Rupiah Terbaik di Asia!

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat di kurs tengah Bank Indonesia (BI). Di pasar spot, rupiah pun menapaki jalur hijau.

Pada Jumat (8/5/2020), kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp 15.009. Rupiah menguat 0,78% dibandingkan posisi sebelum libur Hari Raya Waisak.

Sementara di pasar spot, rupiah juga menguat. Pada pukul 10:00 WIB, US$ 1 setara dengan Rp 14.885 di mana rupiah menguat 0,63%.

Kala pembukaan pasar, rupiah melemah 0,13%. Itu tidak lama, rupiah kemudian menguat dan dolar AS kembali didorong ke bawah Rp 15.000.

Rupiah bergerak searah dengan mata uang utama Asia lainnya yang cenderung menguat di hadapan dolar AS. Sejauh ini hanya yen Jepang dan dolar Hong Kong yang masih melemah.

Namun rupiah tidak sekadar menguat. Apresiasi 0,63% membuat rupiah menjadi yang terbaik di Asia.

Dari dalam negeri, investor kemungkinan menyambut positif rencana pemerintah untuk mengembalikan kehidupan masyarakat menuju normal selepas pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) mereda. Meski rencana ini masih berupa proposal, tetapi sudah cukup memberi gambaran kepada pasar bahwa pemerintah punya exit strategy.

“Bahwa yang beredar di masyarakat tersebut merupakan kajian awal Kemenko Perekonomian, yang selama ini secara intens melakukan kajian dan kebijakan pemerintah menjelang, selama, dan pasca Pandemi Covid-19. Kajian awal yang beredar tersebut sebagai antisipasi untuk melakukan upaya-upaya yang diperlukan pasca pandemi Covid-19 mereda.

“Saat ini Kemenko Perekonomian sedang membahas secara intens dengan Kementerian dan Lembaga terkait guna mematangkan kajian awal tersebut. Dalam waktu dekat Kemenko Perekonomian akan melakukan finalisasi atas Kajian tersebut, dan akan disampaikan kepada masyarakat,” demikian ungkap Susiwijono, Sekretaris Menko Perekonomian, dalam keterangan tertulis.

Wajar saja, perkembangan penanganan virus corona di Indonesia memang semakin positif. Per 7 Mei 2020, jumlah pasien positif corona di Tanah Air adalah 12.776 orang. Bertambah dari posisi per hari hari sebelumnya yaitu 12.438 orang.

Meski penularan masih terjadi, seperti yang setiap hari disampaikan oleh Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto, tetapi persentase pertumbuhannya kian melambat. Pertumbuhan kasus harian pada 7 Mei adalah 2,72%, melambat dibandingkan hari sebelumnya yaitu 3,04%.

Sejak 13 April, laju pertumbuhan kasus corona di Indonesia sudah berada di kisaran satu digit dan dalam tren menurun. Jika bisa dipertahankan bahkan lebih baik lagi, maka harapan Presiden Joko Widodo bahwa kurva pasien corona bisa turun pada bulan ini dapat tercapai.

Kabar baik lainnya adalah tingkat kematian (mortality rate) akibat virus corona di Indonesia dalam tren menurun. Per 7 Mei, jumlah pasien meninggal tercatat 930 orang. Secara nominal masih bertambah dari hari sebelumnya yakni 895 orang.

Namun dalam dalam delapan hari terakhir, mortality rate sudah terjaga di kisaran 7%. Jauh dari posisi puncak yaitu 9,5% yang terjadi pada 2 April.

Sementara tingkat kesembuhan (recovery rate) dari virus corona justru semakin meningkat. Per 7 Mei, jumlah pasien yang berhasil sembuh adalah 2.381 orang. Bertambah dari hari sebelumnya yaitu 2.317 orang. Pasien yang sembuh sudah lebih dari dua kali lipat dibandingkan yang tutup usia.

Recovery rate per 7 Mei adalah 18,64%, naik dibandingkan hari sebelumnya yaitu 18,63%. Ini semakin memberi konfirmasi bahwa kurva kasus corona di Indonesia semakin melandai, dan kemungkinan bisa turun dalam waktu yang tidak terlampau lama.

Oleh karena itu, mungkin sudah saatnya Indonesia bicara soal exit strategy. Sebab semakin lama Indonesia terjebak dalam pembatasan sosial (social distancing), maka ekonomi semakin ‘berdarah-darah’.

Harapan bahwa ekonomi Indonesia bisa pulih dalam waktu yang tidak terlalu lama membuat pelaku pasar berbunga-bunga. Akibatnya, arus modal mengalir deras ke pasar keuangan Tanah Air sehingga mendukung penguatan rupiah.

Yuanita R Silalahi
%d blogger menyukai ini: