Turis Di Bali Terjebak Tak Bisa Pulang Karena Pandemi Corona

Dampak dari ditutupnya penerbangan di berbagai wilayah di Indonesia akibat virus corona sampai berimbas pada industri pariwisata.

Pasalnya, ketika industri pariwisata berhenti bergerak, maka berdampak pada ekonomi dan banyak sektor lain di Bali. Pariwisata merupakan tulang punggung ekonomi Bali. Menurut data Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali, pertumbuhan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada bulan April 2020 dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2019 lalu, menurun hampir 100 persen.

Bambang Soetanto, Ketua Umum PUTRI menyebutkan bahkan saat ini pendapatan menurun hampir mendekati nol.

“Akibat COVID-19, pendapatan menurun mendekati nol. Kami tidak muluk-muluk, hanya mengharapkan bantuan Pemerintah agar objek wisata yang dikelola bisa tetap eksis, terawat, terjaga, sembari kami melakukan efisiensi,” ujar Ketua Umum Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Bambang Soetanto pada Industry Roundtable Tourism and Hospitality Industry Perspective.

Bambang melanjutkan insentif pemerintah kepada para pengelola objek wisata sangatlah dibutuhkan, baik dalam bentuk keringanan kredit pajak, THR, listrik air, bahkan sembako.

Tak hanya itu, mitigasi pemerintah juga menentukan keberlangsungan operasional objek wisata. Bambang menilai hal tersebut penting, sebab objek wisata juga turut mengelola pelestarian kebudayaan, kesenian, hingga keasrian alam.

“Kami sudah bersurat dengan semua DPD, untuk mensosialisasikan bagaimana menjaga keselamatan dan kesehatan, mempertahankan kebudayaan dan kreatifitas, hingga efisiensi produktifitas sampai nanti beroperasi lagi. Ini saatnya bekerjasama di saat sulit, mengajak PUTRI untuk bergerak bersama,” lanjutnya.

Sementara itu, Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) turut mengungkapkan dampak COVID-19 cukup besar. Penurunan 3% saja di industri pariwisata bisa mematikan 1.000 sampai 5.000 travel agent di Indonesia.

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Sukawati membandingkan kejadian COVID-19 dengan kejadian bom Bali pada 2002 dan 2005 lalu. Saat itu, walau jumlah kunjungan menurun tetapi tidak sampai mematikan ekonomi terutama pengusaha UKM pendukung pariwisata karena saat itu yang sangat terdampak adalah pengusaha besar.

“Sektor informalnya masih berjalan. Sekarang berbeda,” ujar Tjokorda. Ketua GIPI Bali, Ida Bagus Okanentru Agung Partha mengatakan bahwa sebenarnya Bali tetap memiliki modal yang cukup bagus ketika industri pariwisata akan kembali bangkit setelah pandemi ini berakhir. Pasalnya, jumlah kasus di Bali tidak sebesar di wilayah lain.

Selain itu, tingkat kematian juga terhitung rendah dengan tingkat kesembuhan yang cukup tinggi. “Di Bali terhitung bagus penanganannya. Tingkat kesembuhannya sekitar 30 persen, di atas rata-rata dunia yang sebesar 26 persen. Sementara kematian hanya 2 persen, di bawah rata-rata dunia yang 6 persen. Itu jadi modal bagus untuk dipromosikan bahwa sistem mitigasi Bali berjalan sangat baik,” jelasnya.

Hermawan Kartajaya, Founder dan Chairman MarkPlus, Inc. mengatakan bahwa Bali memang jadi contoh bagus dalam mengombinasikan God, people, dan nature dalam sektor pariwisata. Ia juga menganggap bahwa setelah COVID-19 berakhir, akan semakin banyak wisatawan yang menuntut pariwisata tidak hanya dari segi harga, tetapi juga keberlangsungan lingkungan di destinasi tujuan.

Wisatawan akan menginginkan destinasi berkualitas dengan alam dan keamanan lebih baik dengan sistem mitigasi yang juga baik. Hal-hal itu bisa tercapai dengan mengombinasikan unsur God, people, dan nature yang sudah dimiliki Bali tersebut. “Kalau bicara bertahan atau surviving itu sudah pasti. Sekarang tinggal bicara preparing atau mempersiapkan ketika wisatawan kembali setelah COVID-19.

Bali jadi contoh dan punya ketahanan,” katanya. Menurutnya, tak hanya Bali tetapi juga daerah-daerah lain di Indonesia juga melakukan persiapan dan mulai sadar bahwa pariwisata adalah penggerak ekonomi.

Yuanita R Silalahi
%d blogger menyukai ini: