Efek Corona Sebabkam Banyak Hotel Yang DiJual

Sejumlah hotel mewah di berbagai lokasi strategis di Jakarta ditawarkan untuk dijual, yakni di e-commerce barang beli bekas. Informasi ini beredar di tengah merebaknya wabah Corona yang telah memukul berbagai kegiatan bisnis di Indonesia, termasuk hotel.

“Kalau saya perhatikan ya star hotel ya. Star hotel saya lihat cukup banyak juga ya yang mulai menjual,” ujar Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia, Maulana.

Dia menjelaskan ada pengusaha hotel yang sudah mulai menjual propertinya sebelum ada COVID-19. Namun adanya pandemi tersebut memang membuat makin banyak pengusaha yang memutuskan menjual asetnya itu.

“Tidak bisa juga dipungkiri bahwa kondisi saat ini juga ya kan, daya tahan dari pada masing-masing pelaku itu berbeda-beda ya. Apalagi kondisi pandemi ini tidak bisa kita prediksi,” jelasnya.

Salah satunya hotel bintang empat di kawasan TB Simatupang yang dijual dengan pembukaan harga Rp 950 miliar atau US$ 68 juta. Penjual di iklan tersebut menerangkan ada sejumlah fasilitas yang diberikan, mulai dari 12 Meeting Rooms, Ballroom, Bar & Lounge, Specialty Restaurant, hingga 296 kamar yang terdiri dari beragam jenis.

Di dalamnya disebutkan bahwa disediakan pula garasi dengan 101 mobil & 90 motor, jumlah lantai 24 tingkat serta Luas tanah sebesar 5234 m2 dan luas bangunan sebesar 25617 m2. Termasuk sertifikat hak milik.

Kemudian di Sudirman, ada juga hotel mewah bintang 5 yang ditawarkan dengan harga mencapai Rp 2,7 triliun. Penjual menuliskan sejumlah fasilitas, di antaranya total 396 kamar, sejumlah restoran dan spa.

Di Mega Kuningan hotel bintang 5 dijual dengan harga Rp 2,25 triliun. Disebutkan sejumlah fasilitas, yakni 333 ruangan, fasilitas olahraga dengan sertifikat berjenis Hak Guna Bangunan (HGB) hingga tahun 2036 mendatang.

Saat ini okupansi hotel tinggal di bawah satu digit atau di bawah 10%. Sedang beban operasional hotel terus berjalan sehingga menyulitkan keuangan perusahaan. Belum lagi mereka dibebankan oleh kredit perbankan.

“Contohnya walaupun (hotel) itu ditutup kan dia tetap jalan, kayak PLN, kita mesti tetap harus bayar, hal-hal tertentu kita masih ada operation. Jadi bukan berarti kita nggak keluar biaya. Jadi diam pun dia ada biaya. nggak bisa 0. Apalagi pelaku usaha yang punya kewajiban bank ya,” terangnya.

Pandemi COVID-19 pun tak pandang bulu. Hotel berbintang yang kelihatan berdiri kokoh justru terdampak paling parah. Untuk itu pihaknya berharap mendapatkan keringanan.

“Justru mereka (hotel berbintang) bebannya lebih besar lagi. Bayangkan listrik ya, listrik itu kan kita mintanya cuma pemakaian beban minimum. Biaya minimumnya. Nah PLN itu kan nggak kita minta gratis. Nggak ada statement kita kita minta digratisin. Tapi kita mintanya biaya hidup minimumnya itu dihilangkan karena kita nggak bakal pakai maksimum saat ini dengan okupansi kita di single digit,” tambahnya.

Salah satu contoh adalah hotel berbintang di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan yang menyertakan jumlah ruangan sebanyak 333 dan luas 62.803 m², tertera harga Rp 3,5 triliun yang ingin membeli.

Berikutnya ada hotel berbintang di kawasan Sudirman, Jakarta yang diiklankan dengan harga Rp 2,7 triliun. Pada iklan tersebut terdapat keterangan jumlah kamar, yaitu superior 211 ruangan, deluxe 88 ruangan, junior 8 ruangan, executive suite 15 ruangan, diplomatic suite 7 ruangan, dan presidential suite 1 Room. Luas totalnya 35.000 m².

Contoh terakhir adalah hotel ternama di kawasan, Menteng, Jakarta Pusat yang berisi keterangan memiliki 325 ruangan dan luas 29.994 m². Harga yang terpampang adalah Rp 1,5 triliun.

R Segara
%d blogger menyukai ini: