Pengamat Nilai Jokowi dan Prabowo Tak Percaya Diri di Pilpres

Pengamat politik CSIS Arya Fernandes menilai ada lima ketidakpastian dalam Pilpres 2019. Salah satunya menyangkut faktor kepercayaan diri dua calon presiden yang berlaga di Pilpres 2019, Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Menurutnya, hal itu dapat memengaruhi hasil Pilpres 2019 jika tidak diwaspadai oleh paslon 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Ada lima ketidakpastian di depan itu terjadi. Dan ini memang harus diwaspadai oleh kedua kandidat,” ujar Arya dalam diskusi bertema ‘Mengukur Kesiapan 01 dan 02 Menuju 17 April’ di Jakarta, Kamis (28/2).

Arya membeberkan ketidakpastian pertama terkait dengan kepercayaan diri kandidat. Ia melihat kedua kandidat cenderung tidak percaya diri untuk mampu memenangkan Pilpres 2019 meski gap elektabilitas cenderung jauh.

Kepercayaan diri yang dimiliki kandidat saat ini, kata dia, berbeda dengan kepercayaan diri yang diperlihatkan Ketum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono ketika kembali maju sebagai calon petahana di Pilpres 2009.

Ia berkata kala itu SBY mampu meyakinkan pendukungnya bahwa dirinya akan menang kembali.

“Sekarang ini banyak pertanyaan meskipun banyak survei yang dilakukan orang tetap saja bertanya apakah Jokowi akan menang atau Prabowo akan kalah,” ujarnya.

Ketidakpastian kedua, lanjut Arya, terjadi di level pemilih. Ia menilai pemilih saat ini sulit diprediksi meski telah disurvei. Terdapat tiga segmen pemilih yang sulit diprediksi, yakni pemilih milenial, perempuan, dan Islam.

Selanjutnya, Arya menyebut ketidakpastian terjadi di partai politik yang tidak mencalonkan kadernya sebagai kandidat. Hal itu terjadi karena parpol tersebut harus bertarung dengan parpol lain agar masuk ke parlemen.

“Jadi mereka tentu juga harus bertahan,” ujarnya.

Keempat, ia berkata terjadi pada relawan. Sejak dua tahun terakhir, ia mencermati relawan tak lagi mendukung karena terpikat gagasan kandidat. Hal itu terjadi lantaran desain pemilu yang berubah.

Relawan saat ini, kata dia, menunggu amunisi dan logistik untuk bekerja.

“Dulu relawan dibentuk dari bawah ke atas. Sekarang dari atas ke bawah. Jadi (sekarang) diinisiasi baru bekerja,” ujarnya.

Terakhir, Arya mengatakan terjadi ketidakpastian soal isu yang dibawa kandidat. Ia melihat tidak ada isu baru yang mampu membedakan kedua kandidat.

“Misalnya soal pengalaman. Dulu Jokowi juga jual pengalaman dan kerakyatan. Mungkin sekarang baru ada infrastruktur. Di tim 02 juga begitu, isunya soal asing, utang, soal segala macam,” ujar Arya.

SUMBER : CNNINDONESIA

Andi G Prakoso
%d blogger menyukai ini: