatir hoaks yang didiamkan selama ini justru diterima oleh masyarakat.

“Enam persen percaya berita ini. Enam persen itu sembilan juta (penduduk) lebih lho. Kok percaya? Lahir saja belum kok di bawah podium Aidit,” ujarnya.
Hoaks dari pintu ke pintu juga disinyalir terkait aksi tiga emak-emak di Karawang, Jawa Barat. Para emak-emak menyebut akan ada larangan azan jika Jokowi terpilih kembali sebagai presiden. Tak hanya itu, mereka mengampanye-hitamkan bahwa pernikahan sejenis juga akan legal jika Jokowi kembali menang.

Ketiganya kini telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Karawang. Ketiganya disangka melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) setelah diduga melakukan kampanye hitam terhadap pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019.

Tiga emak-emak itu disebut berasal dari organisasi relawan Partai Emak-emak Pendukung Prabowo-Sandi (PEPES). Namun Wakil Direktur Relawan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ferry Juliantono, mengungkap dugaan bahwa emak-emak tersebut justru penyusup dari pihak lawan yang pura-pura menjadi relawan Prabowo-Sandi.

SUMBER : CNNINDONESIA

Andi G Prakoso
%d blogger menyukai ini: