Prioritas Stimulus Bagi Ultra Mikro dan UMKM Sebagai Penyelamatan Sektor Usaha Padat Karya

Perusahaan-perusahaan padat karya akan menjadi sasaran pemberian stimulus berikut setelah stimulus diberikan kepada dunia usaha dari sektor ultra mikro (UMi) dan UMKM. Stimulus sebagai upaya mitigasi atas dampak pandemi Covid-19 ini diberikan dengan memprioritaskan sektor-sektor yang paling rentan terdampak.

Upaya penyelamatan sektor usaha padat karya perlu dilakukan agar angka pengangguran tidak terlalu tinggi. Pasalnya, setiap krisis dipastikan berdampak pada angka pengangguran serta jumlah orang miskin yang meningkat. “Tapi, bagaimana kita berstrategi? Kita tolong dunia usaha setelah UMKM, yaitu mungkin padat karya jika resources kita memang masih ada. Nanti kami siapkan paket-paketnya. Angka-angka yang kami keluarkan itu ikut sequence (urutan) tersebut,” kata Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Nathan Kacaribu.

Paket stimulus yang akan diberikan kepada perusahaan padat karya adalah dalam bentuk penjaminan kredit modal kerja. Dengan stimulus ini, perusahaan yang beberapa bulan libur produksi dan bahkan sudah merumahkan tenaga kerjanya bisa beroperasi lagi berlahan-lahan. Namun, perbankan yang sebenarnya saat ini memiliki likuiditas yang cukup tidak berani meyalurkan kredit karena risikonya terlalu tinggi.

“Di sinilah pemerintah melihat perannya sebagai katalisator. Pemerintah tidak mungkin menyalurkan kredit modal kerja karena tidak mempunyai uang. Tapi kami tahu ada uang di bank, hanya masih takut untuk menyalurkan. Nah, di situlah pemerintah masuk dengan menjaminan. Ini sedang kami siapkan, mudah-mudahan dalam beberapa hari ini kami bisa keluar dengan policy-policy baru,”, Febrio tak menampik bahwa semua sektor yang ada dalam perekonomian nasional menderita akibat hantaman pandemi Covid-19, sehingga membutuhkan penanganan. Namun, dengan sumber daya yang terbatas, tidak semua kebutuhan itu bisa dipenuhi. “Dari Kementerian Keuangan tidak dalam kondisi spend sebanyak-banyaknya. Kami juga melihat apakah keseimbangan makro masih terjaga atau tidak,” ucap dia.

Saat ini 40% penduduk termiskin di Indonesia dalam kondisi sangat rentan. Terlebih lagi yang 20% termiskin mayoritas bekerja di sektor informal. Mereka inilah kelompok yang sangat rentan terhadap pelemahan ekonomi. “Sehingga, ketika kami melakukan prioritasisasi, pasti rumah tangga (miskin) dulu yang kami dukung daya belinya.

Paling tidak mereka bisa makan dan terpenuhi kebutuhan dasarnya. Kami bersama DPR melihat itu sebagai prioritas utama,” kata dia. Setelah rumah tangga, prioritas berikutnya adalah dunia usaha dan itu pun harus ditetapkan prioritasnya untuk menetapkan kelompok dunia usaha yang paling rentan.

“Pasti ultra mikro dan UMKM. Itu dulu yang kami tolong. Mereka kemudian jadi prioritas dalam angka-angka yang dikeluarkan pemerintah. Itu juga yang diusulkan oleh bapak dan ibu di DPR.

“Di sini pemerintah masuk dengan subsidi bunga untuk sekitar 60 juta lebih nasabah. Itu luar biasa. Kami berkerja keras dengan teman-teman di DPR.

Alfian G Raditya
%d blogger menyukai ini: