Pendidikan Indonesia di Tengah Pandemi Corona

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) baru-baru ini menerima sekitar 200-an pengaduan terkait Kegiatan Belajar Mengajar di rumah, selama pandemi virus corona. Salah satu soal yang diadukan adalah proses belajar mengajar yang tidak berjalan dua arah, antara murid dan guru. Masih banyak guru yang mengaku bingung mengelola pembelajaran jarak jauh. Ragam media yang ada juga tidak dimanfaatkan sebagai alternatif belajar. Di sisi lain, sebagian siswa dengan orang tua berpenghasilan harian, terkendala biaya kuota internet—belum lagi tidak semua keluarga memiliki gawai yang memadai.

Bagi Pengamat pendidikan dari Center of Education Regulations and Development Analysis (CERDAS) Indra Charismiadji, fenomena ini menunjukkan masih gagapnya system pendidikan kita selama Pandemi Corona. Menurut Indra, berbagai kendala pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang ada di tengah wabah virus corona, membuktikan bahwa pendidikan di Indonesia ketinggalan zaman. Dia menilai sektor pendidikan Indonesia tak siap menghadapi abad 21.

Karena dalam pandangannya, dampak krisis pandemi corona yang dialami sektor pendidikan bukan berarti pemerintah harus membuat kurikulum darurat corona seperti yang dikehendaki Mendikbud Nadiem Makarim. Mestinya, kurikulum sekarang sebenarnya bisa diberdayakan untuk pembelajaran jarak jauh. Namun yang menjadi kendala, adalah kemampuan dan pemahaman tenaga pendidik, serta keterbatasan fasilitas. Guru belum memaksimalkan kurikulum dalam mengajar di sekolah.

Namun sejumlah orang tua murid mengaku kesulitan untuk memantau proses belajar anaknya di rumah, terutama bagi mereka yang juga bekerja di rumah. Salah satu orang tua murid, Anandatie Augustiasih mengatakan, informasi seputar sistem pemindahan proses belajar mengajar dari sekolah ke rumah belum komprehensif.

”Yang saya pelajari hanya sekolah bertaraf internasional saja yang menerapkan disiplin dan online class dengan waktu yang sesuai schedule. Kalau yang skala nasional tidak ada, malah dikembalikan ke orang tua. Padahal orang tua ada kendala wfh (work from home) juga jadi tidak bisa memantau dengan baik,” kata Anandatie.

Hal senada diungkapkan oleh orang tua murid asal Makassar, Lina Herlina yang telah mendampingi anaknya belajar di rumah selama setidaknya dua minggu. Menurutnya kualitas pendidikan anak bergantung pada kualitas pengajar. Ia memberi contoh ada guru yang mampu mengirimkan video contoh mata pelajaran untuk dikerjakan anaknya di rumah, dan ada yang hanya bisa menjelaskan tugas, lalu meminta murid tersebut mengerjakannya.

“Akhirnya anak hanya mengerjakan dan tidak mengerti apa yang dimaksud. Harusnya kan di era seperti ini, di era digital, kualitas guru juga harus memadai,” katanya.

Belum lagi kendala teknis, seperti yang dialami orang tua murid asal Magelang, Aminatun, ketika telepon genggamnya rusak dan tidak punya kuota internet.

Kepada DW Indonesia, pengamat pendidikan Budi Trikorayanto mengatakan bahwa orang tua harus mencari cara efektif untuk proses belajar di rumah, mengingat sebelumnya proses belajar mengajar dilakukan guru dan murid di sekolah.

”Orang tua sebenarnya juga harus dibimbing, jadi belajar secara jarak jauh, belajar mandiri itu harus berorientasi terutama kepada minat dan bakat anak, pada konteks setempat, pada lingkungan anak. Jadi bukan berorientasi pada standar kompetensi yang harus mereka lalui sesuai standar kurikulum, bukan itu,” ujar Budi kepada DW Indonesia.

Budi menambahkan, mengacu pada Surat Edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), proses belajar tidak lagi terpaku pada target kurikulum kenaikan kelas. Menurutnya hal ini masih sulit diterjemahkan oleh guru yang kebanyakan masih melihat kompetensi dasar yang harus dipelajari anak.

Tapi Budi menilai situasi dan kondisi pendidikan di tengah pandemi COVID-19 telah membuka mata banyak orang bahwa arah pendidikan harus menuju sistem edukasi 4.0, yakni pendidikan jarak jauh yang tidak lagi terikat pada standar kurikulum, melainkan pengembangan minat dan bakat anak murid dan memerdekakan proses belajar.

”Jadi kita akan melihat perubahan yang sangat besar dalam dunia pendidikan, yang memerdekakan belajar, dan membebaskan. Akan timbul kekacauan sebagai proses belajar dari perubahan itu, dan memang terus berlanjut. Namun demikian tuntutan zaman kan memang ke arah sana (edukasi 4.0),” jelas Budi kepada DW Indonesia.

R Segara
%d blogger menyukai ini: