Skenario Pemulihan Ekonomi Nasional

BELUM lama ini beredar porongan presentasi mengenai skenario pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi covid-19 yang kabarnya sedang dibahas di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Adapun pada potongan presentasi tersebut menunjukkan bahwa pada bulan Juni-Juli masyarakat bisa beraktivitas kembali serta bisnis akan kembali normal dengan syarat dan berbagai ketentuan.

Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, skenario pemulihan ekonomi nasional pasca covid-19 merupakan sebuah kajian dari seluruh Kementerian dan Lembaga (K/L) yang sedang dibahas oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

“Termasuk dari berbagai K/L yang miliki kompetensi untuk melihat dari semua aspek secara seimbang. Aspek kesehatan dari sisi keamanan masyarakat, aspek dari kegiatan sosial dan ekonomi bahkan dari sisi aspek religius,” ungkapnya dalam video conference, Senin (11/5).

Mantan direktur pelaksana Bank Dunia ini menuturkan, saat ini pemerintah juga tengah melakukan berbagai langkah-langkah yang difokuskan untuk penanganan covid-19 pada penyebaran dan mencegah korban jiwa bertambah.

Adapun pembahasan itu juga dibarengi dengan mengkaji berbagai kemungkinan agar dampak ke sosial dan ekonomi bisa berkurang.

“Jadi, artinya bapak presiden dan kabinet akan lihat seluruh langkah dari berbagai aspek dan liat data untuk penanganan penyebaran covid-19 ini untuk bisa diliat apakah ada kemungkinan-kemungkinan untuk melakukan tindakan yang bisa menyeimbangkan antara kebutuhan, tetap menjaga kesehatan dan keselamatan masyarakat,” ujar Sri Mulyani.

Sri Mulyani menegaskan, interaksi sosial dan ekonomi perlu diberi ruang khusus untuk pembahasan dengan istilah yang disebut The New Normal.

Dia mencontohkan dibeberapa negara yang telah melakukan hal tersebut setelah memastikan penyebaran covid-19 berkurang.

“Kalau saya dilihat di Eropa mereka akan lakukan, di Inggris, Jerman, Prancis bahkan negara-negara seperti di Italia, Spanyol dengan kriteria-kriteria tertentu mengenai apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan dalam kondisi new normal tersebut,” pungkasnya.

“Indonesia melakukan kajian yang sama. Jadi kalau di WA[WhatsApp] Group beredar presentasi Pak Menko [Menko Perekonomian Airlangga Hartanto] itu yang dikaji. Termasuk kementerian lembaga lain akan meliat aspek-aspek secara seimbang, baik dari kesehatan, sosial, ekonomi, bahkan religius. Karena PSBB praktik melakukan ibadah bersama terbatasi. Kita akan melihat dari situ,” imbuhnya.

Berdasarkan infografis yang beredar, pemerintah menyusun pemulihan ekonomi Indonesia yang akan dilakukan dalam lima fase.

Fase I (1 Juni),
Pemerintah merelaksasi industri jasa dan business to business (B2B) dapat beroperasi dengan sosial distancing.

Fase II (8 Juni),
Pemerintah memperbolehkan toko, pasar, dan mall dapat dibuka tanpa diskriminasi sektor protokol ketat. Namun, usaha dengan kontak fisik (salon dan spa) belum boleh beroperasi.

Fase III (15 Juni),
Toko, pasar, dan mall tetap seperti fase II, tetapi ada evaluasi pembukaan salon dan spa. Pemerintah membuka sekolah, tetapi dengan jumlah terbatas.

Fase IV (6 Juli),
Pemerintah membuka kegiatan ekonomi seperti di fase III dengan tambahan evaluasi untuk pembukaan restoran, kafe, gym, dan dibolehkannya perjalanan ke luar kota dengan pembatasan jumlah penerbangan.

Fase V (20 dan 27 Juli),
Evaluasi fase IV dan pembukaan tempat-tempat kegiatan ekonomi dan sosial dalam skala besar. Akhir Juli atau awal Agustus, pemerintah berharap seluruh kegiatan ekonomi dibuka kembali.

R Segara
%d blogger menyukai ini: