Pemerintah Andalkan Produksi Lokal Untuk Keluar dari Krisis

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap pemerintah menstimulasi perekonomian, pemerintah akan menggenjot proyek strategis nasional (PSN) 2020-2024 seperti pembangunan infrastruktur dan mendorong nilai tambah industri pertanian.

“Kalau lihat great depression perang dunia pertama, semua melihat pada domestik ekonomi, banyak dibangun infrastruktur untuk menstimulasi perekonomian,” ucapnya lewat video conference pada Jumat (26/6).

Ia menyebut kunci Indonesia untuk dapat keluar dari krisis yaitu dengan mengandalkan kekuatan dan kemandirian nasional. Pasalnya, setiap negara akan menahan laju ekspor demi memenuhi kebutuhannya masing-masing, khususnya yang menyangkut ketahanan pangan.

Oleh karena itu, lanjutnya, pemerintah tengah menggenjot produksi padi lewat pengembangan food estate atau pusat pengembangan tanaman pangan di Kalimantan Tengah.

Airlangga bilang saat ini padi yang dihasilkan petani setempat berkisar antara 1,5-2 ton per satu hektar (Ha) lahannya. Dengan penambahan nilai produksi seperti pemupukan dan irigasi, ia optimistis hasil produksi dapat naik menjadi 4 ton per Ha lahan.

Selain itu, untuk pembangunan infrastruktur ia menyebut pemerintah akan melanjutkan program kerjasama dengan swasta seperti pembangunan jalan, bendungan, dan hilirisasi. Katanya, keterlibatan swasta pada PSN hingga 2024 dapat menembus Rp1.400 triliun.

“Terkait dengan medis, Indonesia dengan berbagai universitas dan manufaktur bekerjasama memproduksi alat-alat kesehatan dan produk farmasi,” pungkasnya.

Airlangga Hartarto mengungkapkan lima sektor yang ‘tahan banting’ selama pandemi virus corona yaitu industri rokok dan tembakau, industri makanan pokok, industri batubara, industri farmasi dan alat kesehatan, dan industri minyak nabati khususnya minyak sawit. Kinerja kelima sektor tersebut tidak terpengaruh pandemi covid-19, malah mencetak pertumbuhan.


“Ada juga sektor yang tidak terlalu terdampak secara dalam yaitu sektor rokok dan tembakau dan dilihat dari pendapatan cukai rokok masih baik,” ucap Airlangga pada Jumat (26/6).


Data per 17 Juni 2020 menunjukkan industri rokok dan tembakau mencatat perbaikan pertumbuhan dari minus 5 persen menjadi minus 1 persen jika dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. Sementara, industri makanan pokok tumbuh dari 7 persen menjadi 13 persen.

Selanjutnya, komoditas batubara tercatat tumbuh 25 persen dari 11 persen pada Juni 2019 menjadi 36 persen pada Juni 2020. “Sektor farmasi dan alat kesehatan seperti diketahui kebutuhan tinggi baik domestik atau global, naik 13 persen,” lanjutnya.


Sementara untuk industri minyak nabati yang didominasi minyak sawit berhasil tumbuh 25 persen pada Juni 2020 dari pencapaian 2019 yaitu minus 12 persen. Airlangga menyebut lonjakan disebabkan oleh kebijakan lockdown di Malaysia serta pembukaan izin impor di India.

Dalam kesempatan sama, Airlangga juga mengungkap sektor-sektor yang mengalami pukulan terberat seperti sektor otomotif dan alat transportasi yang anjlok 43 persen dan jasa keuangan yang turun sebesar 36 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Airlangga menyebut antara Mei dan Juni 2020 pihaknya menemukan tren lonjakan di berbagai industri. Dia memprediksi kenaikan seluruh sektor akan berlanjut dalam tatanan normal baru (new normal).

Yuanita R Silalahi
%d blogger menyukai ini: